Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
204. Peninggalan dari kakek.


Setelah selesai makan rujak bahkan harus ikut memanjat pohon karena ulah anak yang ada dalam kandungan Via, akhirnya Alena dan Bagas saling mengobrol dengan Via dan Rian.


"Alena, nanti kamu kalau ngidam jangan aneh-aneh ya sayang!!" pinta Bagas.


Rian dan Via saling lempar tawa.


"Haduh dasar halu, kalian saja belum menikah udah bicarain ngidam saja!!" protes Rian.


Alena hanya tersenyum sambil membayangkan kalau dirinya hamil nanti bagaimana?


"jika aku hamil nanti apakah aku juga akan mengidam aneh-aneh? pasti itu nanti itu akan lucu!!" guman Alena sambil tertawa.


Sekarang Via, Rian dan Bagas saling menatap bingung pada Alena.


"Alena!! apa yang kamu tertawakan?" tanya Via ingin tau.


Alena tersenyum malu pada semuanya.


"Hanya membayangkan ketika aku ngidam nanti!!" jawab Alena jujur.


"Alena, kamu ngidam yang aneh-aneh saja!! biar Bagas kuwalahan!!" ucap Rian penuh kemenangan.


"Sayang, asal jangan suruh aku memanjat pohon mangga tetangga aja sayang" ledek Bagas, sambil menatap Rian jail.


Rian hanya tertawa sambil mengelus perut istrinya yang masih rata.


"Sayang, apapun yang kamu mau papa turuti nak!!" jawab Rian tidak mau kalah.


Alena melihat jam tangannya dan ternyata sudah jam 3 sore.


"Bagas, ayo kita pulang sudah sore!!" ajak Alena.


"Iya sayang kita pulang sekarang!! atau aku akan disuruh memanjat pohon mangga lagi oleh tuan Rian" ledek Bagas.


"Bagas, tadi adem banget diatas pohon mangga ya!!" timpal Rian jail.


Bagas menatap Rian dengan tatapan tajam sedangkan kedua wanita yang ada disampingnya sekarang hanya saling melempar senyum.


"Via, kita pulang dulu ya atau kedua laki-laki ini tidak akan berhenti beraduh mulut" pamit Alena, yang penuh dengan sindiran.


"Iya Alena, kamu hati-hati dijalan ya" jawab Via dengan lembut.


Rian dan Bagas yang masih saling menatap tajam akhirnya terhenti, karena Alena menarik tangan Bagas untuk segera pulang.


"Sayang, ayo pulang!!" ajak Alena.


"Bagas, segeralah menyusul kita dan cepatlah buat Alena hamil" ucap Rian, sambil tersenyum jail pada Bagas.


"Iya tuan Rian, mudah-mudahan anakku tidak menyuruhku memanjat pohon mangga" ledek Bagas.


Setelah beraduh mulut akhirnya Bagas dan Alena keluar dari rumah Via dan Rian. Via dan Rian juga mengantar Alena dan Bagas ke depan rumahnya.


"Kalian hati-hati ya!!" ucap Rian dan Via.


"Siapp, tuan Rian lain kali kita lanjutkan perdebatan kita ya!!" ucap Bagas.


Rian menjitak kepala Bagas dengan pelan.


"Sudahlah, pulang sana!!" usir Rian dengan nada bercanda.


Alena dan Bagas masuk kedalam mobilnya, Bagas langsung menyalahkan mesin mobilnya dan segera melajukan mobilnya kerumah Alena untuk mengantarkan Alena pulang kerumahnya.


Dirumah Rama.


Ana dan Rama sedang berada diruang makan, hari ini Ana makan banyak karena sekarang Ana sudah mulai sering lapar.


Rama yang melihat istrinya makan dengan banyak itu membuatnya begitu senang.


"Sekarang kamu makan tidak hanya untukmu saja!! tapi untuk anak kita sayang, tubuhmu yang sekarang sudah mulai berisi membuatku merasa sangat gemas" guman Rama yang merasa senang.


"Rama!! panggil Ana.


"Iya sayang?" jawab Rama.


"Aku masih lapar" ucap Ana pelan.


Rama tersenyum pada istrinya.


"Mau aku kupaskan buah-buahan?" tanya Rama dengan nada lembut.


"Aku mau sayang!!" jawab Ana manja.


Rama bangun dari tempat duduknya dan langsung menuju ke dapur untuk mengupas buah untuk istrinya.


Rama mengambil berbagi macam buah dari kulkas, Rama mencuci buah-buahan tersebut dan langsung mengupasnya, Rama memotong-motong buah tersebut.


Rama datang menghampiri istrinya yang masih duduk dikursi meja makan dengan membawa satu piring buah yang sudah dikupas.


"Sayang, makanlah" ucap Rama, sambil menaruh buah yang ada dipiring dimeja depan Ana duduk.


"Sayang terimakasih" ucap Ana dengan senyum bahagianya.


Ana menyuapkan buah kemulutnya, Rama hanya melihat Ana dengan senyum manisnya.


"Sayang, makanlah!!" suruh Ana, sambil menyuapkan buah kemulutnya Rama.


Rama menerima suapan dari tangan Ana.


Rehan tiba-tiba datang dari kamarnya.


"Cie.. suap-suapan!!" ledek Rehan.


"Kakak ipar aku mau disuapin juga!!" rengek Rehan dengan jail.


Rama menatap adiknya dengan tatapan penuh kekesalan.


"Kamu kan punya tangan Rehan, makan sendiri saja!!" kesal Rama dengan tatapan tajam.


"Aku maunya disuapin kakak ipar saja" ledek Rehan semakin jail.


Ana tersenyum pada kedua laki-laki yang ada didepannya yang tidak lain adalah satu suaminya dan satunya lagi adik iparnya.


"Rama, sudahlah hentikan!!" lereh Ana dengan nada lembut, agar Rama tidak melanjutkan perdebatan kecilnya lagi dengan adiknya.


"Rehan, kemarilah!!" panggil Ana.


Rehan dengan senang hati menghampiri Ana dan sekarang Rehan duduk disamping Ana.


Ana menyupkan buah ke mulut Rehan, Rama natap dengan wajah penuh kekesalan.


"Sayang, apa kamu cemburu?"tanya Ana, yang melihat suaminya dengan tatapan kesal.


"Tidak hanya kesal saja Rehan sangat menggangu sekali" aduh Rama pada Ana.


"Sayang, Rehan itu adalah adikmu!! sebentar lagi Rehan akan menikah, nanti pasti kamu akan sering merindukan Rehan kalau Rehan sudah tinggal bersama istrinya!!" ucap Ana pada Rama.


"Benar, nanti kak Rama pasti akan merindukanku!!" timpal Rehan.


Akhirnya Rama dan Rehan menghentikan perdebatannya, sekarang mereka bertiga sedang menonton televisi bersama setelah selesai drama makan buah.


Bagas dan Alena.


Bagas sudah sampai dirumah Alena, kini mereka berdua sedang duduk ruang tamu.


"Bagas, pernikahan kita tinggal satu minggu lagi!!" ucap Alena senang.


"Iya sayang, semuanya sudah siap undangan juga sudah disebar" jawab Bagas.


Alena meninggalkan Bagas yang sedang duduk.


"Kamu mau kemana?" tanya Bagas, yang melihat Alena pergi meninggalkan dirinya yang sedang duduk.


Alena pergi ke kamarnya dan mengambil sebuah benda yang akan diberikan kepada Bagas.


Setelah beberapa saat, Alena keluar dari kamarnya dengan membawa benda yang tadi diambil di dalam kamarnya.


Alena menghampiri Bagas dan memberikan benda yang masih ada dalam kotak itu ke pada Bagas.


"Ini apa?" tanya Bagas penasaran.


"Itu satu benda peninggalan dari kakekku dan sebelum kakek meninggal kakek memberikan itu untukku!! kata kakek nanti berikan ini pada laki-laki yang akan menjadi suamimu ya nak!!" ucap Alena, menjelaskan tentang benda itu.


Bagas membuka benda peninggalan dari kakeknya Alena dan ternyata itu sebuah jam tangan bermerek dengan harga yang sangat mahal.


"Alena!!" ucap Bagas kaget.


Alena yang tau Bagas merasa kaget dengan peninggalan dari kakeknya.


"Bagas, itu untukmu!! jagalah benda itu dengan baik ya!!" pinta Alena dengan nada lembut.


Bagas tersenyum pada Alena.


"Kakek aku akan akan menjaga benda ini dengan baik!! aku juga akan menjaga cucu kakek dengan baik!!" ucap Bagas pada benda pemberian kakek.


Alena tertawa.


"Kamu sangat pintar sayang, bahkan jam tangan pun kamu ajak bicara!!" ledek Alena, yang melihat Bagas bicara dengan benda pemberian dari kakeknya.


Bersambung