Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
373.Raniah nakal S2.


David membelai-belai pipi Niah, lalu mencium keningnya dengan penuh kehangatan.


"Istriku apa aku boleh menjenguk anak kita di dalam sana?" David tersenyum mesum pada Istrinya.


"Suamiku.....!!"


"Jangan menolakku, kita sudah lama tidak melakukannya dan kamu tahu adik kecilku ini sudah meronta-ronta meminta dipuaskan." David tersenyum pada istrinya, kini ia sudah berada tepat di atas tubuh istrinya.


"Haruskah kita melakukannya? Apa boleh kan aku sedang hamil muda?" Tanya Niah sebelum suaminya melanjutkan aksinya.


"Kenapa tidak? Bukankah kata dokter itu lebih bagus." Jawab David sambil membelai rambut Niah dengan tangannya.


"Aku tidak tahu suamiku." Niah tersenyum pada suaminya.


"Maka malam ini biarkan aku menjenguk calon anak kita, biar kamu tahu." Goda David yang langsung mendaratkan bibirnya tepat dibibir Niah.


Perlahan-lahan Niah menerima ciuman dari suaminya, Niah mengangkat sedikit tubuhnya membuat David menjatuhkan tubuhnya tepat disamping istrinya.


Dan malam ini Niah yang begitu polos berubah menjadi singa jantan yang galak.


"Sayang kamu mau apa?" Tanya David yang melihat istrinya sudah naik di atas tubuhnya.


"Tentu saja aku mau kamu suamiku." Niah tersenyum agak genit, membuat David tidak percaya.


"Kamu tidak akan bisa jika berada di atas, sebaiknya kamu dibawah saja, Kamu nikmati permainanku saja sayang!" Pinta David tapi Niah malah menggelengkan kepalanya.


Niah memulai aksinya, malam ini ia begitu nakal pada suaminya belai demi belain ia lakukan untuk merasang suaminya.


Mereka melakukan ciuman panas mereka, sambil menanggalkan pakaian mereka masing-masing dan membuangnya kesembarang tempat.


Biasanya kalau David yang diatas pasti banyak aksi yang ia lakukan, ini istrinya yang diatas jadi ia hanya menikmati permainan istrinya dan membiarkan istrinya bermain semaunya.


Kini keduanya sudah polos tanpa sehelai benang, tanpa menunggu persetujuan dari suaminya, Niah langsung mengarahkan miliknya ke milik suaminya dan ia langsung menggoyangkan pinggulnya agak kencang membuat suaminya terus mendesah penuh kenikmatan.


"Sayang lakukan dengan lembut!" Pinta David, Niah memperlembut permainan dan terus menggoyangkan pinggulnya, membuat David merasakan kenikmatan yang luar biasa.


"Ahh Niah ternyata kamu sudah mulai mulai pandai." Rintih David dalam hatinya.


Setelah beberapa lama akhirnya keduanya sama-sama mencapai puncaknya, Niah yang merasa lemas langsung menjatuhkan tubuh mungilnya disamping suaminya.


"Kamu mau lagi sayang? Milikku masih mau," David kembali menggoda sang istri.


"Capek, lain kali aku maunya dibawa saja." Tolak Niah yang menunjukkan wajah lelahnya pada suaminya.


David tersenyum lalu mencium kening istrinya dengan penuh kehangatan.


"Aku mencintaimu istriku." David memeluk Niah dengan penuh cinta.


Malam ini Niah beraksi dengan begitu panas, sungguh malam ini David dibuat kelimpungan oleh sang istri. Biarpun permainan istrinya tidak sehebat dirinya tapi David bahagia karena istrinya berinsiatif untuk memuaskan dirinya dengan caranya.


Niah langsung memejamkan matanya karena merasa sangat lelah, sedangkan David masih asik bermain dengan gunung kembar sang istri karena tadi belum sempat menghisapnya bahkan mengulumnya.


Niah sadar suaminya sedang memainkan gunung kembarnya, tapi Niah terus memejamkan matanya karena sudah sangat mengantuk.


"Kelak ini akan menjadi milikmu nak, jadi sebelum kamu lahir biarkan papa menikmati dulu nak." David terus menyusu seperti seorang bayi.


Malam semakin larut, David juga sudah sangat mengantuk akhirnya ia memejamkan matanya.


.


.


Jam menunjukkan pukul 7 pagi, Niah baru saja bangun sedangkan David sudah rapi dengan setelan jas warna hitamnya.


"Jam berapa sekarang?" Tanya Niah sambil menguap.


"Sudah jam 7, oh iya istriku kamu dirumah Mama dulu ya. Nanti pulang kerja baru aku jemput lagi." Jawab David, ia duduk ditepi ranjang lalu mencium kening istrinya.


"Kamu tidur lagi saja! Aku nanti sarapan di kantor." David tersenyum, ia tahu pasti istrinya masih sangat lelah gara-gara aksinya semalam.


Niah menganggukan kepalanya, sedangkan David berlalu pergi dari hadapan Niah.


.


.


Dimeja makan sudah ada Ana dan Rama, Karena Kevin sudah berangkat dari tadi pagi jam 6.


"Selamat pagi mama, papa." Sapa David dengan begitu sopan.


"Selamat pagi nak, sarapan dulu!" Jawab Ana dan Rama dengan begitu kompak, membuat anak menantunya tersenyum simpul.


"Mama dan papa, mereka sangat romantis dan mesra biarpun mereka sudah tua, tapi aku salut cinta mereka tidak pernah pudar." Batin David dalam hatinya.


"Tidak usah ma, aku sarapan di kantor saja." Tolak David dengan sopan.


David menolak untuk sarapan karena ia ada mitting pagi ini, dan salahnya ia bangun kesiangan gara-gara semalam bergadang sama istrinya.


David berpamitan kepada kedua mertuanya, setelah berpamitan ia langsung pergi menuju ke kantornya.


.


.


Sesampainya dikantor, Randi sudah senyam-senyum sendiri di ambang pintu ruangannya.


David menghentikan langkah kakinya tepat dihadapan Randi, membuat Randi agak terkejut.


"Apa yang membuatmu tersenyum seperti orang gila?" Tanya David pada Randi.


"Saya hanya melihat wajah tuan yang semakin hari, semakin bersinar." Randi tersenyum jail pada David.


"Dasar kamu ini, cepatlah menikah agar kamu tahu rasanya bagaimana punya istri." David mengedipkan satu matanya, memuat Randi menatapnya dengan tatapan jijik.


"Sungguh Tuan David setelah punya istri, dia semakin menjadi gilanya." Randi tertawa dalam hatinya.


"Bos cepatlah keruang mitting, di dalam sana kliennya cantik sekali." Randi mengalihkan pembicaraan sang bos.


"Memangnya kalau cantik, aku harus apa bodoh? Aku sudah punya istri dan sudah mau punya anak." Batin David dalam hatinya.


.


.


David dan Randi langsung pergi menuju keruang metting.


Sesampainya diruang metting, benar apa kata Randi klien hari ini begitu cantik.


David dan Randi fokus dengan mitting mereka hari ini, setelah selesai mitting David langsung kembali keruangannya, Randi juga langsung kembali keruangannya.


.


.


Kenan dan Ralinsyah.


Jam menunjukkan pukul 12 siang, mata Kenan tertuju pada satu arah dan ia melihat Ralin datang ke kantornya.


"Ralin..." Panggil Kenan dengan nada lembut.


"Calon suamiku," Ralin langsung menujukan senyum termanisnya.


Kenan berjalan menghampiri Ralin, lalu mengajak Ralin masuk ke dalam ruangannya.


Sesampainya diruangan kerjanya, Kenan menyuruh Ralin duduk di sofa yang ada di ruangannya.


"Tumben datang ke kantor?" Kenan merebahkan kepalanya di bahu Ralin.


"Apa kamu sangat lelah? Aku datang kesini aku membawakan makan siang untukmu." Jawab Ralin sambil memegang tangan Kenan dengan lembut.


"Makan siang, mudah-mudahan dia tidak masak sendiri kalau dia masak sendiri aish pasti rasanya tidak karuan." Batin Kenan dalam hatinya.


"Aku tidak lelah, aku hanya ingin bermanja-manjaan dengan calon istriku. Oh iya kamu masak sendiri?" Tanya Kenan dengan nada lembut.


"Iya aku masak sendiri calon suamiku." Ralin tersenyum bahagia, membuat Kenan tidak tega kalau ia tidak menghabiskan makan siang yang calon istrinya buatkan untuk dirinya.


Kenan membenarkan posisi duduknya, lalu membuka makan siang yang Ralin bawa untuk dirinya.


Siang ini Ralin membuatkan cumi asam pedas manis untuk calon suaminya, ia juga membuatkan udang tepung untuk calon suaminya.


"Aku makan ya!" Kenan tersenyum manis.


"Mudah-mudahan rasanya enak, aku tahu Ralin itu tidak bisa memasak." Batin Kenan dalam hatinya.


Kenan menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya, dan ternyata rasanya asin sekali. Tapi Kenan berusaha menghabiskan makanan yang calon istrinya itu bawa, meskipun rasanya sangat asin tapi Kenan terus memakannya.


"Apa rasanya enak?" Tanya Ralin dengan begitu menggemaskan.


"Enak sayang," Jawab Kenan dengan senyum terpaksanya.


"Sungguh? Aku juga mau mencoba." Takon tersenyum dan hendak mengambil udang tepung yang ada di dalam kotak bekal, tapi dengan cepat Kenan menyingkirkan tangan Ralin agar tidak sampai mengambilnya.


"Tidak boleh ini semua milikku!" Kenan sengaja mengatakannya karena tidak mau ketahuan berbohong pada calon istrinya itu.


"Jika gadis bawel ini sampai tahu aku berbohong, masakan asin seperti ini dibilang enak, pasti dia akan menjambak rambutku sekencang mungkin." Kenan tertawa dalam hatinya.


Akhirnya Ralin hanya memperhatikan calon suaminya itu menikmati makanan yang ia buat. Kenan terus memakan makanan tersebut biarpun rasanya asin, tapi demi cintanya pada Ralinsyah, ia tidak mengenal rasa asin itu semua makanan dihabiskan oleh dirinya tanpa tersisa sedikitpun.


.


.


Kevin dan Valin.


Kevin dan Valin sedang berada diruangan Kevin, Kevin ia sedang sibuk dengan laptopnya sedangkan Valin sedang sibuk dengan kertas-kertas yang penuh dengan tulisan.


"Hay kau gadis lemot!" Panggil Kevin sambil melihat Valin yang sedang duduk di sofa, yang ada diruangannya.


Valin menoleh kearah Kevin, dengan tatapan kesal Valin memaksakan untuk tersenyum.


"Tuan Kevin, mulai sekarang panggil namaku dengan benar! Atau aku tidak mau menikah denganmu." Valin menjulurkan lidahnya, dan memberikan ancaman pada Kevin.


Dalam hati Kevin, dasar tukang mengancam untung aku sudah mulai menyukainya.


"Baiklah, kemarilah calon istriku." Panggil Kevin dengan nada lembut.


Valin berjalan menuju ke meja kerja Kevin.


"Kenapa hanya disitu? Mendekatlah!" Pinta Kevin dengan senyum manisnya.


Dengan raut wajah kesal, Valin berjalan mendekat ke tempat Kevin duduk. Kevin tersenyum lalu tiba-tiba menarik tangan Valin dengan lembut sehingga Valin terjatuh tepat dipangkuannya.


Valin menatap Kevin dengan tatapan malu-malu, tapi Kevin malah tersenyum dengan manis.


"Kamu mau apa?" Tanya Valin karena Kevin sudah mendekatkan wajahnya, kini wajah mereka sudah sangat dekat dan hanya berjarak 1 centi saja.


Valin mulai memejamkan matanya.


"Apa dia akan menciumku seperti malam itu lagi?" Pikiran Valin sudah traveling kemana-mana.


Hampir saja mereka berciuman, tiba-tiba pintu ruangan Kevin ada yang membukanya.


"Kevin......." Panggilnya.


BERSAMBUNG 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊