
"Nanti habis makan malam kita kumpul diruang keluarga ya!" Pinta Ana dengan nada lembut.
David dan Niah saling menatap, lalu menganggukan kepalanya. Ntah apa yang akan Ana bahas nanti malam?
.
.
Setelah obralan selesei Ana dan Rama masuk ke dalam kamar, Niah dan David masuk ke dalam kamar mereka.
Sesampainya dikamar, David duduk ditepi ranjang sambil melepaskan sepatunya.
"Bagaimana, apa boleh kita lanjutkan pertengkaran kita?" Tanya David pada Niah.
Niah yang sedang duduk dikursi meja rias, mengalihkan pandangannya dan kini ia melihat suaminya yang sedang sibuk melepaskan sepatunya.
"Haruskah kita kembali bertengkar? Aku minta maaf suamiku, aku sudah berbohong padamu." Niah beranjak dari tempat duduknya lalu ia berjalan menghampiri suaminya.
Niah beglendotan di bahu kekar suaminya, ia memegang tangan suaminya dengan begitu genit. David hanya bisa menyembunyikan senyum bahagianya.
"Apa seperti ini, Niah membujukku agar aku tidak marah padanya lagi?" Gumam David dalam hatinya.
"Kenapa harus berbohong?" Tanya David sambil membenarkan posisi istrinya, kini mereka sudah saling bertatap muka.
"Aku takut kamu marah, kamu kan cemburu sekali kalau dengan Vano." Jelas Niah dengan begitu manja, membuat David merasa gemas.
"Bagaimana aku tidak cemburu, kamu sadar tidak sih? Sorot mata Vano selama ini itu menunjukkan kalau dia menyukaimu." Mata David terus tertuju pada wajah cantik Niah, ia membenarkan rambut istrinya lalu menyisipkan ke belakang telinganya.
Niah hanya diam, karena memang selama ini ia tidak pernah tahu kalau Vano itu menyukai dirinya.
"Sudahlah, jangan membahas masalah Vano! Kalau dia menyukaiku kenapa dia tidak jujur padaku dari dulu? Jadi aku kan tidak harus menerima perjodohan ini." Niah mengrucutkan bibirnya, sedangkan David rasanya ingin mencabik-cabik mulut istrinya.
"Dia bilang apa? Sudah mau punya anak dan Sekarang ia berani mengatakan hal seperti itu dihadapan suaminya?" Batin David dalam hatinya.
"Oh jadi kamu tidak senang dengan Perjodohan kita dulu?" David mengalihkan tatapannya, kali ini ia enggan menatap wajah cantik istrinya.
"Tentu saja tidak, kamu juga dulu mau kan menerima perjodohan ini. Sampai-sampai kamu membuat perjanjian konyol dan akhirnya kamu juga yang merobek kertas perjanjian itu." Niah mengeluarkan tawanya, David merasa kesal sekali karena setelah mengatakan hal yang menyebalkan, sekarang Niah malah meledek suaminya.
"Suamiku, sudahlah mau Vano suka dengan aku atau tidak sekarang aku sudah punya suami, aku juga sudah mau punya anak. Kita doakan saja Vano cepat bertemu dengan jodohnya!" Niah membawa suaminya ke dalam pelukannya.
Lagian kalaupun Niah tahu kalau Vano menyukainya buat apa? Ia sudah menikah dan sebentar lagi ia akan punya anak jadi yang dipikirkan Niah hanya rumah tangganya saja.
"Aku dan Vano memang tidak berjodoh, jodohku itu kamu jadi aku bisa apa?" Kata Niah disela-sela pelukannya.
David mendongkakkan kepalanya, lalu melepaskan dirinya dari pelukan istrinya, kini tangannya sudah memegang kedua pipi Niah ia mendekatkan wajahnya ke wajah Niah, lalu mencium bibir mungil Niah dengan lembut.
Niah hanya menikmati ciuman dari suaminya, ia berharap setelah berciuman suaminya tidak kesal lagi pada dirinya.
Setelah beberapa lama, David melepaskan ciumannya dari bibir istrinya.
"Apa kamu masih marah?" Tanya Niah dengan nada lembut.
"Apa kamu mencintaiku?" Bukannya menjawab pertanyaan dari istrinya, David malah balik bertanya.
"Tentu saja, aku mencintai suamiku." Niah mengembangkan senyum termanisnya.
"Sekarang kamu mau pergi mandi aku mandiin kamu?" Goda Niah dengan jail.
"Aku mau dimandiin sama istriku tercinta." Jawab David dengan begitu manja.
.
.
Akhirnya Niah kena senjata makan tuan, ia harus memandikan suaminya seperti bayi, dengan telaten ia mengosok-gosok punggung suaminya dan memijat bahu suaminya.
Hari ini David bagaikan raja yang sedang dilayani oleh permaisurinya.
Setelah selesai mandi, Niah juga membantu suaminya berganti pakaian.
"Sudah selesai, kamu mau makan tidak?" Tanya Niah dengan nada lembut.
"Nanti saja sayang, sekalian makan malam. Oh iya mama dan papa nanti malam mau membicarakan apa ya?" David menatap wajah cantik Niah, kini mereka sudah duduk di sofa yang ada kamar Niah, sambil menonton televisi.
"Ntahlah, aku juga tidak tahu." Jawab Niah sambil menggelengkan kepalanya.
.
.
.
"Kevin belum pulang ma?" Tanya Niah pada mamanya.
"Belum nak, lagi jalan pulang katanya tadi sudah mama telpon." Jawab Ana sambil menatap Niah dengan senyum bahagianya.
"Niah, kamu makanlah yang banyak biar calon cucu papa sehat." Kata Rama, sambil menaruh ayam goreng dipiring makan Niah.
.
.
10 menit kemudian, Kevin pulang bersama dengan Valin dan mereka berdua langsung ikut bergabung dimeja makan.
Sebelum duduk, Valin menyalami tangan kedua calon mertuanya, lalu menyalami kedua calon kakak iparnya.
"Kalian makan malam dulu! Nanti setelah makan malam ada yang mau mama dan papa bicarakan." Kata Ana dengan nada lembut.
Karena Ana, Rama, Niah dan David sudah selesai makan. Mereka pergi keruang kekuarga dan menunggu Valin dan Kevin yang sedang menikmati makan malam mereka.
Dimeja makan.
Kevin melihat kearah Valin, lalu Valin membalas melihat Kevin.
"Ambilkan nasi dan lauk untuk calon suamimu!" Suruh Kevin sambil tersenyum jail.
Karena tidak mau sampai berdebat, Valin langsung mengambilkan makanan untuk laki-laki yang akan menjadi calon suaminya itu.
"Kenapa kamu mengajakku kerumah?" Tanya Valin sambil memasukkan makanannya ke dalam mulutnya.
"Mama yang menyuruh aku mengajakmu datang kerumah, katanya ada yang mau dibicarakan." Jawab Kevin dengan nada lembut.
Tadi waktu Kevin masih dikantor, Niah menelpon Kevin katanya suruh mengajak Valin kerumah karena ada yang mau dibicarakan pada Kevin dan Valin.
.
.
Setelah selesai makan malam, Kevin dan Valin ikut bergabung duduk diruang keluarga.
"Mama apa yang mau bicarakan?" Tanya Kevin pada mamanya.
"Kevin..." panggil Rama.
"Iya pa?" Sahut Kevin, menoleh kearah Rama.
"Papa mau bertanya, apa kamu sungguh mau menikah dengan Valin?" Tanya Rama dengan begitu tegas.
"Iya pa, Kevin mau menikah dengan Valin." Jawab Kevin dengan serius.
Valin hanya menundukkan kepalanya, kali ini ia merasa gugup tapi ia juga merasa sangat bahagia.
"Ini bukan mimpikan?" Batin Valin dalam hatinya.
"Nak Valin, apa kamu juga sungguh mau menikah dengan Kevin?" Ana menatap Valin dengan sorot mata lembut.
"Iya tante, Valin mau menikah dengan Kevin." Jawab Valin dengan nada lembut.
Mendengar jawaban Valin, sungguh hati Kevin begitu bahagia.
"Apakah aku akan segera menjadi seorang suami? Dan aku tidak bisa tebar-tebar pesona lagi pada para gadis. Aku tidak mungkinkan munurunkan istriku dipingir jalan gara-gara aku mau memberikan tumpangan pada gadis-gadis cantik." Kevin tertawa dalam hatinya.
Setelah menikah, pasti kebiasaan buruk Kevin itu tidak bisa ia lakukan lagi atau Valin akan menjewer telinganya nanti.
"Baiklah, Mama dan papa sudah putuskan kalian akan menikah minggu depan." Kata Ana dengan begitu serius.
"Minggu depan?" Niah mengulangi kata-kata mamanya.
"Kevin, tinggal menghitung hari." Celetuk David yang diiringi tawa.
"Minggu depan ma?" Kevin memastikan.
"Iya minggu depan, pernikahan kalian akan dibarengkan dengan pernikahan Kenan dan Ralin." Jawab Rama dengan tegas.
Kevin menganggukan kepalanya, Valin tersenyum malu-malu.
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
Maaf ya baru up 🙏