
Setelah beberapa jam, akhirnya Dokter keluar dari ruangan. Bagas dengan cepat langsung menghampiri Dokter tersebut.
"Dok, bagaimana keadaan Istri Saya?" tanya Bagas yang terus mengeluarkan air matanya.
Dokter tersebut tersenyum pada Bagas, lalu menepuk pundak Bagas dengan tangannya.
"Dok, bagaimana dengan Istri dan Anak Saya?" tanya Bagas lagi.
"Tuan, Allah berkehendak lain." kata-kata Dokter terpotong karena Bagas.
"Dokter, katakan dengan cepat!" pinta Bagas yang tidak sabar mendengar perkataan dari Dokter.
"Aku berharap, mudah-mudahan keduanya bisa diselamatkan." Doa Bagas.
"Syukur Allahamdulillah Tuan, Istri dan Anak Tuan keduanya selamat." kata Dokter dengan senyum bahagia.
"Dengan usaha dan kerja keras team Dokter dan atas kehendak Allah SWT, akhirnya keduanya selamat." kata Dokter lagi.
Betapa bahagianya Bagas mendengar kabar bahagia dari Dokter, Bagas langsung mengucapkan rasa syukur dalam hatinya.
"Allahamdulillah keduanya selamat, Anak dan Istriku Aku sudah tidak sabar ingin melihat kalian." rasa syukur Bagas dalam hatinya.
"Terimakasih Dok, terimakasih." berulang kali Bagas mengucapkan terimakasih pada Dokter yang sudah menanggani Alena.
"Sama-sama Tuan, tunggulah sebentar Istri Tuan akan segera dibawa keruang rawat inap dan Anak Tuan nanti juga akan diberikan pada Ibunya." kata Dokter pada Bagas.
"Iya Dok, oh iya Dok Anak saya laki-laki atau perempuan." tanya Bagas ingin tahu.
Dokternya tersenyum pada Bagas, karena Dokter lupa memberi tahu jenis kelamin Anaknya pada Bagas.
"Oh iya, maaf Tuan Saya hampir saja lupa." Dokter meminta maaf pada Bagas.
"Iya Dok tidak apa-apa, terus jenis kelamin Anak saya apa Dok?" tanya Bagas lagi.
"Anak Tuan laki-laki." kata Dokter sambil menyunggingkan senyumnya.
Bagas tersenyum bahagia betapa senangnya, akhirnya Anak dan Istrinya keduanya selamat.
Dokter langsung meninggalkan Bagas, setelah beberapa lama akhirnya Alena sudah dipindahkan keruang rawat inap.
Bagas langsung menuju keruang rawat Alena untuk menemuinya, kini Alena masih terbaring diatas tempat tidur pasien dengan keadaan masih pingsan.
Dengan begitu sabarnya Bagas memegang tangan Alena, lalu mencium tangan Alena.
"Sayang cepetlah sadar! Anak kita sudah lahir." kata Bagas yang terus menciumi tangan Alena bahkan buliran air mata keluar dari matanya Bagas.
Bagas terus meneteskan air matanya.
"Kamu tahu Aku sudah takut sekali, kalian akan meninggalkanku." gumam Bagas.
Tanpa sadar Bagas tertidur sambil menggenggam tangan Alena, tiba-tiba Alena tersadar pelan-pelan Alena membuka matanya lalu memanggil Bagas.
"Bagas, Aku dimana?" tanya Alena dengan mata yang masih samar-samar.
Bagas yang mendengar suara Alena, langsung terbangun dari tidurnya, lalu bertanya pada Alena.
"Kamu sudah sadar sayang?" tanya Bagas.
"Aku dimana?" tanya Alena lagi.
"Kamu dirumah sakit, Anak Kita sudah lahir sayang." kata Bagas pada Alena.
"Mana Anak kita? Aku ingin melihatnya." tanya Alena dengan nada lirih.
Tiba-tiba Suster membuka pintu sambil menggendong bayi Alena.
"Nona Alena, Ini Anaknya Nona. Dia tampan sekali seperti Papanya." kata suster sambil menyerahkan Bayi Alena pada Alena.
Alena menerima Anaknya dengan perasaan yang begitu bahagia.
"Terimakasih Sus." Alena mengucapkan terimakasih pada Suster.
"Sama-sama Nona, saya permisi dulu." suster berpamitan pada Alena dan Bagas.
"Iya Suster." jawab Alena dan Bagas.
Suster tersebut langsung meninggalkan ruangan Alena, dengan begitu bahagia Bagas mencium kening Alena.
"Terimakasih Istriku, akhirnya Kamu sudah menjadi Ibu dari Anakku." Bagas mengucapkan terimakasih pada Alena, lalu mencium kening Alena.
"Sama-sama Suamiku." jawab Alena dengan senyum bahagianya.
"Sayang, Kita sudah punya satu Anak laki-laki, nanti Kita harus bikin lagi satu Anak perempuan biar sepasang." kata Alena pada Bagas.
"Aku tidak mau sayang, Anak Kita cukup satu saja." Bagas menolak keinginan Alena.
"Maafkan Aku istriku, bukannya Aku tidak mau punya Anak lagi tapi Aku tidak mau Sampai kejadian yang sama terulang kembali, Aku tidak mau sampai disuruh memilih salah diantara kalian lagi." gumam Bagas.
"Kenapa tidak mau? bukannya Kamu ingin punya banyak Anak?" tanya Alena.
"Oh Iya, Anak kita mau dikasih nama siapa?" tanya Bagas yang sengaja mengalihkan pembicaraannya.
"Kenan Bagas Pratama." jawab Alena.
"Bagas namamu dan Pratama Anak pertama." sambung Alena.
"Baiklah, Kita panggil Dia Ken." kata Bagas.
"Iya Baby Ken." sambung Alena.
Hari ini Bagas dan Alena bahagia sekali menyambut kelahiran Anak pertama mereka, yang diberi nama Kenan Bagas Pratama.
Setelah beberapa hari dirumah sakit, akhirnya Alena dan Bagas pulang kerumah mereka.
Rama dan yang lainnya sudah menunggu kepulangan Bagas, karena Bagas sudah menghubungi Rama untuk cutti kerja, karena Alena sedang melahirkan.
Bagas dan Alena turun dari mobilnya, Ana dan yang lainnya menyambut kedatangan Alena, Bagas dan Kenan dengan begitu bahagia.
Kini mereka semuanya masuk kedalam rumah Bagas, lalu mereka semuanya duduk disofa ruang tengah.
"Tampan sekali." kata Ayu sambil membelai pipi Kenan.
"Siapa namanya Len?" tanya Ayu.
"Kenan Bagas Pratama." jawab Alena.
"Mirip Papanya ya." sambung Bagas sambil menyunggingkan senyum jailnya.
"Han, mudah-mudahan Anak Kamu perempuan ya! biar nanti Kita bisa jodohkan Anak kita." kata Bagas pada Rehan.
"Aku mau Anaknya laki-laki saja." jawab Rehan.
Rian dengan jailnya langsung menimpali perkataan dari Bagas.
"Anak baru lahir belum ada satu minggu, udah main jodoh-jodohan." timpal Rian sambil menggelengkan kepalanya.
"Biarkan saja, mereka memang seperti itu." kata Alena yang memaklumi obrolan suaminya dan Rehan.
"Lagian kalau harus besanan dengan Alena, Aku tidak apa-apa kok, apalagi Anak Alena begitu tampan." kata Ayu sambil memainkan pipi Kenan dengan tangannya.
Ana dan Rama hanya saling menatap lalu menggeleng kepalanya.
"Dasar Anak ingusan." kata Rama.
"Para cecungkuk mau besanan." Ledek Rian sambil tertawa.
Kini Ana dan yang lainnya saling memberikan selamat pada Alena.
"Alena, selamat ya akhirnya jadi Ibu juga." Via mengucapkan selamat pada Alena.
"Iya Alena, mudah-mudahan Kenan jadi Anak berbakti pada kedua orangtua." Doa Ayu.
"Selamat ya Alena, mudah-mudahan Kenan jadi Anak yang pintar dan patuh pada kedua orangtuanya." Ana mengucapkan selamat pada Alena.
Rama, Rian dan Rehan, juga mengucapkan selamat pada Bagas.
Setelah semuanya mengucapkan selamat pada Bagas dan Alena dan memberikan kado untuk Baby Kenan. akhirnya mereka semuanya berpamitan pulang karena Alena harus istirahat.
Ana dan yang lainnya pulang kerumah masing-masing, namun Rehan dan Ayu ikut kerumah Ana untuk makan dirumah Ana.
"Ana, Aku pulang dulu ya." pamit Via yang langsung pergi menuju kerumahnya bersama Rian dan Vano.
"Iya kalian hati-hatilah." jawab Ana.
Rama melihat Ayu dan Rehan, lalu bertanya pada mereka.
"Kalian tidak pulang?" tanya Rama.
Rehan tersenyum penuh jail pada Rama, lalu menjawab pertanyaan dari Rama.
"Mau kerumah Kakak, Kita mau numpang makan disana." jawab Rehan yang diiringi dengan tawa jailnya.
"Iya Kak, tadi Ayu tidak masak." sambung Ayu.
"Dasar kalian ini lalat pengganggu." omel Rama.
Ana melihat kearah Rama, lalu menggeleng kepalanya.
"Sudahlah sayang, Ayu, Rehan ayo makan dirumah Kakak." kata Ana dengan begitu lembut.
Akhirnya Ayu dan Rehan ikut kerumah Rama untuk makan malam dirumah Rama.
Bersambung 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊