
Pagi hari yang cerah, matahari sudah menyusup masuk ke dalam kamar Niah dan David, Niah perlahan-lahan membuka matanya ia melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 6 pagi.
"Sudah jam 6, David belum bangun. Rasanya memang mengantuk sekali," Niah melihat David yang masih terlelap dengan pulas.
"Suamiku, bangunlah sudah jam 6 pagi," Niah menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.
"Jam berapa sekarang?" David hanya bergulat, tanpa membuka matanya.
Niah terus bersabar, ia terus menggoyangkan tubuh suaminya agar bangun dari tidurnya.
"Sudah jam 6 pagi, bangunlah! Kamu mandi dan aku siapkan sarapan buat kamu dulu." Niah masih berusaha membangunkan suaminya, sampai akhirnya David membuka matanya.
David tersenyum melihat wajah cantik sang istri, Niah mengusap-usap rambut David dengan lembut.
"Mandilah! Mau aku buatkan sarapan apa?" Tanya Niah, ia terus menatap wajah tampan suaminya dengan penuh cinta.
"Roti sama susu saja." Jawab David yang kini sudah merubah posisinya menjadi duduk.
"Susu habis, teh manis saja ya!" Kata Niah yang sudah beranjak dari tempat tidurnya, tiba-tiba David menarik tangannya membuat Niah menoleh padanya.
"Ada apa?" Tanya Niah bingung.
"Kalau susunya habis, aku minum susu itu saja sayang!" Kata David, sambil menunjuk ke dua gunung kembar milik Niah.
"Dasar suami mesum." Batin Niah dalam hati.
"Tidak, ini nanti buat anak kamu." Tolak Niah dengan nada lembut.
David kembali tersenyum, lalu menarik tangan Niah hingga terjatuh dipangkuannya. Mata David mulai menatapnya dengan jail, dengan cepat Niah meronta-ronta agar suaminya itu tidak sampai menggarapnya di pagi hari, jika sampai itu terjadi pasti David tidak akan jadi berangkat ke kantor.
"Sayang....." Panggil David, dengan nada menggoda.
"Suamiku, pergilah mandi! Ini masih pagi," Niah bangun dari pangkuan sang suami.
David membangun bibirnya, karena pagi-pagi istrinya sudah menolak hasratnya. Tapi biarpun ia manyun, ia beranjak dari tempat tidurnya lalu segera masuk ke dalam kamar mandi.
Niah meninggalkan suaminya yang sedang mandi, ia segera pergi ke dapur untuk membuatkan sarapan untuk suaminya.
Setelah selesai membuat roti dan teh manis, Niah duduk dikursi meja makan sambil menunggu suaminya yang sedang mandi.
.
.
Beberapa menit telah berlalu, tapi David belum kunjung keluar dari kamarnya.
"Nak, papamu kok lama sekali ya." Niah mengelus-elus perutnya.
Tiba-tiba David datang dan berjongkok di hadapan Niah. Ia menatap istrinya dengan tatapan kawatir.
"Kenapa? Apa perutmu sakit?" Tanya David yang melihat Niah, terus mengelus-elus perutnya yang sudah mulai membuncit.
"Tidak suamiku, kamu juga mau mengelusnya?" Niah mengambil satu tangan suaminya, lalu ia menaruhnya tepat di atas perutnya.
"Sayang, kira-kira anak kita laki-laki atau perempuan ya?" David mendekatkan telinganya pada perut istrinya.
"Ntahlah, kita kan belum periksa." Jawab Niah, sambil mengusap-usap kepala suaminya.
"Besok kita cek ke dokter ya!" Kata David, ia sudah duduk dikursi meja makan dan ia mulai menikmati teh manis dan roti yang istrinya buatkan untuk dirinya.
.
.
Setelah selesai sarapan, David berangkat ke kantor. Seperti pagi biasanya ia berpamitan dengan istrinya, ia mencium kening sang istri, mencium kedua pipinya dan tidak lupa mencium bibir mungil istrinya.
"Oh iya, kamu tidak ke perpustakaan?" Tanya David sebelum pergi meninggalkan istrinya ke kantor.
"Aku mau istirahat dulu suamiku, mungkin Vano akan kesana kan dia sedang dirumah." Jawab Niah dengan nada lembut.
"Baguslah, ada Vano jadi kamu tidak usah kesana!" David tersenyum manis pada sang istri.
Dalam hati David, jika Niah hari ini ke perpustakaan mending aku tidak usah berangkat ke kantor daripada membiarkan Istriku bertemu dengan laki-laki itu.
.
.
Setelah David berangkat ke kantor, Niah hanya sendirian dirumah ia kembali masuk ke dalam kamarnya untuk mandi dulu karena tadi bangun tidur belum sempat mandi.
.
.
Sesampainya dikantor, David masuk ke dalam ruangannya dan melihat sudah ada Randi yang sedang menunggunya.
"Randi...." sapanya dengan lembut.
"Tuan David, ini ada berkas-berkas penting yang harus anda tandatangani!" Kata Randi, ia menyerahkan berkas-berkas yang ada di tangannya pada David.
"Dulu dia tidak pernah telat, sekarang punya istri malah sering telat. Sebenarnya apa yang dilakukan suami istri itu?" Gumam Randi, yang ternyata di dengar oleh David.
"Menikahlah, agar kamu tidak penasaran dengan apa dilakukan oleh suami istri setiap hari." Celetuk David, membuat Randi terkekeh.
"Tuan, anda mendengarnya," Randi tersenyum malu-malu di hadapan sang bosnya itu.
Setelah Randi keluar dari ruangannya, David duduk dikursi kerjanya ia sibuk dengan berkas-berkas yang tadi dibawa oleh Randi.
.
.
.
Kenan dan Ralin.
Jam menunjukkan pukul 10 pagi, Ralin baru dari tidurnya sedangkan Kenan sudah rapi dan sudah memesankan sarapan untuk istri tercintanya.
"Mau, sampai berapa lama lagi kamu bangun dari tidurmu istriku?" Kenan terus menatap wajah cantik istrinya yang masih lelap tidur.
Mungkin Ralin kelelahan, jadi ia tidurnya tidak bangun-bangun. Apalagi semalam ia habis berkerja keras dengan suaminya membuat adonan di malam pertamanya.
Ralin bergulat dari tidurnya, tangannya meraba-raba mencari sosok suaminya yang ternyata sudah tidak ada di sampingnya ia tidur.
"Suamiku, kamu kemana?" Ralin merubah posisinya menjadi duduk, ia mengucek-ucek matanya yang masih mengantuk.
"Bangunlah, aku disini! Ayo sarapan dulu!" Jawab Kenan, yang sudah menunggu istrinya bangun dari tadi.
Sungguh ini bagaikan mimpi bagi Ralinsyah, pagi-pagi sudah melihat laki-laki tampan di hadapannya yang sudah sah menjadi suaminya.
"Kemarilah, peluk aku! Agar aku percaya kamu sudah sepenuhnya menjadi milikku." Renggek Ralin dengan manja.
Ken beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju ke ranjang tempat tidur.
"Dasar Alin-alin, semalam kamu sudah merasakan permainanku dan ini kamu masih tidak percaya aku ini sudah menjadi milikmu seutuhnya." Batin Kenan dalam hatinya.
Sesampainya diranjang tempat tidur, Kenan langsung memeluk tubuh munggil istrinya dengan erat.
"Sekarang sudah percaya? Kalau aku ini sudah menjadi milikmu sepenuhnya?" Tanya Kenan disela-sela pelukannya.
"Iya aku percaya saumiku." Ralin mempererat pelukannya.
.
.
Pagi ini mereka sarapan berdua, Kenan menyuapi istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Sakit tidak?" Tanya Kenan, membuat Ralinsyah bingung.
"Sakit, apa maksud Ken?" Batin Ralin dalam hatinya.
Ralin hendak turun dari tempat tidurnya, tapi ini merasakan nyeri dibagian slakangannya.
"Ahk..." Ralin merintih.
"Nyeri," Ralin kembali duduk.
"Diamlah, itu memang akan terjadi apalagi kamu baru pertama kali melakukannya." Kenan mengacak-acak rambut Ralin dengan tangannya.
Ralin menganggukkan kepalanya, dan hanya diam karena jika bergerak ia akan merasakan nyeri.
"Kita jalan-jalan?" Tanya Ralin.
"Hari ini istirahat saja, besok baru jalan-jalan." Jawab Kenan, sambil terus menyuapi istrinya.
"Kamu tidak makan?" Tanya Ralin, ia melihat dari tadi suaminya hanya menyuapi dirinya saja.
"Aku sudah kenyang, melihatmu tertidur begitu pulas." Canda Kenan, yang memang Ralin tertawa.
.
.
Akhirnya hari ini mereka hanya dikamar saja menikmati bulan madu mereka.
Kevin dan Ralin.
Mereka sudah asik bermain kejar-kejaran di pinggir pantai.
"Kevin, berhentilah mengejarku!" Valin terus berlarian dipinggir pantai, karena Kevin terus mengejarnya agar bisa memeluknya.
"Aku akan menangkapmu, tunggu aku!" Kevin terus berlari dan akhirnya ia berhasil memeluk sang istri.
Kini Valin sudah berada dipelukan Kevin, Kevin memeluk Valin dari belakang. Mereka berdua sama-sama menatap langit yang begitu cerah yang sedang menyaksikan kebahagiaan mereka setelah menikah.
"Ralin dan Ken, mereka belum keluar dari kamar." Kata Valin, ia sudah memegang tangan suaminya yang melilit perutnya.
"Mereka sedang menikmati masa pengantin baru mereka di atas ranjang. Tidak seperti kita yang harus menundanya sampai datang bulanmu selesai." Jawab Kevin, ia membenamkan wajahnya dileher istrinya.
Kevin dan Valin menikmati bulan madu mereka dengan bermain di pantai, ia Kevin Kasian sekali karena belum bisa merasakan nikmatnya gua milik istrinya.
Para pengantin baru sedang menikmati masa-masa bahagia mereka.
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊