
Hari Sabtu kemudian semuanya sudah siap untuk pergi berlibur, kali ini mereka berlibur ke vila kakeknya Alena yang terletak ditengah-tengah danau yang begitu indah.
"Kita jadi kemana?" tanya Rian.
"Ke vila kakeknya Alena." jawab Bagas.
"Ayu sama Rehan mana?" tanya Silvia.
Kini mereka saling menatap satu sama lain, sekarang mereka mencari sosok Rehan dan Ayu. karena mereka tidak menemukan sosok mereka berdua akhirnya mereka semuanya mendatangi rumah Rehan.
"Tok..tok.." Rama mengetuk pintu.
Rehan yang sedang duduk diruang tengah, akhirnya beranjak dari tempat duduknya untuk membukakan pintu.
"Ceklek..." Rehan membuka pintu.
"Kak Rama." sapa Rehan.
"Tunggu ini rame-rame ada apa?" tanya Rehan pada semuanya.
"Kita kesini untuk mengajak berlibur bersama, kemarin lupa kasih tahu kamu." jawab Rian.
"Masuk dulu saja semuanya, Aku bilang Ayu dulu." kata Rehan pada semuanya.
Rehan kembali masuk dalam rumahnya, yang lain juga mengikuti langkah kaki Rehan.
Ayu sedang berbaring diatas sofa sambil menonton televisi.
"Kalian." sapa Ayu yang langsung duduk.
"Ayu, ayo berlibur bersama." kata Ana pada Ayu.
"Sekarang?" tanya Ayu.
"Iya sekarang, ayo kita berangkat." jawab Alena sambil melihat kearah Ayu.
"Aku siap-siap sebentar tapi ya." kata Ayu.
Kini Ayu langsung pergi masuk kedalam kamar, untuk menyiapkan semuanya sedangkan Rehan hanya menunggu diruang tengah.
Karena kalau Rehan ikut menyiapkan semuanya, yang ada hanya keributan yang terjadi jadi Ayu mending sendiri saja menyiapkan semuanya.
"Apa Ayu sedang sakit Han?" tanya Ana pada Rehan.
"Tidak Kakak Ipar, hanya saja dari kemarin Ayu sedang begitu manja sama susah makan." jawab Rehan.
Setelah beberapa lama, akhirnya Ayu keluar dengan membawa koper yang berisi pakaian Ayu dan Rehan.
Kini semuanya naik kedalam mobil, Rama sengaja memakai mobil khusus untuk piknik agar semuanya bisa satu mobil jadi suasana liburan bersamanya akan semakin terasa.
Didalam mobil.
"Ambil foto Niah dan Vano dong." pinta Via.
Kini Rama dan Rian mengambil beberapa foto Vano dan Niah.
"lihat mereka begitu menggemaskan." kata Rama pada Ana.
"Iya, nanti kalau sudah besar mereka kita jodohkan saja." kata Rian sambil melihat kearah Rama.
Namun kali ini Rama menentang, beda dengan Ana yang setuju jika Niah dan Vano dijodohkan.
"Tidak...tidak.. nanti Anak kita ribut mulu kaya bapaknya lagi." jawab Rama sambil menggelengkan kepalanya.
Bagas yang sedang menyetir mobil, langsung menimpali obrolan Rama dan Rian.
"Baguslah kalau ribut mulu, kan jadi rame." timpal Bagas yang diiringi dengan tertawa.
Setelah menempuh perjalanan yang jauh, akhirnya mereka sampai di vila kakeknya Alena, vila yang terletak ditengah-tengah danau.
Visual Vila kakeknya Alena.
Kini mereka sedang berkumpul diruang keluarga, dari ruang keluarga tersebut mereka bisa melihat indahnya pemandangan danau yang begitu indah.
"Kalian tahu, dulu nenek dan kakekku sering datang kesini untuk berlibur bahkan Aku sering diajak oleh mereka." cerita Alena sambil duduk dikursi.
"Senang ya Len jadi orang kaya, kalau Aku dulu liburan cuma pergi ke pantai terus main voli dipinggir pantai." kata Ayu.
"Iya Yu, ingat banget waktu itu kita liburan dengan teman-teman kerja ya." sambung Ana.
Ana dan Ayu sadar mereka dulunya hanya orang miskin, bisa berlibur ke tempat indah dan mewah seperti sekarang ini, karena suami-suami mereka adalah orang kaya. makanya mereka bisa menikmati indahnya kehidupan, beda dengan dulu yang setiap hari hanya bekerja, bekerja dan bekerja.
"Setiap orang pasti punya porsi kebahagiaan masing-masing, mungkin kalau Aku diposisi kalian Aku juga akan senang biarpun hanya berlibur ke pantai." kata Alena sambil tersenyum.
"Iya Len, dulu Aku bahagia sekali menjalani kehidupanku yang begitu sederhana." kata Ayu dan Ana secara bersamaan.
Kini mereka bertiga duduk dikursi sambil melihat indahnya pemandangan danau yang ada diluar, Rama, Rian,Via dan Bagas kini sudah berada diluar ruangan sambil melihat pemandangan.
"Oh iya nanti kalian pilih saja kamar untuk kalian, disini ada 6 jadi kalian pilih saja kalian suka." kata Alena pada Ayu dan Ana.
Akhirnya semuanya menuju ke kamar masing-masing, lalu mereka langsung beristirahat karena kekekalan menempuh perjalanan yang lumayan jauh dari rumah mereka.
Jam menunjukkan pukul 4 sore, kini mereka berjalan-jalan dipinggir danau, setelah lelah berjalan-jalan mereka makan direstauran yang ada ditepi danau.
Visual restauran pinggir danau.
Betapa bahagianya mereka, Akhirnya bisa menikmati liburan bersama dan kini mereka menikmati makan bersama direstauran pinggir danau.
"Berasa sedang bulan madu." kata Rehan.
"Sayangnya rame-rame." sambung Bagas.
"Berduaan nanti kalau dikamar." kata Rian.
Ana melihat Niah dengan senyum bahagia.
"Beruntung Niah, Kamu terlahir dari keluarga kaya beda dengan Mama Kamu ini, mudah-mudahan kekayaan yang Kamu dapat dalam hidupmu, tidak membuatmu sombong jika Kamu sudah besar nanti ya Nak." doa Ana untuk Niah.
Biar bagaimanapun setiap ibu, pasti akan selalu mendoakan hal baik untuk anaknya.
"Kakak Ipar, sini biar Aku yang mengajak Niah." kata Rehan pada Ana.
"Niah sama Papi ya." kata Ana, yang langsung memberikan Niah pada Rehan.
Kini pesanan makanan mereka sudah datang, mereka sama-sama menikmati makanan yang mereka pesan.
Ayu memakan makanan pesanan yang yang dipesan oleh Ayu yaitu udang goreng kesukaan Ayu, namun Ayu enggan memakannya. Ayu malah meminta bekas makanan dari Rehan.
"Sayang, Aku tidak mau ini Aku maunya makannya bekas darimu." kata Ayu dengan begitu manja.
Kini semuanya menatap Ayu dengan binggung.
"Ayu, Kamu baik-baik sajakan?" tanya Alena.
"Han, pelet apa yang kamu berikan pada Ayu? kenapa Ayu jadi aneh seperti itu?" sambung Bagas sambil melihat kearah Rehan.
Ayu menjawab pertanyaan dari Alena.
"Aku baik-baik saja Len, memang beberapa hari ini Aku suka banget makan dari bekas Rehan." jelas Ayu pada Alena.
Alena hanya tersenyum pada Ayu.
"Kalian lucu." kata Alena.
Rehan menatap kearah Bagas dengan tatapan begitu tajam.
"Kak Bagas, tanpa dipelet saja Ayu sudah klepek-klepek padaku." jawab Rehan dengan begitu sombong.
Via memperhatikan Ayu, lalu bergumam.
"Sepertinya Ayu hamil." gumam Silvia.
Sebagai Dokter kandungan Via tahu tanda-tanda wanita sedang hamil, namun Via juga belum berani memberi tahu pada Ayu, karena Ayu juga sepertinya belum merasakan kehamilan saat ini.
Kini Ayu menikmati makanan dari bekas Rehan, dengan begitu nikmat, minum pun Ayu juga maunya gelas dari bekas Rehan.
Setelah selesai makan bersama, kini mereka kembali ke vila semuanya langsung masuk kedalam kamar masing-masing.
Ntah apa yang dilakukan dikamar masing-masing, setelah mereka selesai mandi kini mereka berkumpul diruang keluarga untuk menikmati indahnya pemandangan malam hari ditengah-tengah danau.
Malam yang begitu dingin, namun mereka tetap bahagia karena bisa berlibur bersama.
Ana dan Via pergi ke dapur untuk membuatkan minuman hangat dan cemilan untuk teman mereka ngobrol.
Kini Niah sedang bersama Rama, Vano sedang bersama Rian, Bagas sedang mengelus-elus perut Istrinya yang sudah besar karena beberapa bulan Alena akan melahirkan.
Ayu dan Rehan sedang menikmati pemandangan diluar ruangan, kini mereka seperti dua sejoli yang sedang berpacaran.
"Aku bahagia jadi Istri dari Rehan Ardiyansyah, karena Aku tidak perlu kerja lagi dan Aku punya suami yang begitu mencintaiku selama ini." kata Ayu dengan penuh rasa syukur.
"Aku juga bahagia, menikah denganmu sayang." jawab Rehan.
Kini sambil menatap indahnya pemandangan malam, Ayu dan Rehan saling berciuman bibir dengan begitu nikmat.
Via dan Ana baru saja keluar dari dapur dengan membawa minuman hangat dan berbagai macam cemilan untuk mereka semua.
"Han.... lanjutkan nanti lagi mesra-mesranya." kata Via yang melihat Rehan sedang berciuman dengan Ayu.
Rehan langsung melepaskan ciumannya.
"Ahh Kak Via ganggu saja." gumam Rehan.
Kini Rehan dan Ayu masuk, lalu ikut bergabung dengan yang lainnya.
"Nanti Han dikamar saja, biar lebih aman." sindir Bagas yang ternyata dari tadi juga memperhatikan Ayu dan Rehan sedang berciuman.
"Sudah tidak tahan Kak kalau nunggu dikamar." Rehan menjawab perkataan Bagas.
"Dasar kalian." omel Rian.
"Auh panas sekali." kata Rama.
Ana melihat kearah Rama, lalu mengomeli Rama.
"Sayang, Kamu gimana sih untung tidak kena Niah." Ana mengomeli Rama, karena Rama hampir menjatuhkan gelas yang berisi minuman hangat.
"Untung saja tidak jatuh." kata Alena.
"Rama hati-hatilah, itu masih panas." kata Via.
Ana mengambil gelas yang ada ditangan Rama, lalu membantu Rama meniupkan minumannya.
malam semakin larut, kini mereka langsung masuk kedalam kamar masing-masing.
Bersambung 🙏
Terimakasih buat para pembaca setia 😊