Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
226.Main perang air.


Ana dan Alena sudah sampai rumah lebih dulu sebelum suami mereka pulang dari kantor.


"Alena terimakasih ya, sudah nemenin aku ketempat kerja Ayu" kata Ana.


"Sama-sama, Aku pamit pulang ya Ana pasti sebentar lagi Bagas pulang" jawab Alena.


"Baiklah, apa perlu Aku mengantarkanmu?" ledek Ana, sambil tertawa.


"Rumah kita begitu dekat, jadi tidak usah mengantarku" saut Alena, sambil mencubit pipi Ana.


Alena berjalan menuju Kerumahnya sedangkan Ana langsung masuk ke dalam rumahnya.


Ana masuk ke dalam rumah dan pintu rumah tidak dikunci, siapa yang menyangka ternyata Rama dan Rehan sudah pulang dari kantor.


"Rama, Rehan" panggil Ana.


"Tadi bilangnya, pulang lebih dulu" sindir Rama, yang merasa kesal karena waktu pulang istrinya belum pulang.


Ana duduk disamping suaminya.


"Sayang, kamu yang pulangnya kecepatan" protes Ana, yang memang benar Rama pulang lebih cepat dari biasanya.


"Memangnya kak ipar, darimana?" tanya Rehan, ingin tau.


"Kakak dari tempat kerja calon istrimu, Han" jawab Ana, sambil menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.


"Aku pulang cepat tadi, kamu sudah makan?" tanya Rama, biarpun Rama kesal dengan istrinya tapi perhatiannya tidak pernah lupa.


"Belum, aku masak dulu ya buat kita makan" pamit Ana, Ana beranjak dari tempat duduknya namun Rama menarik tangan Ana.


"Kenapa?" tanya Ana.


"Rehan, pesan makanan saja!! kasian kakak iparmu pasti capek" suruh Rama.


Rehan langsung membuka aplikasi dan langsung memesan beberapa makanan untuk mereka bertiga.


"Rehan, tadi Ayu bilang Ayu pingin cepat-cepat menikah" kata Ana, menceritakan tadi perkataan Ayu waktu bertemu dengannya.


"Sungguh kakak ipar?" tanya Rehan memastikan.


"Sungguh" jawab Ana.


Rehan terdiam beberapa saat.


"Kamu kenapa?" tanya Rama.


"Kak, Aku mau pernikahan Aku dan Ayu dipercepat!!" pinta Rehan, yang memang ingin segera menikah lebih cepat dari tanggal yang sudah ditentukan.


"Baiklah, akan Aku urus nanti" jawab Rama.


Dengan senang hati Rehan, langsung menghambur ke pelukan Rama.


"Rehan, berhentilah memelukku nanti kakak iparmu bisa cemburu!!" ledek Rama, sambil menjewer telinga Rehan.


"Aduh sakit kak!!" rintih Rehan, yang langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Rama.


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, ternyata pengantar makanan. Rehan menerima makanan pesanannya dan langsung membayarnya.


Rehan langsung membuka makanan yang sudah dipesan, kini mereka bertiga sedang menikmati makanan bersama-sama.


Dirumah Bagas dan Alena.


Bagas sedang tiduran dikamarnya, Alena tidak tau kalau Bagas ternyata pulang lebih cepat dari biasanya.


"Darimana kamu?" tanya Bagas tiba-tiba.


Alena yang baru masuk kedalam kamarnya, begitu kaget karena mengira suaminya belum pulang.


"Bagas kamu sudah pulang?" tanya Alena, bukannya menjawab pertanyaan dari suaminya malah balik bertanya.


Bagas bangun dari tidurnya, kini dirinya sudah duduk ditepi ranjang.


"Alena jawab pertanyaanku, jangan malah balik bertanya" kesal Bagas, karena Alena selalu tidak izin kalau mau pergi kemana-mana.


Alena menghampiri Bagas dan kini duduk disamping Bagas.


"Maaf, Aku tadi nganterin Ana ketempat kerja Ayu" jawab Alena dengan jujur.


"Kenapa tidak izin padaku" omel Bagas.


"Aku lupa" jawab Alena, yang selalu tidak punya alasan lain.


"Lain kali jika kamu pergi tanpa izin denganku lebih dulu, Aku akan menghukummu" ancam Bagas, agar istrinya tidak lupa untuk meminta izin kalau mau kemana-mana.


"Iya sayang, maafkan Aku" Alena minta maaf pada Bagas.


"Jangan ulangi lagi" omel Bagas.


"Cup..!!" satu kecupan dibibir Bagas.


"Biar kamu tidak bawel lagi" goda Alena.


"Istriku ini paling pintar, kalau dalam hal menggoda" ledek Bagas, sambil mencubit hidung istrinya.


"Siapa dulu yang mengajari Tuan Bagas" goda Alena lagi.


Bagas menarik Alena, kedalam pelukannya.


"Jangan menggodaku terus, ini masih terlalu sore sayang" ledek Bagas, membuat Alena buru-buru melepaskan dirinya dari pelukan Bagas sebelum Bagas benar-benar memakannya.


Alena sudah bangun dan gini beranjak pergi meninggalkan Bagas.


"Mau kemana?" tanya Bagas dengan manja.


"Mau mandi sebentar" jawab Alena, yang langsung pergi menuju ke dalam kamar mandi.


Alena mandi sedangkan Bagas menunggu Alena ditempat tidur.


Dirumah Rian dan Via.


Rian dan Via sedang asik main siram-siraman air dihalaman depan rumahnya, tadinya niatnya mau nyiram tamanan bersama namun bukannya tamanan yang mereka siram ini malah mereka yang asik main perang air.


Via sedang duduk sambil memberikan pupuk pada tanaman yang Via tanam, namun dengan jailnya Rian malah menyemprotkan selang airnya ke arah istrinya.


"Rian apa yang kamu lakukan, kamu membuatku basah kuyup" kesal Via, sambil menatap tajam ke arah Rian.


"Kamu belum mandi, jadi mandilah" ledek Rian, yang terus menyemprotkan selang airnya ke badan istrinya.


Via bangun dan berusaha merebut selang air dari suaminya, setelah mendapatkannya Via langsung menyemprotkan selang air ke badan suaminya. kini keduanya sama-sama basah kuyup.


"Baiklah ayo kita mandi bersama" ajak Via, sambil menyemprotkan selang airnya ke badan suaminya.


Mereka berlari-lari kecil seperti anak kecil yang sedang bermain air, betapa bahagianya Via dan Rian sore hari ini.


Rian menghentikan langkahnya.


"Via, aku bersyukur aku bisa bertemu denganmu kembali dan kini kamu sudah menjadi istriku" Rasa syukur dalam hati Rian.


Via tidak sengaja tersandung batu dan hampir terjatuh, beruntung Rian langsung berlari untuk nangkap istrinya agar tidak sampai terjatuh.


Beruntunglah Via terjatuh dalam pelukan suaminya.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Rian, yang masih meluk tubuh istrinya.


"Aku baik-baik saja, untung kamu segera menangkapku" ucap Via yang penuh rasa syukur.


Rian langsung mengangkat tubuh istrinya, untuk segera masuk kedalam rumah.


"Sudahlah jangan main air terus, ayo kita mandi!!" ajak Rian, yang sudah mengangkat tubuh istrinya masuk kedalam rumah.


Rian berjalan menuju kamar mereka, setelah sampai dikamar Rian langsung membawa istrinya masuk kedalam kamar mandi dan akhirnya mereka mandi bersama.


Rehan dan Ayu.


Setelah selesai makan Rehan langsung pergi menjemput Ayu ketempat kerjanya, sekalian mau membicarakan tentang pernikahannya yang akan dipercepat.


Rehan menghentikan mobilnya di depan tempat kerja Ayu, Rehan turun dari mobilnya menunggu Ayu keluar dari tempat kerjanya.


Ayu melangkahkan kakinya menuju keluar dan melihat Rehan sudah menunggunya, betapa senangnya hati Ayu sore ini karena tidak biasanya Rehan menjemputnya apalagi Rehan lebih sering pulang malam kalau kerja.


"Rehan!!" panggil Ayu, yang langsung berlari menuju kearah Rehan.


"Sayang, jangan berlari" pinta Rehan.


Rehan langsung membukakan pintu mobilnya untuk Ayu.


"Naiklah!!" suruh Rehan.


Ayu langsung naik ke mobil Rehan, Rehan menutup kembali pintu mobilnya kini Rehan juga sudah naik ke dalam mobilnya.


Rehan langsung menyalahkan mesin mobilnya dan segera melajukan kerumah Ayu untuk mengantarkan Ayu.


"Tumben, kamu menjemputku?" tanya Ayu.


"Iya aku pulang cepat tadi, jadi aku menjemputmu" jawab Rehan.


"Oh iya, Ayu aku udah bilang kak Rama untuk mempercepat pernikahan kita. kamu tidak apa-apakan?" tanya Rehan, karena takut Ayu tidak setuju.


"Iya tidak apa-apa, bukankah lebih cepat lebih baik" jawab Ayu, yang memang berharap cepat menikah.


"Iya kamu benar" jawab Rehan, yang setuju dengan jawaban Ayu.


Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu jauh akhirnya Rehan sampai dirumah Ayu.


Bersambung