
Sampailah dirumah Vano, David dan Niah turun dari mobil dan langsung berjalan menuju rumah Vano.
"Tok...tok...." Niah mengetuk pintu.
Vano dan keluarganya yang sedang duduk diruang keluarga saling menatap satu sama lain.
"Siapa yang datang?" Vano berjalan menuju ke pintu untuk membukakan pintu rumahnya.
.
.
.
"Ceklek...." suara gagang pintu.
Melihat ternyata Niah dan David, Vano tersenyum.
"Niah, David, masuklah!" Vano mempersilahkan Niah dan David masuk.
Niah dan David masuk, mereka mengikuti langkah kaki Vano dibelakang Vano.
Melihat Niah yang datang, Via langsung bangun dari tempat duduknya lalu berjalan menuju Niah.
"Niah sayang...." Via memeluk Niah dengan penuh kasih sayang.
"Tante Via, aku kangen masakan tante." Kata Niah disela-sela pelukannya.
"Kamu, mau kesini bukannya nagabari kan Tante bisa buatkan makanan kesukaanmu." Via melepaskan Niah dari pelukannya.
Vina yang melihat calon mama mertuanya, begitu akrab dengan Niah membuatnya agak sedih karena dirinya belum terlalu akrab pada calon mama mertuanya itu.
Vano tahu pasti pikiran Vina sudah kemana-mana, Vano berjalan menuju Vina duduk lalu mengusap rambut Vina dengan lembut.
"Jangan berpikiran yang tidak-tidak, mama dan Niah memang sudah sangat dekat dari dulu. Apalagi aku dan Niah itu sahabatan jadi Niah sering datang kerumah, rumah Niah juga ada disamping rumahku." Vano memberikan pengertian pada Vina, wanita yang saat ini akan menjadi calon istrinya.
Vina tersenyum, ia tahu pikirannya sudah salah. Vina bangun dari tempat duduknya lalu ia juga menghampiri Niah.
"Niah, senang bisa bertemu denganmu lagi." Vina memeluk Niah, Niah juga membalas pelukan dari Vina.
"David, duduklah!" Suruh Vano, dan David duduk disebelah Vano.
Vina dan Niah sama-sama melepaskan pelukannya, lalu mereka duduk, Via juga sudah duduk.
"Kalian mengobrolah, Tante sama Om ke kamar dulu!" Via mengajak suaminya masuk ke dalam kamar, agar tidak menganggu para anak muda itu membrogol.
Via dan Rian bergandengan tangan masuk ke dalam kamar. Sesampainya dikamar Rian dan Via sama-sama duduk ditepi ranjang.
"Istriku, aku kangen masa muda kita dulu." Rian menggeser duduknya agar lebih dekat dengan sang istri.
"Kamu mau apa?" Via melirik Rian, ia tahu pasti suaminya akan berbuat jail pada dirinya.
"Tentu saja, aku mau kamu. Kita buatkan adik yuk buat Vano." Rian senyam-senyum penuh kejailan.
Sungguh Via tidak habis pikir, ia sungguh ingin sekali menjewer telinga suaminya bisa-bisanya di saat anaknya sudah dewasa dan akan segera menikah Rian berpikiran untuk membuatkan adik kecil untuk Vano.
"Suamiku, kalau untuk saat ini kita lebih cocok punya cucu daripada kita membuat adik untuk Vano." Tolak Via, ia menatap Rian dengan tatapan kesal.
Rian malah tertawa, lalu ia memeluk Via dengan begitu hangat.
.
.
Diruang keluarga.
Niah, David, Vano dan Vina, mereka sedang asik mengobrol. Vina yang baru beberapa hari mengenal Niah ia juga sudah terlihat akrab dengan Niah.
"Niah, kamu cepet sekali hamilnya." Kata Vano, yang melihat perut Niah sudah begitu buncit.
"Cepat darimananya? Aku membuat adonan itu butuh waktu lama." Sahut David, ia tidak terima dengan pertanyaan Vano.
"Iya, aku pingin cepat-cepat anakku ini lahir, aku tidak sabar untuk segera berjumpa dengan mereka berdua." Kata Niah, ia sudah membayangkan jika bayi kembarnya nanti lahir pasti mereka akan lucu sekali.
Vina dan Vano sama-sama mencerna perkataan Niah.
"Kamu bilang mereka?" Vano menatap Niah.
"Apa, anak kalian kembar?" Vina menatap Niah, lalu beralih ke David.
"Iya anak kita kembar." Jawab David, dan Niah hanya menganggukkan.
Vina tersenyum, ia juga diam-diam menginginkan punya anak kembar.
"Aku akan menikah bulan depan," Jawab Vano, ia tersenyum pada Niah.
Mereka asik mengobrol, sampai-sampai mereka lupa waktu dan ternyata sudah pukul lima sore.
Niah dan David, berpamitan untuk pulang tapi sebelum mereka pulang. Mereka mampir ke tempat orang tuanya lebih dulu karena sangat dekat jadi sekalian.
.
.
Dirumah Ana dan Rama.
Ana sedang memasak, sedangkan Rama sedang membaca koran sambil menikmati kopi yang dibuatkan oleh istrinya.
"Istriku, kamu buat kopi pahit sekali." Rama protes yang akhirnya tidak jadi minum kopi itu.
"Suamiku, bukankah tadi kamu yang tidak mau dipakaikan gula." Bantah Ana, ia merasa kesal dengan suaminya.
"Tadi yang minta dibuatkan kopi tanpa gula, ini rasa pahit dia protes." Ana ngedemul dalam hatinya.
.
.
"Tok...tok..." suara ketukan pintu.
"Suamiku, lihatlah! Siapa yang datang," Kata Ana yang sedang sibuk di dapur.
Rama menuruti apa kata suaminya, ia segera berjalan menuju ke pintu depan untuk membukakan pintu rumahnya.
"Ceklek..." suara gagang pintu, melihat papanya yang membuka pintu Niah langsung menghambur ke pelukannya.
"Papa, Niah kangen sama papa." Kata Niah disela-sela pelukannya.
Rama membalas pelukan putrinya, lalu ia melepaskan pelukannya.
"Ayo masuklah! Malu kalau ada yang melihatnya." Rama tersenyum, ia mengandeng tangan Niah.
"Mama, mana pa?" Tanya David, yang tidak melihat sosok mama mertuanya.
"Dia sedang memasak." Jawab Rama.
Niah melepaskan tangannya dari gandengan tangan papanya, lalu ia berjalan menuju ke dapur untuk menemui mamanya yang sedang memasak.
David dan Rama duduk mereka mengobrol diruang tengah.
"Kalau sudah ada mamanya, pasti lupa dengan papanya." Rama geleng-geleng kepala, melihat sikap putrinya.
"Suaminya juga dilupain pa." Sambung David, ia menatap istrinya sedang bermanjaan dengan sang mama.
Niah sedang memeluk mamanya dari belakang, Ana terkejut melihat ternyata putrinya yang memeluknya.
"Niah, aku kira papamu nak." Ana menghentikan kesibukannya, lalu ia memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Mama, Niah mau memberitahu mama kalau calon anak Niah kembar ma." Kata Niah disela-sela pelukannya, Ana terkejut ia melepaskan Niah dari dalam pelukannya.
"Sungguh nak?" Ana memastikan, ia memegang kedua pipi anaknya.
Niah menganggukan kepalanya, lalu Ana mematikan kompornya dan ia mengajak Niah untuk pergi keruang keluarga.
"Kok dimatiin ma?" Tanya Niah bingung.
"Masaknya nanti saja, ayo kita beritahu pada Papamu, kalau calon cucunya itu kembar!" Ana sudah tidak sabar, ia mengandeng tangan Niah menuju keruang keluarga.
Sesampainya diruang keluarga, Ana dan Niah duduk. Rama melihat kearah Ana.
"Sudah selesai memasaknya?" Tanya Rama.
"Papa, mama tidak jadi masak. Papa tahu kita akan punya cucu kembar." Ana tersenyum bahagia, dan Rama langsung melihat Niah.
"Sungguh nak?" Rama memastikan.
"Iya pa, anak Niah kembar." Jawab Niah dengan begitu bahagia.
Hari ini orang tua Niah, bahagia mendengar kabar bahagia dari David dan Niah. Akhirnya setelah lama ingin punya cucu, Niah memberikan cucu kembar sekaligus untuk keluarga Ardiyansyah.
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊