Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
325.Kebawelan Niah S2.


David duduk disamping Niah "Baiklah nanti kita mampir kesana," jawab David.


Kemarin Kakek Revan dan Nenek Diana memang tidak hadir di acara pernikahan Niah dan David, Bukan karena apa-apa tapi karena Kakek Revan sedang sakit jadi tidak bisa hadir.


Hari semakin sore Niah dan David langsung berpamitan kepada kedua orangtua David. Karena sore ini Niah berniat mengunjungi orangtuanya sekalian berpamitan untuk bulan madu bersama sang suami.


"Mama, Papa, David dan Niah pamit ya." David berpamitan kepada orangtuanya.


Dimas tersenyum "Iya nak, Kalian hati-hati dijalan ya!" jawab Dimas.


"Oh iya Ma, Pa, David sudah putuskan setelah rumah David selesei direnovasi, David akan pindah kesana." Kata David.


"Apa tidak sebaiknya kamu dan istrimu tinggal disini saja nak, Niah mau kan sayang tinggal disini?" Jawab Shinta, Yang langsung bertanya pada Niah.


Niah tersenyum, Lalu menjawab pertanyaan sang Mama mertuanya.


"Niah terserah sama David saja Ma." jawab Niah yang langsung melihat kearah David.


"Kita pindah kerumahku saja, Aku juga pingin hidup mandiri." jawab David dengan penuh alasan, Niah tahu hanya saja Niah diam saja.


"Iyalah kalau kita tinggal ditempat mama dan papa, Pasti akan sulit untukmu menyiksaku nanti." Batin Niah.


"Baiklah jika itu keputusanmu nak, Ingat kamu harus menjaga istrimu dengan baik ya terus rajinlah membuat adonan, Agar cucu mama cepet lahir." Kata Shinta yang membuat Niah terpaksa tersenyum.


"Adonan? Mama ada-ada saja." Batin Niah.


"David kamu harus berkerja keras diatas ranjang!" Pinta Dimas yang sengaja meledek anaknya semata wayangnya.


"Papa ini apa-apaan sih, Malam pertama saja sudah pisah ranjang." Batin David.


David hanya tersenyum kepada kedua orangtuanya, Lalu langsung mencium tangan Orangtuanya secara bergantian, Niah juga Melakukan hal yang sama.


Setelah berpamitan Niah dan David langsung menuju kerumah Orangtua Niah.


Didalam mobil hanya ada keheningan, Karena Niah dan David hanya diam saja. David berdehem lalu membuka obrolan lebih dulu.


"Jangan dipikirinkan perkataan orangtuaku, Lagian kita juga tidur terpisah!" Kata David yang membuat Niah langsung menoleh kearah David.


"Menyetirlah dengan benar!" Cetus Niah yang enggan menanggapi perkataan David.


David terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Sampai di depan rumah Niah. Niah dan David langsung turun dari mobil.


Niah melihat rumahnya tampak begitu sepi, Bahkan Niah mengetuk pintu juga tidak ada yang keluar.


"Mama dan Papa kemana ya?" Tanya Niah.


"Mungkin mereka sedang pergi, Kita tunggu saja!" jawab David langsung duduk dikursi yang ada di teras depan rumah Niah.


Melihat Niah, Kenan dan Vano langsung menghampirinya untuk menyapanya.


"Niah," panggil Vano Niah langsung menoleh kearah sumber suara, Niat berniat lari ke pelukan Vano namun dengan cepat David langsung menarik tangan Naih.


"Mau kemana kamu?" Cetus David yang sudah memegangi tangan Niah.


Niah hanya diam, Dirinya hampir lupa kalau dirinya sudah sah menjadi istri laki-laki lain.


"Tetaplah disini, Jika kamu berlari ke laki-laki itu, Maka aku akan menghukummu!" Tegas David, Membuat Niah mengurungkan niatnya untuk berlari kepelukan Vano.


Vano dan Kenan berjalan menuju ke Niah dan David , Vano langsung mengeluarkan senyum termanis pada gadis yang pernah ada di dalam hatinya selama ini.


"Kak Niah, Tante Ana, Om Rama, Kevin, Tante Ayu, Om Rehan dan Ralin. Mereka pergi keluar negeri katanya mau jengkuk Kakek Revan yang sedang sakit, Mereka berangkat tadi malam." jelas Kenan membuat Niah langsung menganggukan kepalanya, Pertanda bahwa Niah mengerti.


Iya semalam keluarga Rama dan Rehan langsung berangkat keluar negeri, Untuk menjenguk sang papa yang sedang sakit, Mereka juga mengajak anak dan istri mereka.


Niah tersenyum manis pada Kenan, Lalu mengucapkan terimakasih padanya.


"Terimakasih ya Ken, Oh iya kalian darimana?" Niah mengucapkan terimakasih, Lalu bertanya pada Kenan dan Vano.


"Aku habis cuci mata kak, Biasa siapa tahu ada yang bening-bening lewat." jawab Kenan yang membuat Niah geleng-geleng kepala.


"Ken, Aku akan merekam ucapanmu lalu aku akan menunjukkan pada Ralinsyah, Biar dia disana cari laki-laki lain lagi." Niah mengacam Kenan, Lalu Kenan langsung nyengir pada Niah.


"Jangan katakan padanya kak, Nanti dia sampai rumah pasti akan mengomeliku habis-habisan dengan mulutnya yang bawel itu." Kenan memohon pada Niah agar tidak memberitahukan ucapannya pada Ralinsyah.


Ken dan Ralin memang mengemaskan, Ken tidak mau dianggap calon suami oleh Ralin namun ketika Ralinsyah di dekati laki-laki lain, Ken lah orang pertama yang akan marah bahkan melarang Ralinsyah untuk dekat dengan laki-laki lain.


"Akan ku pikirkan, Van aku tanya kamu darimana? Kenapa kamu tidak menjawab?" Jawab Niah, Yang langsung melihat kearah Vano.


"Kenan sudah menjawabnya kan." jawab Vano dengan nada jutek.


Niah hanya diam, Niah berpikir kalau ada yang aneh pada Vano. Biar bagaimanapun Vano tidak pernah sejutek ini pada dirinya.


"Vano kenapa sih? Tadi tersenyum manis sekerang Jutek banget perasaan." Batin Niah.


"Apa sudah selesai mengobralnya? Boleh kita pergi sekarang!" kata David dengan tatapan kesal pada Niah.


"Kita kan belum membeli tiket pesawat, Lalu bagaimana kita akan pergi sekarang?" Protes Niah yang kembali menatap David dengan tatapan kesal.


"Aku tidak perlu tiket pesawat, Kita berangkat kesana dengan jet pribadi!" Tegas David yang membuat Niah terkejut.


"Jet pribadi? Apa kamu punya jet pribadi?" Tanya Niah dengan kebawelannya membuat David semakin kesal.


"Apa mulut gadis ini begitu bawel?" Batin David dengan kesal.


Karena tidak mau lebih lama lagi mendengar kebawelan dari mulut Niah, Akhirnya David langsung mengangkat Niah dengan kedua tangannya.


"David turunkan aku!" Niah meronta-ronta meminta diturunkan dari gendongan David.


"Diamlah! Atau aku akan mencium bibirmu didepan Vano dan Kenan?" Ancam David yang langsung membuat Niah langsung terdiam.


David langsung memasukkan Niah kedalam mobilnya, Mata Vano terus menatap Niah kini hatinya sungguh sakit melihatnya, Namun Vano tetap berusaha tersenyum.


"Niah, Sepertinya kamu bahagia dengan David." Batin Vano yang merasa piluh.


"Kak Vano, Sabar ya masih banyak wanita lain yang menanti cinta Kak Vano." Kenan memberikan semangat pada Vano.


"Sudah ayo kita pulang!" Bukannya menjawab semangat dari Kenan, Vano malah mengajak Kenan untuk pulang.


"Salah Kak Vano tidak mau jujur pada Kak Niah dari dulu." Batin Kenan.


Vano dan Kenan langsung pulang kerumah masing-masing.


David dan Niah.


Niah terus memayunkan bibirnya, Karena merasa sangat kesal pada David.


"Sudah tidak usah manyun terus, Apa kamu mau aku cium?" Goda David yang membuat Niah semakin memayunkan bibirnya.


"Sudahlah menyetirlah dengan benar!" Cetus Niah, Namun David malah mengencangkan laju mobilnya.


Niah langsung memejamkan matanya, Kali ini Niah benar-benar ingin sekali mencabik-cabik David.


"Apa kamu mau membunuhku? Pelankan mobilnya." Omel Niah yang sudah memejamkan matanya karena merasa takut.


David tersenyum, Karena merasa kasian pada sang istri akhirnya David menurunkan kecepatan laju mobilnya.


Pelan-pelan Niah membuka matanya, Lalu melihat kearah David.


"Apa kamu sungguh akan berangkat menyusul Orangtuaku sekarang? Aku belum membawa baju, Aku juga belum menyiapkan semuanya." Kata Niah yang kembali membawelin David.


"Lalu bagaimana dengan tiket bulan madu yang dikasih oleh Papa?" Tanya Niah lagi membuat David semakin kesal.


"Raniah Putri Ardiyansyah, Tiket bulan madu aku akan berikan pada Randi! Sudah cukup jangan bawel." Tegas David yang rasanya sudah ingin memakan Niah hidup-hidup.


Randi adalah sekretaris sekaligus orang kepercayaan David, Namun Randi masih lanjang.


Niah tersenyum, Lalu menjulurkan lidahnya.


"Dasar suami galak." Batin Niah.


"Tapi kamu belum menjawab pertanyaanku sebelumnya," Niah mengingatkan David.


Dengan raut wajah kesal, David langsung menjawabnya agar sang istri berhenti bicara.


"Iya kita berangkat kesana dengan jet pribadi peninggalan kakekku, Dan untuk keperluanmu kita nanti bisa membeli semuanya!" Jawab David dengan tegas.


David sengaja mengajak Niah naik jet pribadi miliknya, Karena biar bagaimanapun David tidak mau membuang waktu karena harus membeli tiket pesawat lebih dulu.


Setelah mendengar jawaban David, Niah tersenyum lalu memejamkan matanya. David yang melihat Niah sudah memejamkan matanya, Hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Dasar, Diamnya kalau tidur doang." Kesal David dalam hatinya.


Hari ini David dan Niah langsung menyusul Orangtuanya keluar negeri, Dengan jet pribadi peninggalan Kakeknya David.


Sesampainya diluar negeri, David dan Niah langsung menuju kerumah sang Kakek.


Bersambung 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊


Baca juga karya pindahan Author, 😘😘