Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
293.Jagain Anak Vs berbelanja.


Ana adalah gadis miskin yang sangat beruntung, diterima oleh keluarga kaya raya, disayang sama suami, bahkan kedua mertuanya pun sangat menyayanginya.


Hari mulai siang, Alena pun pamit pulang karena harus menunggu suaminya pulang dari kantor.


Jam menunjukkan pukul 5 sore, Rama baru saja sampai dirumahnya, melihat Ana, Ayu, Rehan, Mami, Papi, Anak-anaknya dan ponakannya sedang berkumpul diruang keluarga Rama langsung menghampirinya sambil tersenyum.


"Keluarga Ardiyansyah, lengkap sekali hari ini." kata Rama sambil mencium kening Ana.


Ana langsung mengembangkan senyumnya, lalu bergeser tempat duduk, agar Rama duduk disebelahnya.


"Kamu mau mandi dulu atau gimana Suamiku?" tanya Ana sambil dengan nada lembut.


"Tentu saja, Aku mau bermain sama kedua Anakku dulu Istriku." jawab Rama yang langsung melepaskan jasnya lalu memberikannya pada Ana.


Ana menerima jas dari tangannya Rama, lalu menaruh jas Rama dipangkuannya.


Niah sedang dipangku oleh Mami Diana, sedangkan Kevin dipangku oleh Papi Revan.


"Anak-anak Papa, pinter ya kalian tidak rewel." puji Rama kedua Anaknya.


"Ram, ini ajak Niah dulu! Mami mau mengendong Ralin." kata Mami Diana yang langsung menyerahkan Niah pada Rama.


Dengan senang hati Rama menerima Niah dari tangan Mami Diana, kini Rama sudah duduk disamping Papi Revan.


"Ram, Kamu mau punya Anak lagi tidak?" tanya Papi Revan sambil tersenyum jail.


"Pingin nambah Pi, tapi Ana nya belum mau." jawab Rama sambil melihat wajah cantik Ana.


"Dasar Kamu ini, iya wajarlah Ana tidak mau, Kedua Anak kalian masih kecil." omel Papi Revan pada Rama.


Rama menghela nafasnya, karena merasa Papinya ini tidak berpihak pada dirinya.


"Dasar Papi, tadi tanya mau punya Anak lagi tidak? giliran dijawab ini malah ngomelin Aku." gumam Rama.


Melihat suaminya memasang wajah kesalnya, Ana hanya tersenyum.


"Apa yang Rama ributkan dengan Papi?" tanya Ana dalam hati, karena Papi Revan dan Rama mengobrol dengan suara pelan jadi Ana tidak mendengarnya.


Mami Diana sedang asik mengobrol dengan cucunya yang no tiga.


"Lihat Kamu begitu cantik seperti Mamamu." puji Mami Diana pada Ralinsyah.


"Iya Mi, mirip sekali dengan Ayu, padahal Rehan pikir Rehan yang akan menang banyak apalagi Ayu sering kalah kalau kita sedang melakukannya." protes Rehan yang membuat Mami Diana geleng-geleng kepala.


"Ayu, Kamu yang sabar ya Nak, punya Suami seperti Rehan." bukannya menjawab protes dari Rehan, Mami Diana malah menyuruh Ayu bersabar karena punya suami seperti Anaknya yang nomor dua.


Ayu langsung tersenyum mendengar nasehat dari Mami mertuanya, biar bagaimanapun Ayu sangat paham dengan sifat Suaminya, mengatakan hal yang kadang membuat Ayu malu itu sudah biasa, bukan maksud Rehan membuat Ayu malu, namun memang Rehan kalau bicara suka ceplos-ceplos.


Setelah asik mengobrol diruang keluarga, kini semuanya kembali ke kamar masing-masing untuk segera istirahat.


Pagi hari kemudian, hari ini adalah hari sabtu jadi Rama dan Rehan libur kerja, seperti ide Rehan kemarin hari ini para suami-suami tampan akan menjaga Anak-anak mereka, sedangkan Istri-istri mereka akan pergi menghabiskan uang para suami-suami mereka.


Mami Diana dan Papi Revan masih di dalam kamar.


Kini Via, Rian, Alena dan Bagas sudah datang kerumah Rama.


"Ini mau bikin acara apa?" tanya Rian karena merasa penasaran.


"Acaranya adalah jagain Anak, tapi kali ini yang jagain Anak adalah Papa-Papa tampan." jawab Rehan yang diiringi dengan tawanya jailnya.


Bagas hanya terdiam sambil melipat kedua tangannya ke dada.


"Acara apa yang sebenarnya akan Rehan buat?" batin hati Bagas.


"Tunggu, maksud gimana?" tanya Rama yang merasa bingung.


"Kakak hari ini Kita jagain Anak-anak Kita dan biarkan Istri-istri Kita untuk pergi menghabiskan uang Kita." jelas Rehan.


Rama mengerti apa maksud Rehan.


"Tapi ada baiknya juga sih, lagian Ana juga jarang pergi jalan-jalan." pikir Rama.


"Baiklah, Aku setuju." jawab Rama.


"Kamu yakin sayang?" tanya Ana memastikan.


"Yakin, Aku akan menjaga Niah dan Kevin dengan baik." Rama berusaha menyakinkan Ana.


Karena Rama sudah bilang begitu, dengan senang hati Ana menyetujui ide dari Rehan.


"Baiklah Han, Aku setuju." Ana setuju dengan ide Rehan.


"Aku juga setuju, sekali-kali Rian biar jagain Vano daripada main game mulu." jawab Via yang setuju juga dengan ide Rehan.


"Allahamdulillah Vano panasnya sudah turun, jangan rewel ya Nak sama Papa." gumam Via.


Dari kemarin malam Vano badannya panas, tapi Allahamdulillah panasnya sudah turun Vano juga sudah tidak rewel, jadi Via menyetujui ide Rehan juga.


"Bagas, Kamu harus menjaga Kenan." kata Alena pada Bagas sambil tersenyum licik.


Bagas langsung tersenyum pahit.


"Dasar Rehan tengil, permainan macam apa yang Kamu buat ini." protes Bagas dalam hati.


Akhirnya para suami-suami tampan ini menjaga Anak-anaknya mereka dirumah, mereka berkumpul dirumah Rama sambil menunggu istrinya berbelanja ke mall.


Ana, Via, Alena dan Ayu, mereka langsung menuju kesalah mall yang terdekat dikotanya dengan diantar oleh pribadi keluarga Ardiyansyah.


Ayu juga sudah pulih setelah beberapa hari beristirahat jadi bisa ikut pergi berbelanja.


Suami-suami mereka dirumah sungguh-sungguh menjaga Anak-anak mereka dengan Baik, ya walaupun Papa-Papanya asik main game untung Anak-anak mereka tidak menangis.


"Sial kalah lagi." kesal Rian.


"Aku menang." sambung Rama.


"Kamu Han, menang atau kalah?" tanya Bagas pada Rehan.


Ternyata diantara mereka berempat Rehan yang paling waras, yang lain asik bermain game sedangkan Rehan asik menjaga Anaknya sambil mengajaknya bercanda.


Rama memangku Niah, sambil main game, Kevin sedang tidur dikamar bersama Nenek dan Kakeknya jadi Rama hanya menjaga Niah saja.


Untung Niah Anteng berada dipangkuan Rama sambil memainkan empeng ditangannya.


Rian memangku Vano, sambil main game.


Untung Vano hanya diam dan senyum-senyum sendiri, ntah mengapa Vano senyum-senyum sendiri, ya hanya Vano yang tahu.


Bagas memangku Kenan, sambil main game.


Sedang asik bermain game Kenan tiba-tiba menangis.


"Eak eak...." suara tangisan Kenan.


"Kak, itu Kenan menangis." kata Rehan.


Dengan cepat Bagas meletakkan ponselnya diatas meja, lalu langsung mengecek pampers Kenan dan ternyata Kenan Bab.


Bagas langsung membersihkan Kenan, lalu Bagas segera menganti pampers Kenan. setelah diganti pampres Kenan langsung kembali diam dan sangat anteng.


"Kalian jangan main game terus, ntar istri-istri kalian ngamuk saja baru tahu rasa." omel Rehan pada ketiga seniornya.


Jika Ana, Via dan Alena tahu bagaimana suami-suami mereka menjaga Anaknya dan malah asik main game, pasti mereka bertiga akan langsung murka.


Di mall.


Kini Ana, Via, Alena dan Ayu sedang asik berbelanja, namun kali ini mereka tidak berbelanja untuk diri mereka sendiri.


Melainkan mereka menghabiskan uang saumi-suami mereka untuk membeli baju, sepatu, mainan dan keperluan lainnya untuk Anak-anak mereka.


"Lihat Yu, ini baju cantik sekali, ada ukuran kecilnya juga." kata Ana pada Ayu.


"Aku mau membelinya untuk Niah dan Ralin." gumam Ana dengan begitu antusias.


"Iya Kak, kita ambil warna ini ya." kata Ayu sambil mengambil dua gaun lucu warna pink muda.


Ana menganggukan kepalanya, sedangkan Alena dan Via sedang asik memilih sepatu bayi untuk Anak-anak mereka.


Ana membeli beberapa setel baju kembaran untuk Niah dan Ralin, Ana juga membeli baju-baju lucu untuk Kevin.


Ayu membeli berbagai macam kaos kaki lucu untuk bayi, kini Ayu tersenyum sambil memandangi kaos kaki yang ada ditangannya.


"Pasti akan lucu, jika dipakai oleh Ralin." pikir Ayu sambil membayangkan.


"Vi, kamu beli berapa sepatu?" tanya Alena.


"Aku beli tiga, dengan warna yang begitu lucu." jawab Via sambil memperhatikan sepatu yang ada ditangannya pada Alena.


Setelah selesai berbelanja dan membayar semuanya, kini mereka berempat langsung menuju ke tempat makan yang ada di dalam mall tersebut.


Kini mereka duduk dikursi pelanggan, mereka juga sudah memesan makanan dan minuman buat mereka, setelah beberapa lama, akhirnya pesanan makanan mereka datang.


Sambil menikmati makanannya mereka saling mengobral.


"Kira-kira Anak-anak nangis tidak ya?" tanya Ana dengan perasaan kawatir.


"Mudah-mudahan saja tidak." doa Via.


Alena mengecek ponselnya, lalu melihatnya namun tidak ada pesan atau telpon dari Bagas.


"Sepertinya tidak menangis Bagas juga tidak mengabariku." kata Alena.


Mereka tidak tahu saja, suami-suami mereka malah asik main game dari tadi.


Ayu yang berniat menelpon Rehan, tiba-tiba ada pesan masuk dari Rehan.


Rehan mengirimkan foto Rama, Bagas dan Rian sedang asik main game.


Rehan sengaja melakukannya agar para seniornya itu, kena omel Istri-istri mereka. sambil melihat ponselnya Rehan cengesan tidak jelas.


"Rehan kenapa?" tanya Rian.


"Sudah tidak waras Dia." sambung Bagas.


"Baru ditinggal sebentar sama Ayu." timpal Rama sambil menggelengkan kepalanya.


Rehan menujukan foto yang dirinya ambil pada para seniornya.


"Lihat ini, siap-siap kalian diomeli para istri-istri kalian." ledek Rehan dengan tawa kemenangannya.


"Rehaannnn, awas Kamu ya." kata Rian, Rama dan Bagas secara bersamaan.


Kini mereka bertiga menatap Rehan dengan tatapan penuh rasa kesal.


Di mall.


Ayu langsung menujukan foto tersebut pada ketiga sahabatnya, betapa kesalnya Ana, Via dan Alena melihat suaminya malah asik main game.


"Awas Kamu Bagas...." kata Alena sambil menahan rasa kesal.


"Rian, awas aja Kamu." ancam Via pada Rian.


"Rama, disuruh jagain Anak malah asik main game." kata Ana yang sudah mengebu-gebu.


Makanan mereka belum habis, namun karena rasa mereka akhirnya mereka langsung pulang kerumahnya.


Sesampainya dirumah!!!!


"Apa yang akan terjadi?"


Bersambung 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊