Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
283.Ibu-ibu rumah tangga.


Keesokan harinya Ana sudah sibuk dari pagi mengurus kedua Anaknya, sampai-sampai Ana kerepotan tapi untungnya Rama membantunya sebelum Rama berangkat kerja.


"Sayang, nanti Mami dan Papi pulang." kata Rama yang sedang memakaikan baju pada Niah.


"Iya, nanti bagaimana cara Kita jelaskan pada Mami dan Papi tentang Kevin?" tanya Ana.


"Kita ceritakan apa adanya." sambung Rama.


Tiba-tiba Ayu dan Rehan langsung masuk kedalam kamar Rama dan Ana, karena Kamar Rama tidak ditutup jadi Rehan dan Ayu langsung masuk begitu saja.


"Kak Rama sudah siap berangkat ke kantor?" tanya Rehan tiba-tiba.


"Ehh Kamu Han, sudah tapi Aku bantu Kakak Iparmu mengurus Niah dan Kevin dulu, kasian Dia dari tadi kerepotan." jawab Rama yang sudah selesai memakaikan baju Niah.


Ayu mendekat kearah Rama dan Ana, lalu Ayu berkata pada Rama.


"Kak Rama biar Aku yang membantu Kakak Ipar mengurus Anak-anak ya." kata Ayu pada Rama.


"Benar sayang, Kamu berangkatlah ke kantor." sambung Ana.


"Baiklah, Aku berangkat dulu ya! Ayu Kakak minta tolong bantu Kak Ana mengurus Niah dan Kevin ya." kata Rama pada Ana dan Ayu.


"Siapp kak." jawab Ayu dengan senang hati.


Rama dan Rehan langsung berpamitan dengan Istri-istri mereka, seperti biasa sebelum berangkat kerja mereka selalu mencium kening Istri-istri mereka, biasanya sih lebih dari itu namun karena tidak sedang berduaan jadi ya cukup kening saja.


Rama dan Rehan langsung berangkat ke kantor, sedangkan Ayu dan Ana kembali sibuk mengurus Niah, Kevin.


"Akhirnya selesai juga, Anak Mama sudah ganteng." kata Ana yang baru saja selesai memakaikan baju pada Kevin.


"Anak Mami Ayu juga sudah cantik." sambung Ayu yang sedang menggendong Niah.


Setelah selesai dengan urusan Anak-anaknya, Ana langsung pergi mandi, sedangkan Ayu menjaga Niah dan Kevin diatas ranjang tempat tidur Ana.


Setelah beberapa lama, Ana selesei mandi lalu Ana langsung berganti pakaian rumahan, setelah selesai Ana dan Ayu langsung turun menuju ke ruang bawa, untuk menunggu Mami dan Papinya yang sedang jalan pulang dari bandara.


"Sudah jam segini, Mami dan Papi kok belum sampai ya?" tanya Ana sambil melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 9 pagi.


"Mungkin macet kali kak." sambung Ayu.


Tiba-tiba Alena dan Via datang, mereka sengaja datang untuk melihat Anaknya Siska dan Kevin.


"Tok..tok.." suara ketukan pintu.


"Mungkin itu Mami dan Papi Yu." kata Ana.


"Ayu bukakan pintu dulu ya Kak." sambung Ayu yang langsung bangun dari tempat duduknya untuk membukakan pintu.


Ayu berjalan menuju ke depan sambil menggendong Niah.


"Ceklek..." Ayu membuka pintu.


Melihat ternyata Alena dan Via yang datang, Ayu langsung mempersilahkan mereka untuk masuk.


"Alena, Via, mari masuk." kata Ayu.


Kini Alena dan Via berjalan dibelakang Ayu.


Ana yang sedang duduk sambil memangku Kevin, langsung tersenyum melihat ternyata Alena dan Via yang datang kerumahnya.


"Kalian duduklah!" Ana mempersilahkan Alena dan Via untuk duduk.


Kini mereka sudah duduk, Ayu juga sudah duduk disamping Ana.


Via dan Alena terus memperhatikan Bayi yang sedang dipangku oleh Ana, lalu Via bertanya.


"Apa itu Anak saudara Kamu yang kemarin meninggal Na?" tanya Via dengan begitu hati-hati.


"Iya Ini adalah Anak Siska dan Kevin." jawab Ana sambil tersenyum.


"Oh iya sebentar ya, Aku lihat Bi Rani sudah bangun belum." kata Ayu.


Ayu berjalan menuju ke kamar Bi Rani, namun tiba-tiba Art dirumah Rama berkata pada Ayu.


"Nyonya Rani baru selesai makan dan sudah minum obat, Nona Ayu." kata Bibi yang kerja dirumah Rama.


"Iya Bi, terimakasih ya." Ayu mengucapkan terimakasih dengan begitu sopan.


Bibi meninggal Ayu kebelakang, sedangkan Ayu kembali keruang tengah. kini Ayu sudah kembali duduk.


"Bi Rani sedang istirahat, tadi sudah makan dan minum obat." kata Ayu pada Ana.


"Iya Yu." jawab Ana.


"Ana, nama Anak ini siapa?" tanya Alena.


"Namanya Kevin Tante Lena." jawab Ana.


Kini mereka berempat asik mengobrol sambil memangku Anak-anak mereka dipangkuannya.


"Sekarang Kamu sudah lengkap Na, sudah punya Anak cowok dan cewek." kata Via.


"Kalian tidak ada rencana ingin menambah momongan?" tanya Ana.


"Bagas tidak mau, katanya satu saja cukup." jawab Alena yang sebenarnya ingin punya Anak lebih dari satu.


Namun dalam hal ini Bagas menolak, karena tidak mau disuruh memilih untuk yang kedua kalinya, mengingat waktu Alena melahirkan Kenan putra mereka, itu membuat Bagas sangat sedih dan takut kehilangan.


"Kalau Aku satu dulu Na." sambung Via.


"Aku satu saja bikinnya susah Kak, jadi ya satu dulu saja." timpal Ayu.


"Satu Anak atau lebih, yang penting kehadiran anak-anak Kita itu melengkapi keluarga kita semuanya." kata Ana dengan begitu bahagia.


"Kamu benar Na, karena Anak juga Suami jadi betah dirumah." kata Via sambil tersenyum.


"Memangnya Rian jarang dirumah Vi?" tanya Alena.


"Iya dulu sebelum punya anak Kita berdua hanya sibuk kerja, tapi setelah punya anak Aku kan sudah berhenti kerja jadi lebih sering ketemu sama suami." jawab Via, yang akhirnya mengalah berhenti bekerja karena ingin fokus merawat Anaknya.


"Aku juga berhenti kerja sejak awal menikah dengan Bagas, karena Aku ingin fokus dengan keluarga kecilku." sambung Alena.


"Sekarang kita semuanya hanya menjadi Ibu rumah tangga." kata Ayu yang diiringi dengan senyuman.


"Ibu-ibu rumah tangga bahagia." sambung Ana yang diiringi dengan tawanya.


Kini mereka berempat benar-benar merasakan menjadi Ibu rumah tangga yang sesungguhnya, apalagi setelah mereka punya semuanya punya Anak itu membuat mereka lebih bahagia.


Sekarang tinggal Ayu yang sedang menanti kelahiran Anak pertamanya, karena diantara yang lain adonan Ayu dan Rehan jadi yang paling terakhir.


Hari semakin siang Alena dan Via pun pulang kerumahnya, karena Anak-anak mereka juga tidur, sedangkan Ayu dan Ana tiduran di kasur yang ada diruang tengah sambil menunggu Mertua mereka pulang dari bandara.


"Aku sudah tidak sabar, pingin segera melahirkan Kak." kata Ayu pada Ana.


"Sabar Yu, sebentar lagi." jawab Ana.


"Kira-kira Anakku laki-laki atau perempuan ya Kak?" tanya Ayu, sambil menciumi pipi Niah.


"Laki-laki atau perempuan yang penting sehat Yu." jawab Ana.


Sangking asiknya ngobrol mereka sampai tertidur, bahkan lupa mengunci pintu rumahnya.


Mami Diana dan Papi Revan baru saja turun dari mobilnya, lalu mereka langsung menuju kerumahnya.


Papi Revan yang membuka pintu rumahnya tidak dikunci, akhirnya mereka langsung masuk ke dalam rumah.


Papi Revan dan Mami Diana, langsung menuju keruang tengah melihat Ayu, Ana dan Niah sedang tertidur mereka hanya tersenyum penuh kebahagiaan.


"Ternyata mereka tidur." kata Mami Diana.


"Tunggu Mi, sepertinya ada lebih." kata Papi sambil melihat Ana dan Ayu.


"Ayu tidur memeluk Niah, lalu yang dipeluk oleh Ana anak siapa?" tanya Papi Revan bingung.


Kini mereka saling menatap satu sama lain, karena merasa begitu bingung.


"Tidak mungkin kan Ayu sudah melahirkan, lalu tidak ada yang memberi tahu padaku." gumam Mami Diana.


Bersambung 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊