
Hallo semuanya, aku bawa kisah cinta Papa Alex dan Mama Terisa setelah anak-anak mereka dewasa ya.
Mengisahkan tentang kehidupan mereka yang hidup berdua di Swiss sebelum mereka kembali ke London.
Aku sarankan untuk membaca semuanya dari awal agar tau urutannya ya 🙏🏽
...****************...
" Apa kau akan pergi ke Swiss untuk memulai hidup yang baru?" Tanya Alex pada istrinya yang terlihat tengah mengemasi pakaian mereka saat ini.
Anak-anak sudah menikah, dan Sky juga sudah hidup dengan begitu baik bersama istri dan juga anak-anaknya. Ini adalah saatnya untuk mereka pergi dan memulai hidup yang baru sesuai dengan janjinya pada Tarisa.
" Kenapa? apa kamu takut jika kita akan hidup susah di sana? ayolah sayang, kita akan hidup bahagia di Swiss. Kita akan berkebun dan menjalani hidup layaknya manusia pada umumnya. Aku sudah bosan dengan kemewahan jadi ayo kita hidup sederhana dengan berkebun." Lihat, betapa mudahnya wanita itu bicara untuk mereka hidup seperti manusia pada umumnya.
Memangnya selama ini mereka hidup dengan cara seperti apa? lagi pula menurut Alex itu sangat masuk akal karena sebagai seorang suami mencintai istrinya mereka tidak akan membiarkan sang istri hidup kesusahan.
" Apa-apaan kau ini? kau mengajakku berkebun?" Tanya alas dengan wajah terkejutnya.
Dia adalah mantan mafia terbesar di daratan Eropa dan terkenal dengan julukan sang penguasa. Lalu bagaimana bisa dia berkebun?
Oh my God! memikirkannya saja sudah membuat kepala Alex pusing. Lagi pula walaupun dia sudah tidak bekerja lagi hartanya tidak akan habis untuk turun-turunan selanjutnya jadi untuk apa mereka berkebun?
" Memangnya kenapa? kita akan berkebun, menanam sayur, menggembala sapi atau domba, pasti akan sangat menyenangkan sekali. Ahhh...sayang, ayo kita lakukan hal itu." Ajak Tarisa dengan penuh semangat.
Dia tidak berpikir jika apa yang dikatakannya tadi bisa saja membuat kepala suaminya meledak. Jika tak bisa mengajaknya berperang menggunakan senjata tajam dengan mudah Alex melakukannya.
Tapi ini apa? Tarisa mengajak dan berkebun dan itu artinya dia akan memegang cangkul bukan?
" Terserah kau saja. Dasar orang China!" Umpat Alex pada.
Semenjak awal pernikahan mereka hingga saat ini tidak pernah berubah sedikitpun. Alex akan mengatakan apapun yang ingin dikatakannya tanpa mematikan perasaan orang lain. Tidak hanya itu saja, bahkan dia tidak segan-segan untuk mengajak Tarisa bertengkar karena memang itu adalah keahliannya selama ini.
Keahlian yang harus selalu dikembangkan olehnya.
" Aahhh... aku mencintaimu Alexander."
" Tapi aku membencimu!" Jawab Alex.
Tarisa hanya tertawa saja saat mendengar jawaban dari suaminya. Alex akan selalu mengatakan bahwa dia membencinya tapi kenyataannya tidak sama sekali.
Pria yang terkenal kejam itu tidak akan pernah mungkin membencinya walau seribu kesalahan diperbuat olehnya.
Alex akan selalu mencintainya dan memaafkan setiap kesalahan yang telah dia perbuat. Tarisa yakin itu karena dia juga tahu seberapa mencintai dirinya Alexander itu
" Jangan marah, aku tidak suka melihat kamu marah seperti ini." Ucapnya dengan memeluk tubuh kekar sang suami dari belakang dan dia menikmati punggung kekar yang selalu memberinya perlindungan.
Terdengar helaan berat dari Alexander dan itu menandakan bahwa dia tidak bisa berlama-lama marah ataupun kesal dengan istrinya.
" Kau selalu saja pandai merayuku. Kapan aku bisa membantah mu Tarisa? kapan aku bisa bersikap kasar terhadapmu dan mengabaikan mu?" Tanya Alex.
Tarisa yang selalu bersamanya dia tidak pernah lelah menghadapi sikap dan tingkah lakunya. Wanita yang bersamanya ini adalah wanita terbaik dalam hidupnya.
" Jangan pernah bersikap kasar terhadapku karena aku tidak akan pernah bisa menerimanya. Lagi pula aku yakin jika kamu tidak akan mungkin bersikap kasar padaku karena kamu itu sangat mencintai ku." Ucap Tarisa dengan matanya yang berkedip-kedip manja.
Dia bahkan menunjukan wajahnya yang menggemaskan itu pada Alex agar pria itu luluh padanya.
Dan benar saja, Alex kembali menghela nafasnya berat dan mencubit hidung minimalis milik sang istri.
Alex merubah posisi mereka saat ini hingga membuat keduanya saling berpelukan.
" Entah bagaimana lagi aku mengatakannya Tarisa. Tapi kau harus kalau aku akan selalu mencintaimu bahkan aku ingin terus hidup bersamamu. Jika pun aku mati nanti bisakah kau ikut bersamaku?"
Plak!
Tarisa memukul dada bidang suaminya saat pria itu kembali mengatakan tentang kematian di antara mereka.
" Tidak bisakah mengatakan hal yang baik-baik saja? aku tahu bahwa semua makhluk yang Tuhan ciptakan pasti akan mengalami yang namanya kematian. Tapi tidak bisa kau untuk tidak membicarakannya saat ini? jujur aku belum bisa berpikir bagaimana jika suatu saat kamu pergi meninggalkanku lebih dulu. Apakah aku akan sanggup atau tidak menjalani kehidupan ini aku tidak sanggup memikirkannya Alex. Tapi ide yang kamu katakan bagus, tolong buka suatu saat nanti kamu pergi lebih dulu meninggalkanku, tolong ajak aku pergi bersamamu agar aku tidak merasa kesepian di sini." Ucap Tarisa.
Dia merasakan bahwa pelukan suami semakin mengerat dan itu artinya saat ini Alex juga merasakan hal yang sama dengan dirinya.
Keduanya saling berpelukan cukup lama hingga Alex yang lebih dulu melepaskan pelukannya.
" Sudah, ayo istirahat. Kau harus istirahat sebelum pergi ke Swiss besok. Lagi pula kenapa mau pakai segitu banyak? kau selalu saja terlihat seperti orang susah."
" Memang!" Jawab Tarisa tanpa beban sedikit pun.
Dia memang orang yang sangat susah di mata Alex karena dia selalu di katakan orang miskin walau sebenarnya dia tidak semiskin itu.
Tuk...
" Aahhh ..sayang, sakit " Rengek Tarisa ketika keningnya di sentil oleh Alex.
" Mana ada sakit! kau semakin hari semakin pandai berakting. Usia mu semakin bertambah, dan kemanjaan mu juga semakin menjadi-jadi. Kau masih saja beranggapan jika usia mu masih 21 tahun." Ujar Alex yang merasa di permainkan oleh usianya saat ini.
Entah mengapa sepertinya Tarisa ini tidak mengalami yang namanya penuaan dini. Bahkan rasanya wanita itu tetap saja sama seperti yang kemarin-kemarin saat dia menikahnya. Lihat, bahkan saat ini istrinya itu dengan begitu mudahnya menjawab.
" Biarkan saja." Jawabnya.
Jika sudah begini mana Alex bisa. Tidak ada yang bisa dilakukannya lagi selain mengalah dan pasrah saja.
" Sudah ayo tidur. Jika kau tidak ingin tidur maka aku akan---"
" Oke aku akan tidur! ayo kita tidur " Tarisa langsung menarik suaminya ke atas tempat tidur sebelum pria itu melakukan hal yang tidak-tidak nantinya.
Sementara Alex tersenyum dalam hati saat melihat kelakuan istrinya yang seperti ini. Entah mengapa juga rasanya Alex selalu merasa bahagia dan hidupnya sempurna dan kesempurnaannya itu di awali dengan Tarisa dan di isi dengan anak-anaknya yang luar biasa.
" Aku mencintai mu Tarisa."
" Aku juga Alexander..."