2 GADIS SADIS DARI ZAMAN MODERN

2 GADIS SADIS DARI ZAMAN MODERN
Part 92


Hari ini istana kekaisaran Yuan kedatangan tamu, mereka adalah rakyat dari kekaisaran Ming yang ingin meminta tolong pada kaisar Yuan.


Sejak kaisar Ming terbunuh beserta seluruh keluarga nya di tangan putra dan juga menantu kaisar Yuan, istana kekaisaran ming di kuasai oleh perdana menteri Wei Hu.


Perdana menteri itu memerintah dengan sangat arogan dan penuh kekejaman, dia selalu saja menyiksa rakyat kekaisaran Ming, setiap orang di bebankan pajak sebesar 2 koin emas perbulannya, sedangkan rakyat kekaisaran Ming sendiri sangatlah miskin, mereka hanya menghasilkan beberapa keping tembaga, ada pun yang mendapat puluhan koin perak.


Rakyat yang tidak menaati peraturan dari Wei Hu akan di penggal, yang tidak membayar pajak tepat waktu juga akan di siksa dan di jadikan budak.


Wei Hu selalu merasa dirinya yang paling hebat, meskipun sampai saat ini posisi nya hanyalah sebagai perdana menteri, tapi dia selalu mengatakan jika dia lah calon kaisar Ming selanjutnya.


Para bangsawan dan juga pejabat pun banyak berbelot dan mendukung Wei Hu, karena mereka juga banyak di untungkan dengan mendapatkan banyak sekali budak untuk bekerja tanpa harus mengeluarkan koin untuk menggaji nya.


Kaisar Yuan tentu saja kaget mendengar pengakuan dari rakyat yang berhasil kabur dari kekaisaran Ming itu, dia bahkan tak pernah memikirkan untuk mengambil alih kekuasaan di kekaisaran Ming, tapi setelah mendengar ucapan dari rakyat yang kini mulai berdatangan di istana kekaisaran nya membuat kaisar Yuan pun akhirnya geram.


"Sepertinya zen telah melakukan kesalahan dengan tak mengambil alih kekuasaan dari kekaisaran Ming saat itu, perdana menteri Wei Hu benar-benar kurang ajar dan tak tahu di untung" umpat kaisar Yuan sambil mengepalkan tangannya.


Pangeran kedua yang tak sengaja mendengar ucapan ayah nya pun ikut mengeram marah, andai saja istrinya saat ini tidak dalam kondisi hamil besar, tentu dia tak memiliki keraguan untuk berangkat dan mencincang tubuh para penghianat itu.


Pangeran ketiga pun berpikir untuk meminta bantuan dari pasukan milik istrinya yang berada di kekaisaran Ming, dia yakin jika anggota pasukan yang di bentuk oleh istrinya itu bisa membabat habis para bedebah yang mencari keuntungan dari penderitaan rakyat kekaisaran Ming.


Mengingat tindakan barbar istrinya, pangeran ketiga pun yakin jika pasukan An Xia pasti memiliki hasrat membunuh dengan keji seperti pimpinan nya.


Pangeran ketiga pun langsung menyampaikan pendapat nya pada kaisar Yuan agar segera mendapatkan izin, dan setelah itu dia akan meminta izin pada istrinya yaitu An Xia.


Meskipun pada kenyataannya kekaisaran Ming tak bisa di selamatkan lagi, tapi setidaknya mereka bisa membebaskan rakyat dari belenggu kekejaman Wei Hu.


Kaisar Yuan pun memberikan izin pada pangeran ketiga, dia mengerti kenapa putranya itu harus melakukan hal itu di bandingkan langsung datang ke kekaisaran Ming, tentu saja karena kondisi An Xia yang sedang hamil besar dan bisa melahirkan kapan saja.


Kedua putra nya itu tak ingin meninggalkan istri mereka di saat-saat terpenting dalam hidupnya.


Pangeran ketiga pun bergegas kembali menuju paviliun nya, dia ingin mendiskusikan masalah ini langsung dengan An Xia.


Meskipun dirinya berstatus sebagai suami An Xia, tapi keputusan mutlak tetap milik An Xia sebagai pemimpin pasukan itu.


Tak... Tak... Tak...


Terdengar langkah pangeran ketiga yang terburu-buru menuju An Xia yang saat ini tengah mengobrol dengan selir kehormatan sambil bercanda dengan riang.


An Xia mendengarkan dengan penuh antusias, dirinya memang belum berpengalaman dalam hal ini, karena itulah dia sering berkonsultasi dengan ibu mertuanya.


"Suamiku.. Kau disini?" tanya An Xia saat melihat pangeran ketiga mendekat ke arah nya.


Pangeran ketiga pun mengangguk kemudian mulai berjongkok di hadapan An Xia, tangan kanan nya mengelus perut buncit istrinya itu sambil sesekali mengajak anak yang ada di dalam kandungan istrinya itu untuk berbicara.


Nampaknya bayi itu sangat senang saat pangeran ketiga mengajak nya bercerita, hingga berkali-kali perut An Xia pun berkedut karena tendangan si jabang bayi.


Pangeran ketiga tentu berteriak senang melihat putranya itu merespon ucapannya, dengan semangat, dia pun menciumi perut besar An Xia hingga An Xia meringis di buat nya.


"Kau sengaja datang untuk melihat putramu atau ada sesuatu yang penting yang ingin di bicarakan?" tanya An Xia saat menyadari wajah lesu suaminya itu sebelumnya.


"Aku membutuhkan bantuan mu" ucap pangeran ke tiga sambil menatap istrinya dengan lembut.


"Bantuanku?" tanya An Xia heran


"Hari ini istana kita kedatangan beberapa orang rakyat dari kekaisaran Ming, mereka meminta bantuan untuk mengurus para bedebah yang ada di kekaisaran Ming yang selalu menyiksa dan juga meresahkan rakyat" ucap pangeran ketiga.


"Siapa maksud mu putraku?" tanya selir kehormatan.


"Perdana menteri Wei Hu bersama para antek-antek nya ibunda, mereka merongrong dan juga memeras rakyat, mereka juga tak segan-segan untuk membunuh atau pun menjadikan rakyat kekaisaran ming sebagai budak untuk para bangsawan dan juga pejabat yang membelot pada nya."tutur pangeran ketiga menjelaskan.


"Jadi bantuan apa yang kau butuhkan suamiku? Apa kau ingin meminta izin untuk datang kesana?" tanya An Xia


Pangeran ketiga pun menggelengkan kepalanya, dia memang tak berniat untuk datang di kekaisaran Ming.


"Sebentar lagi kau akan segera melahirkan, dan sebagai seorang suami dan juga calon ayah yang baik, tentu saja aku akan terus mendampingi mu sampai hari itu tiba" ucap pangeran ketiga menjeda ucapan nya sambil menatap wajah An Xia yang tengah tersenyum lembut saat mendengar jawaban dari sang suami.


"Bisakah kau meminta pasukanmu yang berada di kekaisaran Ming itu untuk menyerang dan juga membunuh para penjahat sialan itu? Kurasa mereka cukup bisa di andalkan untuk keadaan genting seperti ini" ucap pangeran ketiga.


An Xia pun mengangguk pertanda menyanggupi permintaan suaminya, setelah itu dia pun segera memanggil orang kepercayaannya untuk mengantarkan surat perintah pembantaian terhadap para pejabat kekaisaran Ming.


Pangeran kedua saat ini tengah di repotkan dengan kelakuan sang istri, Ai Li sejak tadi mengeluh jika perut nya sakit. Tak lama kemudian, Ai Li pun kembali sembuh padahal pangeran kedua belum sempat lagi untuk memanggil tabib.


Entah kenapa sejak pagi tadi keadaan Ai Li membingungkan, terkadang dia berbaring, kadang dia berjalan, kadang dia terduduk sambil terus mengatur nafas nya.