2 GADIS SADIS DARI ZAMAN MODERN

2 GADIS SADIS DARI ZAMAN MODERN
Part 77


"Sial... Kenapa mereka harus muncul sekarang? Harusnya aku sudah bisa melenyapkan saudara kelima, bajingan.. Aku harus memutar otak untuk bisa menyingkirkan mereka dari sini" pikir pangeran keenam.


Pangeran kedua dan pangeran ketiga hanya tersenyum sinis melihat gelagat tak biasa yang di tunjukkan oleh pangeran keenam, keduanya tentu saja memahami otak licik adik ke enam nya ini, tapi masih berpura-pura biasa saja.


"Prajurit.. Segera panggil tabib untuk merawat saudara kelima" titah pangeran kedua sambil berjalan menuju meja yang kini tengah di duduki oleh Xin Quan.


'Ternyata Ai Li benar.. Aku tak bisa meremehkan gadis ini, dia yang seperti orang yang lemah, bisa menghancurkan persaudaraan dan juga membuat orang kehilangan nyawa' gumam pangeran kedua dalam hati.


"Putri Xin Quan.. Mari kita kembali ke istana, sepertinya yang mulia kaisar Xin sangat mencemaskan keadaan mu" ucap pangeran kedua.


Xin Quan hanya mengangguk dan langsung berdiri, menepuk hanfunya yang sedikit kotor, kemudian berjalan mengikuti langkah pangeran kedua dan juga pangeran ke tiga, meninggalkan pangeran keenam yang memandang mereka penuh permusuhan.


"Sepertinya kau cukup bersenang-senang di tempat ini?" tanya pangeran kedua kepada Xin Quan setelah mereka menaiki kereta.


"Mungkin.." jawaban pendek dari Xin Quan


"Apa kau ingin singgah ke suatu tempat atau langsung menuju istana?" tanya pangeran ketiga.


"Sepertinya kau lebih memahami tentang ku pangeran ketiga.. Benar, aku ingin kita berhenti di toko pakaian, hanfu yang aku pakai cukup kotor, aku tak ingin ayahku khawatir melihat penampilan ku" ucap Xin Quan panjang lebar dan langsung di angguki pangeran ketiga.


Kereta pun berjalan melewati ibu kota, setelah berhenti sejenak untuk mengganti pakaian, perjalanan mereka pun di lanjutkan menuju ke istana kekaisaran Yuan.


Pangeran ketujuh saat ini masih berdiam diri di kamarnya, ucapan kedua kakak ipar nya saat 2 hari yang lalu tentu membuatnya sangat kesal, Xin Quan seolah telah memiliki pendukung di belakang nya, pangeran ketujuh tak bisa berbuat sembarangan mulai sekarang.


Pikiran buruk tentang Xin Quan terus saja berkecamuk dalam pikiran pangeran ketujuh, dia tak memahami apa yang di inginkan saudaranya dengan menculik Xin Quan.


"Apakah mereka saat ini sedang mencari sekutu ataukah ada motif lain yang membuat pangeran keempat, kelima dan keenam memutuskan untuk menculik Xin Quan.


Kepala pangeran ketujuh serasa pusing dan hampir pecah memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi, apalagi dia yang selalu menjaga martabat nya di depan semua orang, ketakutan akan rumor buruk yang akan menderanya kian melebarkan keinginannya untuk memutuskan pertunangan.


Hari berlalu, hari ini pangeran kedua dan pangeran ketiga telah kembali ke istana dengan membawa putri Xin Quan yang telah menghilang selama hampir seminggu, pertunangan pun terpaksa di undur oleh kaisar Yuan mengingat putri Xin Quan belum di temukan.


Kaisar Xin dan juga kaisar Yuan menyambut kedatangan mereka di depan gerbang istana kekaisaran, senyum lembut terpampang dari kedua paruh baya yang merupakan panutan rakyat di kekaisaran nya itu.


Xin Quan berlari menuju dekapan sang ayah dan langsung memeluknya, meluapkan kerinduan nya sebentar sebelum akhir nya dia sadar belum menyapa kaisar Yuan dan juga keluarga istana.


"Xin Quan memberikan penghormatan pada yang mulia kaisar Yuan, semoga yang mulia selalu di berkati umur panjang dan kejayaan" ucap Xin Quan sambil membungkukkan badannya.


"Bangunlah.. Mari kita masuk" ucap kaisar Yuan kembali mengajak mereka ke aula istana.


Sesampainya di aula, pangeran kedua dan pangeran ketiga segera melaporkan kejadian yang menimpa putri Xin Quan dan juga pangeran keempat dan pangeran kelima, kaisar Yuan terlihat sangat geram saat mendengar cerita itu, dengan mata yang merah dan juga tangan yang terkepal, kaisar Yuan segera memanggil prajurit nya.


"Prajurit.. Segera panggil jendral Liu kesini" ucap nya, sorot matanya terlihat begitu emosi dan juga kesal.


Lima belas menit berlalu, jendral Liu pun datang menghadap kaisar Yuan, sambil membungkuk memberi penghormatan.


"Salam yang mulia.." ucap jendral Liu


Kaisar Yuan yang melihat kedatangan jendralnya segera memberi perintah dengan tegas, aura kemarahan masih terdengar dalam ucapan nya.


"Bawa dua ribu orang prajurit dan kepung daerah utara, tangkap pangeran keenam beserta orang-orang nya, jika mereka melawan.. BUNUH" titah kaisar Yuan terdengar tanpa perasaan.


Jendral Liu yang mendengar perintah itu pun segera bergerak meninggalkan aula dan mengumpulkan prajurit pilihannya, kali ini dia tak bisa lagi menganggap enteng ucapan kaisar Yuan, ini mutlak perintah pembantaian secara tidak langsung pada orang-orang pangeran keenam.


Sementara Xin Quan yang saat ini telah selesai beristirahat di paviliun tamu, di kejutkan dengan kedatangan pangeran ke tujuh.


Wajah pemuda itu nampak emosi, dia benar-benar tak suka pada Xin Quan yang menurut penilaian nya telah menyebabkan pertumpahan darah saudaranya.


"Salam pangeran ketujuh" ucap Xin Quan sedikit membungkuk.


"Tak perlu berbasa-basi yang tak penting. Pangeran ini datang untuk menanyakan padamu, apa kau begitu suka menjadi rebutan ke tiga saudara ku? Kau bisa bersikap pura-pura baik di depan semua orang, tapi pangeran ini tak akan pernah tertipu" ujar pangeran ketujuh menohok.


Xin Quan terdiam sambil mengerutkan dahinya "Inikah pangeran ketujuh? Bukannya mengkhawatirkan calon tunangan nya yang di culik, tapi malah mencerca dengan ucapan yang begitu tak masuk akal" pikir Xin Quan


"Apa yang ingin kau bicarakan sebenarnya pangeran?" tanya Xin Quan dengan nada setenang mungkin, meskipun hatinya saat ini begitu kecewa dengan sikap yang di tunjukkan oleh pemuda yang di cintainya itu.


"Rupanya kau cukup pintar putri Xin Quan.. Baiklah, aku akan mengatakan maksudku secara langsung padamu, batalkan pertunangan ini dan kau bebas, pangeran ini tidak ingin memiliki tunangan yang pernah di culik. Akan muncul rumor yang buruk tentang pangeran ini jika harus bertunangan dan menikahi wanita yang sudah ternoda seperti mu" ucap pangeran ke tujuh tanpa basa basi.


Xin Quan terhenyak mendengar ucapan dari pangeran ketujuh, hatinya terasa tercubit, darah nya juga terasa mendidih, pemuda yang dia cintai ternyata tak lebih dari pemuda yang picik dan juga munafik.


"Kenapa tidak kau sendiri yang mengatakan nya pangeran? Bukankah kau juga memiliki mulut? Dan apa tadi? Ternoda? Aku tak habis pikir dengan otak kotor mu itu, tapi aku beruntung karena mengetahui hal ini sebelum pertunangan. Baik, besok pagi aku sendiri yang akan mengatakan nya pada ayahku dan juga kaisar Yuan ayah mu" ucap Xin Quan sambil berjalan meninggalkan pangeran ke tujuh, setetes bening terjun dari matanya yang indah dan dia mengusapnya perlahan.


"Ini adalah air mata pertama dan terakhir untukmu, setelah ini aku tak akan pernah menangisimu lagi, kau tak pantas pangeran ke tujuh" gumam Xin Quan pelan sambil mengepalkan tangannya.