2 GADIS SADIS DARI ZAMAN MODERN

2 GADIS SADIS DARI ZAMAN MODERN
Part 48


Pangeran kedua beserta pangeran ketiga mendelik ke arah ibu mereka, pandangannya terlihat begitu tajam penuh kekesalan.


"Ibu, anak mu ini tak sakit. Kenapa kalian malah menyuruh para pelayan memanggil tabib?" ucap pangeran kedua sambil mendengus kesal.


"Apa ibu sakit?" tanya pangeran ketiga sambil menyentuh dahi selir agung dan juga selir kehormatan secara bergantian dengan punggung tangannya.


"Tapi tak panas" lanjut nya sambil mengerutkan dahi.


Sontak kedua selir tingkat satu itu pun melotot nyalang pada kedua putra mereka yang tak peka.


"Apa kalian ini benar-benar bodoh? Sepertinya aku harus mencarikan suami baru untuk menantu ku itu" ucap selir agung sambil berdiri dan langsung berkacak pinggang.


"Kalian benar-benar tidak peka" rutuk selir kehormatan ikut berdiri di samping selir agung.


"Ibu.. Putramu ini sedang mengeluh padamu, tapi kalian malah memarahiku" ucap pangeran kedua dengan wajah bingung.


"Berapa lama kau jadi pria?" tanya selir agung sambil menunjuk wajah putranya.


"Ibu.. Sejak dilahirkan oleh ibu, aku memang pria" ucap pangeran kedua menahan geram melihat tingkah ibu nya.


"Ada apa ini?" suara bariton terdengar di belakang mereka.


Serentak mereka pun menoleh ke belakang dan melihat kaisar Yuan yang saat ini telah berdiri di belakang mereka.


"Ayahanda.. Salam kepada yang mulia kaisar" ucap pangeran kedua dan pangeran ketiga.


"Salam kepada Yang mulia kaisar" kedua selir itu pun melakukan penghormatan.


"Ayahanda.. Kedua ibunda saat ini sedang menindas kami" jawab pangeran ketiga dengan wajah polos nya. Ujung matanya melirik ke arah kedua selir tingkat satu itu sambil memeletkan lidah nya.


Kaisar pun melirik kearah kedua selir nya itu, dengan dahi yang berkerut menandakan tidak mengerti.


"Yang mulia, ini tidak seperti yang mereka ucapkan" ucap kedua selir itu sambil mengajak kaisar Yuan untuk duduk di gazebo.


Selir agung pun segera menceritakan semua keluhan pangeran kedua dan pangeran ketiga.


Sedangkan kaisar Yuan hanya manggut-manggut mendengar penjelasan dari kedua selir nya itu.


Tak lama, seorang pelayan datang dengan tergopoh-gopoh sambil membawa seorang tabib tua.


"Hormat kepada yang mulia kaisar, para selir dan juga pangeran" ucap pelayan beserta tabib itu serempak sambil membungkukkan badannya.


Wajah selir agung beserta selir kehormatan pun langsung sumringah, mereka langsung berdiri menyambut tabib tua itu.


"Tabib Mo cepat ikut aku dan periksa menantuku" ucap selir agung


"Tidak tabib Mo, kau harus ikut denganku dan memeriksa menantuku" ucap selir kehormatan


"Tidak-tidak tabib Mo, kau harus memeriksa menantuku terlebih dahulu" ucap selir agung


"Menantuku dulu" ucap selir kehormatan tak mau kalah


"Adik, aku lebih tua darimu. Jadi kau harus mengalah" ucap selir agung sambil berkacak pinggang


"Justru karena kau lebih tua dari ku kakak, kau harus mengalah padaku" ucap selir kehormatan tak mau mengalah.


Pangeran kedua, pangeran ketiga dan juga kaisar hanya memijit kening nya melihat tindakan kedua selir itu.


"Yang mulia.." ucap tabib Mo pada kaisar Yuan. Berharap pria nomor satu itu bisa membantunya.


"Cukup.. Panggil putri An dan juga putri Han ke aula. Biar tabib Mo memeriksa keduanya disana" putus kaisar sambil berjalan di ikuti pangeran kedua dan juga pangeran ketiga.


"Aku akan menjemput menantuku" ucap selir agung setengah berlari diikuti para pelayannya.


Merasa tak mau kalah, selir kehormatan pun langsung berjalan ke arah paviliun menantunya di ikuti para pelayan nya.


Sementara tabib Mo mematung di tempat, ini adalah pemandangan yang sangat langka melihat kelakuan barbar dari kedua selir kaisar itu.


"Duduklah.." ucap Kaisar menengahi kedua selirnya.


Selir agung pun segera duduk di sebelah kiri kaisar dan srlir kehormatan di sebelah kanannya.


Sedangkan Ai Li dan An Xia saling pandang melihat kelakuan ibu mertua mereka yang berbeda.


Tabib Mo pun segera bergerak ke arah An Xia, tapi saat tangan nya ingin menyentuh nadi An Xia, suara selir agung terdengar melengking menegurnya.


"Tabib Mo, menantuku dulu yang harus kau periksa" ucap nya sambil berdiri dan berkacak pinggang.


"Tidak tabib Mo, teruskan saja dan periksa menantuku dengan cepat" ucap selir kehormatan


"Duduk.." suara kaisar Yuan terdengar keras dan sangat tegas.


Akhirnya kedua selir itu pun duduk dan diam. Tabib Mo segera berjalan ke arah Ai Li.


"Tolong ulurkan tangannya tuan putri, biarkan tabib tua ini memeriksa anda" ucap tabib Mo dengan sopan pada Ai Li


"Tapi tabib.. Kami tidak sakit" ucap Ai Li sambil melirik kekiri dan kekanan.


"Ikuti saja, biarkan kedua ibu mertua kalian itu puas hati agar tak terus menerus bertengkar" ucap kaisar.


Akhirnya Ai Li pun mengulurkan tangannya dan membiarkan tabib Mo memeriksa nya.


Dahi tabib tua itu berkerut beberapa kali, kepala nya terlihat manggut-manggut sebelum akhirnya dia pun tersenyum.


"Selamat yang mulia, Putri Han saat ini sedang mengandung" ucap tabib Mo.


Selir agung yang mendengar berita itu langsung tertawa sambil meloncat-loncat dengan bahagia, seperti nya dia lupa tentang etika seorang selir agung, sedangkan selir kehormatan cemberut di kursinya.


Tak lama tabib Mo punberpindah pada An Xia dan memeriksa denyut nadinya sebelum akhirnya mengucapkan kata-kata yang membuat pangeran ketiga terjengkang dengan tak elit nya.


"Yang mulia, Putri An juga sedang mengandung, selamat yang mulia" ucap tabib han.


Selir kehormatan bersorak dengan gembira sambil meloncat dari kursinya dan tertawa.


"Hahaha.. Selamat kakak, sebentar lagi kau akan memiliki cucu" ucap selir kehormatan pada selir agung


"Selamat juga untukmu adik, kau akan segera menjadi nenek" ucap selir agung membalas ucapan selir kehormatan.


Kedua selir itu pun langsung berpelukan menyalurkan kebahagiaan mereka, sedangkan kedua pangeran itu hampir pingsan melihat kelakuan ajaib kedua ibu mereka.


Ai Li dan An Xia hanya terbengong di kursinya melihat tingkah kedua selir itu, sejenak mereka lupa dengan ucapan tabib Mo yang mengatakan jika mereka sedang hamil


"Sepertinya ibu mertuamu itu sudah gila" ucap An Xia berbisik pada Ai Li.


"Ya.. dan ibu mertuamu juga sama gila nya" bisik Ai Li


Sementara kedua selir itu langsung melirik pada kedua menantu mereka yang terlihat biasa saja, mereka pun heran dengan respon kedua menantunya itu.


"Apa kalian tidak bahagia bisa menjadi seorang ibu?" tanya selir agung pada Ai Li dan An Xia. Sedangkan yang ditanya baru saja sadar dengan apa yang di ucapkan oleh tabib Mo tadi.


"Apaa? Kami hamil?" keduanya seakan tak percaya mendengar berita itu.


Selir agung dan selir kehormatan pun berjalan ke arah kedua putra mereka sambil tangan kanan nya menjewer telinga masing-masing putra nya itu.


"Layani menantuku dengan baik" perintah selir agung pada putra nya


"Kau juga harus bersikap baik pada istrimu" ucap selir kehormatan sambil melepaskan jewerannya dari telinga pangeran ketiga.


"Ayo kita minum teh di gazebo kakak" ajak selir kehormatan sambil menggandeng tangan selir agung


"Tentu saja" jawab selir agung sambil menepuk-nepuk tangan selir kehormatan.


Kaisar? Jangan ditanya.. Dia benar-benar takjub dengan kedua selir nya itu yang seakan-akan lupa jika dirinya ada di ruangan yang sama dengan mereka.