
Yun tertegun mendengar ucapan pedas yang terlontar dari mulut Yuan Jicheng, bagaimana bisa dia mengakhiri hidup nya sendiri? Sementara dia hanya berpura-pura saja sejak tadi agar Yuan Jicheng merasa iba dan mau memaafkannya.
Tapi apa yang terjadi sekarang? Yuan Jicheng malah melemparkan palu padanya dan menyuruh dia untuk mengakhiri hidupnya.
"Tidak.. Ini tidak benar, bagaimana mungkin aku bisa mati seperti itu? Sementara aku belum mendapatkan posisi putri di kekaisaran ini. Aku harus melakukan sesuatu agar pangeran Yuan Jicheng menarik kembali kata-kata nya!" pikir Yun.
Yuan Jicheng hanya menatap sinis selir nya itu sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di dinding, dia tentu tahu apa yang di pikirkan oleh selir nya itu, tapi apa Yuan Jicheng peduli? Tentu saja tidak, dimata Yuan Jicheng hanya Xin Quan lah yang pantas menjadi istri nya.
Yun menggelengkan kepalanya perlahan dan kembali merangkak di lantai sambil menyentuh kaki Yuan Jicheng.
Yun ingin mencoba sekali lagi untuk meluluhkan hati Yuan Jicheng meski harus terus memelas sekali pun.
"Pangeran.. Maafkan hamba" ucap Yun kembali sambil memeluk kaki Yuan Jicheng.
Air mata mengalir dengan deras dari pelupuk matanya, Yun terlihat begitu rapuh dan juga menyedihkan saat ini.
Yuan Jicheng hanya melirik sekilas, sambil menyunggingkan senyuman sinis.
Duk...
Brak...
Dengan kencang, Yuan Jicheng langsung menendang tubuh Yun hingga terpental dan langsung menabrak dinding.
Yun langsung ambruk dengan beberapa tulang yang patah karena tendangan Yuan Jicheng yang tak main-main, bahkan saat ini dirinya tak lagi bisa bangun.
Rasa sakit kian mendera Yun, bukan hanya tubuh nya yang terasa sakit, tapi juga hatinya yang terasa lebih pedih.
Bagaimana mungkin Yuan Jicheng bisa melakukan hal itu pada dirinya yang selama ini setia dan selalu mendampingi Yuan Jicheng dalam segala masalah hidup nya? Sebegitu rendahkah dia hingga Yuan Jicheng bahkan tak memiliki maaf untuknya dan berusaha untuk menyakitinya!?
Yun benar-benar tak habis fikir, bagaimana bisa seorang Yuan Jicheng setia pada seorang wanita? Bahkan selama ini Yuan Jicheng selalu bermain-main dengan banyak wanita.
Yun ingin sekali marah dan memaki Xin Quan yang telah membuat Yuan Jicheng berubah dan tak memperhatikan dirinya lagi.
Bukankah selama ini Yuan Jicheng selalu mengikuti semua ucapan nya? Bahkan Mei dan Yui pun tak bisa mengambil perhatian Yuan Jicheng darinya.
Lalu kenapa saat ini dia merasa telah di kalahkan dan tak di perdulikan oleh Yuan Jicheng?
Yun terus mengutuk Xin Quan dalam hati dan mengumpat Yuan Jicheng, kali ini dia tak tahu bisa selamat atau tidak dari kemarahan Yuan Jicheng.
"Apa sudah cukup berfikir nya selir Yun? Kau terlalu banyak menghabiskan waktuku untuk melakukan hal yang sia-sia disini!" kesal Yuan Jicheng sambil mendekati selir nya.
Tangan Yuan Jicheng mengelus rambut Yun dengan sangat lembut, tapi sedetik kemudian elusan itu berubah menjadi jambakkan yang sangat kuat hingga wajah Yun mendongak ke atas.
Mata Yun langsung terpejam, tak memiliki keberanian lagi untuk menatap Yuan Jicheng yang semakin berang.
Krak...
Yuan Jicheng langsung memelintir leher Yun dengan tanpa berperasaan dan membuat mata selir itu melotot, hingga akhir nya menghembuskan nafas terakhir nya.
Setelah itu Yuan Jicheng kembali ke paviliun milik nya untuk bertemu dengan istri kesayangan nya dengan wajah tanpa dosa.
Siapa yang tahu jika saat ini Yuan Jicheng telah membunuh? Jika bukan karena melihat sendiri kejadian itu, siapa pun bahkan tak akan percaya.
Yuan Jicheng terlihat begitu santai seolah telah menyingkirkan hama dalam hidup nya, tak ada raut kemarahan atau kekecewaan lagi di wajahnya, hanya ada raut bahagia yang terlihat.
Apa lagi jika melihat sorot mata Yuan Jicheng yang teduh, semua orang pasti mengira jika dirinya seorang yang sangat penyayang.
Tak ada satu pun yang mengira jika ada iblis yang bersemayam dan tertidur dalam dirinya.
Para pelayan yang melihat kejadian itu pun bergidik ngeri, mereka tak akan melakukan kesalahan apa pun pada Xin Quan, mereka sungguh masih menyayangi nyawa mereka.
Lain lagi dengan selir Mei saat ini, setelah keluar dari istana kekaisaran Yuan, selir itu segera pergi ke tempat penjualan obat-obatan herbal untuk membeli racun yang akan dia berikan untuk Xin Quan.
Bahkan Mei juga telah meminta para pembunuh bayaran untuk menghabisi Xin Quan.
Mei tak ingin melakukan kesalahan yang akan menyulitkannya di kemudian hari, jadi dia menutupi identitas nya sebagai selir dari Yuan Jicheng dan berpura-pura menjadi putri seorang bangsawan saat menemui para pembunuh bayaran itu.
Mei memang sedikit lebih pintar dari Yun, apalagi dirinya merupakan pelayan pribadi pangeran keenam yang penuh dengan otak licik.
Tentu saja Mei sangat tahu dengan apa bahaya dari perbuatan nya kali ini, karena itulah Mei mengantisipasi nya terlebih dahulu sebelum melakukan semua tindakannya itu.
Mei akan menggunakan pelayan dari Xin Quan sendiri untuk meracuni musuh nya itu, dia sengaja tak ingin memberikan perintah pada para pelayan nya dengan alasan keamanan bersama.
Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Mei pun segera mengajak pelayan pribadinya untuk kembali ke istana dan memulai rencana nya.
"Ayo kita kembali ke istana!" ajak Mei sambil melangkah kan kakinya menaiki kereta istana.
Pelayan itu pun dengan patuh mengikuti langkah majikannya, dia tak ingin melakukan kesalahan yang akan membuat nya dalam bahaya, tentu saja hal itu dia lakukan agar tak memancing amarah dari selir Mei.
Mei sebenarnya juga bukan orang yang baik, mengikuti Yuan Jicheng hanya untuk menyelamatkan hidup nya agar tak di bantai saat para jendral dan para prajurit mendatngi kediaman pangeran keempat di daerah utara saat itu.
Apa lagi Mei melihat dengan mata dan juga kepalanya sendiri bagaimana pangeran keenam yang merupakan majikan nya itu di bantai dengan tanpa perasaan, membuat Mei harus berfikir cepat agar tak ikut mati.
Akhirnya Mei pun mengikuti Yuan Jicheng dan berusaha untuk mendapatkan tempat di sisi mantan pangeran ke lima kekaisaran Yuan itu.
Tak lupa Mei pun membeli obat tidur agar Yuan Jicheng bisa bersamanya malam nanti, dia tak pernah tahu apa yang terjadi di dalam istana kekaisaran Yuan.
Sesampainya kereta yang di tumpangi oleh Mei di istana, dia di kejutkan dengan kematian tragis yang menimpa salah satu teman nya sekaligus rival cintanya yaitu Yun.
Meskipun Mei sangat penasaran dengan penyebab kematian Yun, tapi dia tak memiliki cukup keberanian untuk mempertanyakan nya, baginya saat ini yang terpenting Yuan Jicheng bisa dia taklukan kembali dengan cara apa pun.
Mei tak peduli lagi dengan yang lain nya. Kematian Yun baginya justru sangat bagus karena mengurangi saingan nya dalam memperebutkan cinta Yuan Jicheng.