2 GADIS SADIS DARI ZAMAN MODERN

2 GADIS SADIS DARI ZAMAN MODERN
Part 111


Yuan Jicheng memalingkan wajah nya ke arah lain, dia paling tak bisa marah pada istri kecilnya itu, apalagi saat ini Xin Quan tengah memasang wajah tak berdayanya membuat hati Yuan Jicheng menjadi luluh.


Grep...


Si mantan playboy cap burung unta itu pun langsung memeluk tubuh istrinya dengan sangat lembut, bagaimana bisa dia marah pada Xin Quan? Sementara Xin Quan adalah belahan jiwa sekaligus harta berharga milik nya yang paling dia cintai.


Akhirnya Xin Quan pun menangis saat merasakan dekapan hangat dari sang suami yang selalu begitu memanjakan nya, dia merasakan kehangatan yang menjalar di hatinya yang membuatnya selalu merasa tenang dan juga nyaman saat berada di samping Yuan Jicheng.


Sejak kehamilan pertama nya ini, Xin Quan terlihat semakin posesif pada sang suami, bahkan para pelayan yang terbiasa melayani Yuan Jicheng pun di usir nya, kini dia lebih protektif lagi menjaga semua milik nya agar tak tersentuh tangan wanita lain.


Bukan tanpa alasan Xin Quan melakukan itu, tapi kadang-kadang para pelayan itu terlihat bersikap genit pada suaminya hingga menimbulkan reaksi kecemburuan yang membludak di hati Xin Quan.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan di pintu kamar Xin Quan pun terdengar dan berhasil membuyarkan suasana romantis antara Xin Quan dan juga Yuan Jicheng.


Yuan Jicheng segera menyeka air mata yang mengalir di pipi istri kesayangan nya sambil mengecup kening nya dengan penuh kelembutan.


Pintu pun terbuka, dua orang pelayan memasuki kamar Xin Quan mengantarkan seorang tabib wanita yang akan memeriksa keadaan si ibu hamil itu.


Setelah di persilakan, tabib itu pun segera mengecek denyut nadi Xin Quan, dahi tabib itu sejenak berkerut dengan mata terpejam, kepalanya mengangguk-angguk hingga akhirnya dia pun tersenyum.


"Ibu dan bayi nya baik-baik saja pangeran, tapi sebaiknya tuan putri jangan terlalu banyak bergerak terlebih dahulu, beristirahat beberapa hari akan membuat tuan putri lebih segar. Dan tolong jangan terlalu banyak berfikir, tuan putri harus tetap merasa tenang" ucap tabib wanita itu sambil melepaskan pegangan tangannya dari pergelangan tangan Xin Quan.


"Apa ada makanan atau minuman yang tidak boleh di makan oleh istriku?" tanya Yuan Jicheng.


Tabib itu pun tersenyum saat mendengar pertanyaan yang di ajukan calon ayah itu, betapa beruntung nya Xin Quan memiliki suami yang begitu peduli terhadap nya.


"Hindari saja makanan yang pedas, selain itu tuan putri boleh memakan apa pun" ucap tabib wanita itu sambil menyerahkan resep obat yang telah dia tulis pada Yuan Jicheng.


Yuan Jicheng menerima resep obat itu dan langsung memanggil salah seorang kepercayaan nya untuk mencarikan semua herbal yang di butuhkan untuk pemulihan kesehatan sang istri.


Kali ini, dia ingin yang terbaik untuk istri dan juga anak nya, Yuan Jicheng juga meminta Xin Quan untuk beristirahat.


Selepas kepergian tabib wanita itu, Xin Quan terlihat cemberut, apa lagi melihat suaminya berjalan mondar mandir bersama beberapa orang pelayan muda.


Yuan Jicheng sengaja mengatur semua kebutuhannya bersama dengan sang istri, dia tak ingin Xin Quan turun tangan lagi, baginya istrinya itu kini harus dia jaga dengan sangat ketat.


Setelah seluruh pengaturan yang dibuat oleh Yuan Jicheng selesai, dengan langkah lebar dan senyum manis yang tak pernah luntur dari bibir nya, si calon ayah itu pun segera memasuki kamar nya dan menemui istri tercintanya yang kini berwajah masam.


Wajah Xin Quan terlihat di tekuk, membuat Yuan Jicheng semakin gemas melihat nya, akhir nya dia pun mendudukkan dirinya di atas tempat tidur di samping sang istri.


"Apa ada yang kau inginkan?" tanya Yuan Jicheng sambil menatap wajah sang istri yang kini menatap nya dengan sengit.


Xin Quan hanya menggelengkan kepalanya lalu memalingkan muka nya ke arah lain.


Yuan Jicheng di buat panik setengah mati melihat sang istri yang berubah drastis itu, dia sungguh tak tahu kesalahan apa yang telah di perbuat nya hingga membuat ibu hamil itu marah besar.


Sambil memeluk istrinya dengan perlahan, Yuan Jicheng membenamkan wajah nya pada ceruk leher Xin Quan, membuat ibu hamil itu merinding geli karena kelakuan suami bucin nya.


"Apa kau marah? Jika iya, katakan dimana salah ku?" tanya Yuan Jicheng sambil melingkarkan kedua tangannya di perut sang istri.


Xin Quan melotot mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh suaminya itu, apakah Yuan Jicheng ini bodoh? Hingga tak tahu jika saat ini istrinya itu sedang cemburu!


Akhirnya Xin Quan pun mendengus, dia sungguh menyayangkan tingkat kepekaan suaminya yang terlalu minus terhadap perasaan sang istri.


Akhirnya dengan berat hati Xin Quan pun mengatakan ketidak senangannya karena suami nya itu berdekatan dengan para pelayan, apalagi jika di ingat kejadian masa lalu Yuan Jicheng yang sangat menyukai para pelayan muda itu.


"Jauhi para pelayan itu! Aku tak ingin milik ku di sentuh tangan kotor mereka!" ucap Xin Quan.


Akhirnya Yuan Jicheng pun menyadari alasan dari kemarahan sang istri dan segera meminta maaf.


Xin Quan pun tak memperdebatkan kembali masalah itu, dia juga mengangkat jari kelingking nya dan mengaitkannya pada jari sang suami.


Akhirnya pasangan suami istri itu pun kembali berbaikan dan beristirahat dengan damai di peraduan mereka sambil saling memeluk untuk saling menghangatkan.


Keesokan harinya, matahari belum pun menampakkan sinar nya, tapi suara langkah kaki sekumpulan orang yang melewati paviliun milik Yuan Jicheng dan juga Xin Quan membuat si ibu hamil itu pun menggeliatkan badannya sambil terus menggerutu.


Bagaimana tidak? Mimpi indahnya kini terganggu oleh suara teriakan dan juga pekikan para pelayan, di tambah lagi derap kaki para prajurit yang membuat kedua telinga nya menjadi gatal.


Suara-suara itu terdengar semakin ramai, apalagi kini ada seseorang yang tengah mengetuk pintu kamar nya dengan sangat kencang, benar-benar tak sopan.


Tok... Tok... Tok...


"Pangeraaaan... Putriii" panggil seorang pelayan dari luar.


Yuan Jicheng bergegas bangun sambil melihat sang istri yang kini terus bersungut dan juga mengumpat orang yang tengah mengganggu kenyamanan nya.


"Tidurlah.." ucap Yuan Jicheng sambil bangkit dari tempat tidurnya dan segera membetulkan selimut sang istri.


Setelah kembali memakai pakaian luar nya, Yuan Jicheng pun bergegas menuju ke arah pintu dan membuka nya, seorang pelayan berdiri di sana dengan nafas yang memburu. Nampaknya pelayan itu baru saja berlari menuju ke kamar mereka.


"Salam pangeran!" ucap pelayan itu sambil membungkuk.


"Ada apa?" Yuan Jicheng bertanya dengan dingin, wajahnya terlihat acuh tak acuh hingga membuat nyali si pelayan yang hendak melapor itu pun ciut dan kembali menunduk dalam.


"I-itu.. I-itu.. Selir Mei dan juga Selir Yui di temukan tewas di paviliun nya" ucap pelayan itu dengan suara kecil dan juga tubuh yang gemetar.


Yuan Jicheng mengangkat kedua bahunya sambil kembali berjalan menuju peraduan, tempat sang istri yang kembali terlelap.


"Lemparkan saja mayat kedua selir tak berguna itu ke hutan! Dan satu lagi, suruh para prajurit untuk membereskan mayat dari para pembunuh bayaran yang di kirim kedua selir bodoh itu! Aku sudah mencincang nya di belakang paviliun ini!" ucap Yuan Jicheng.


Pelayan itu hampir saja pingsan mendengar ucapan sarkas dari Yuan Jicheng, kedua lutut nya pun terasa lemas hingga


Bruk...


Dia pun jatuh berlutut di lantai, tepat di depan kamar Yuan Jicheng.


"Pergilah! Dan tutup kembali pintu kamarku!" ucap Yuan Jicheng sambil membaringkan kembali tubuh nya di samping sang istri yang diam-diam menguping pembicaraannya dengan pelayan itu.


Pelayan itu pun bergegas bangun dan segera menutup pintu kamar Yuan Jicheng dan juga Xin Quan, kemudian kembali menuju paviliun kedua selir itu dan menyampaikan perintah dari Yuan Jicheng.


Para prajurit dengan cepat bergegas mendatangi kediaman Yuan Jicheng, mereka juga telah membawa karung untuk mengemas tubuh para pembunuh bayaran yang ada di belakang paviliun itu.


Betapa shock nya para prajurit saat melihat tubuh dari para pembunuh bayaran itu, Yuan Jicheng benar-benar telah mencincang tubuh mereka hingga kecil-kecil.


Satu persatu potongan tubuh itu pun mereka masukan ke dalam karung, dengan wajah yang sangat pucat.


Perut para prajurit pun seolah telah di aduk-aduk hingga akhirnya hal yang tak di inginkan pun terjadi.


Hoek...


Hoek...


Hoek...


Kedua puluh orang prajurit yang di tugaskan untuk membersihkan kekacauan yang di buat Yuan Jicheng pun langsung memuntahkan isi perut mereka karena mual.


Terima kasih banyak atas segala dukungan dari para pembaca semua yang selalu setia. Author sangat menghargai kehadiran beserta dukungan dari semuanya di karya author yang receh ini 🙏🙏🙏