
Selama satu bulan, seluruh anggota kekaisaran Yuan di buat sakit kepala karena mencari gadis yang menjadi kriteria pangeran ke tujuh. Mereka bahkan mengunjungi satu persatu kediaman milik para bangsawan dan juga pejabat istananya, namun sampai saat ini belum juga mereka temukan.
Pangeran ke tujuh selalu murung dan tak pernah mau keluar dari paviliun nya, dia yang baru saja beranjak dewasa dan mengenal cinta, harus berakhir patah hati hingga kehilangan semangat hidup nya.
Sementara itu di kekaisaran Xin, Xin Quan dan juga Yuan Jicheng telah berpamitan pada kaisar Xin. Setelah menikah, keduanya sepakat untuk membeli sebuah paviliun dan tinggal di sana, Kaisar Xin pun dengan berat hati mengizinkannya.
Paviliun yang di beli oleh Yuan Jicheng letaknya tak seberapa jauh dari istana kekaisaran, jika menggunakan kereta kuda hanya membutuhkan waktu dua jam saja.
Yuan Jicheng ingin menghabiskan banyak waktu bersama istri tercintanya, jadi dia terpaksa menggunakan berbagai macam cara untuk membujuk Xin Quan agar ikut pindah bersamanya.
Paviliun yang di beli Yuan Jicheng cukup besar, selain itu tempat nya pun sangat tenang dan damai, membuat Xin Quan menyukainya.
50 orang pelayan di pekerjakan di paviliun mereka, begitu juga dengan prajurit yang di pilih langsung oleh kaisar Xin untuk menjaga putri kesayangan nya ada sekitar 300 orang.
Kini keduanya bisa menikmati indah nya berumah tangga, sebelum ketiga pelayan yang akan segera di angkat menjadi selir itu datang ke kediaman mereka.
Xin Quan yang pada awalnya memikirkan untuk melenyapkan ketiga pelayan itu pun membatalkan rencana nya, selama suaminya itu benar-benar bisa menepati janji nya.
Selain itu, bukankah ini adalah salah satu cara untuk menguji kesetiaan suaminya itu? Xin Quan tidak ingin melewatkan hal itu.
Kedatangan ketiga pelayan itu di sambut baik oleh Xin Quan, ketiga nya di berikan tempat yang layak dan juga pasilitas yang cukup oleh Xin Quan.
Mereka di tempatkan di paviliun yang tak jauh dari paviliun utama Xin Quan, Yui di paviliun mawar, letak nya di samping kiri paviliun sakura milik Xin Quan.
Yun di tempatkan di paviliun anggrek yang letaknya di sebelah kanan paviliun sakura, dan Mei di tempatkan di paviliun anggrek, sebelah kiri paviliun mawar.
Yuan Jicheng sendiri tidur di paviliun yang sama dengan Xin Quan, dia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk terus menempel pada Xin Quan, apalagi istri sah nya itu semakin terlihat cantik.
Yui, Yun dan juga Mei tak pernah mempermasalahkan hal itu, mereka cukup mengerti dengan keinginan Yuan Jicheng dan mereka juga cukup puas dengan semua pengaturan yang di buat oleh Xin Quan.
Kehidupan keempat nya pun cukup harmonis dan juga rukun, Xin Quan memperlakukan ketiga selir suaminya itu dengan sangat baik dan adil hingga mereka tak saling iri satu sama lain.
Namun kebahagiaan mereka sepertinya tak bisa berlangsung lama, ada 3 orang yang menyusup ke kediaman mereka dan berpura-pura menjadi pelayan.
Ketiga nya adalah suruhan dari seseorang yang menginginkan kematian Yuan Jicheng dan juga Xin Quan.
Sebut saja nama nya Rien, Lien dan juga Lan, saat ini ketiga mata-mata yang di tempatkan di kediaman Yuan Jicheng itu mulai memperhatikan tata letak barang di kediaman, kebiasaan orang-orang yang ada di kediaman itu, hingga selera makan semua penghuninya.
Ketiganya akan berkumpul di gudang belakang kediaman setelah selesai melakukan tugas mereka sebagai pelayan dan berbagi informasi satu sama lain.
"Apa yang kau temukan Rien?" tanya Lien saat mereka bertiga berkumpul.
"Tch.. Sepertinya pangeran Yuan Jicheng itu tinggal satu kamar dengan putri Xin Quan, dan mereka banyak menghabiskan waktu bersama" ucap Rien sambil berdecih jengkel mengingat mangsa nya itu selalu berdua kemana pun pergi.
"Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Rien pada Lan.
"Ini adalah peta rumah ini, aku sudah membuatnya agar pasukan yang di kirim nanti bisa dengan mudah menyusup dan membunuh putri Xin Quan dan juga pangeran Yuan Jicheng." ucap Lan.
Peta yang dia buat benar-benar mendetail dan sangat bagus membuat kedua temannya itu tersenyum menyeringai.
"Lalu apa kau menemukan sesuatu?" tanya lan sambil mengangkat dagu nya ke arah Lien.
"Mereka memiliki kebiasaan berkumpul di meja makan untuk makan bersama, dan kadang mereka juga duduk di gazebo untuk minum teh sambil bercengkerama, aku pikir menambahkan sedikit racun pada makanan dan juga teh mereka tak terlalu buruk" ucap Lien.
"Aku rasa mereka terlalu membesar-besarkan masalah hingga mengatakan jika putri Xin Quan itu orang yang kuat dan juga sangat brutal. Kenyataan nya dia hanya gadis biasa yang lugu dan juga sangat polos, kita hanya harus sedikit memprovokasi nya agar bertengkar dengan selir-selir dari pangeran Yuan Jicheng" ucap Lien dengan yakin.
Kedua temannya pun mengangguk dan menyetujui ucapan Lien.
"Ingat tugas kita hanya memata-matai saja, saat ini biarkan tuan besar yang menentukan harus seperti apa mereka mati" ujar Rien yang mulai melihat keinginan membunuh di mata Lien dan juga Lan.
"Baiklah.. Aku akan mengirimkan peta ini besok pada tuan besar, agar mereka segera bergerak menyerang kediaman ini" ujar Lan sambil buru-buru menggulung kembali kertas itu dan menyimpan nya di lengan hanfu nya.
"Kasihan sekali nasib nona muda, memiliki kekasih yang tak bertanggung jawab dan juga sahabat yang munafik, berani-berani nya mereka menikah sementara nona muda kita terpuruk" ucap Lien.
"Kau tenang saja, pasukan dari perbatasan pasti akan segera bersiap menyerang kediaman ini, lagipula hanya ada 300 orang prajurit saja yang di pekerjakan di sini, itu berbanding jauh dengan pasukan kita yang jumlah nya hampir 5.000 orang." ucap Rien.
Seseorang saat ini tersenyum di kegelapan saat mendengar pembicaraan ketiga orang pelayan itu, sebuah senyum mengerikan tercetak dari sudut bibir nya.
"Sepertinya kau ingin bermain-main denganku teman? Baiklah aku akan menunggu mainan ku itu datang, beruntung sekali kau palu kecilku... Sebentar lagi kita pasti akan berpesta dengan darah orang yang ingin menghancurkanku itu" Seringai nya sambil melenggang pergi meninggalkantempat itu menuju ke ruang kerja suaminya.
Tok.. Tok.. Tok..
"Apa aku boleh masuk suamiku?" tanya nya saat sudah berada di depan ruang kerja Yuan Jicheng.
"Masuklah istriku.." jawab Yuan Jicheng dari dalam ruang kerjanya.
Tap...
Tap...
Tap...
Dengan langkah perlahan, wanita itu pun mulai membuka pintu dan berjalan menuju meja suaminya.
"Apa kedatangan ku ini mengganggumu suamiku?" tanya nya.
"Duduklah Quan'er, dan katakan ada apa hingga kau tak seperti biasanya mendatangi ruang kerjaku?" tanya Yuan Jicheng sambil bangkit dari tempat kerjanya dan melangkah menuju Xin Quan yang saat ini duduk di kursi yang tak jauh dari meja nya.