2 GADIS SADIS DARI ZAMAN MODERN

2 GADIS SADIS DARI ZAMAN MODERN
Part 82


Xin Quan melebarkan matanya saat mendengar semua cerita dari mulut Yuan Jicheng itu, dia benar-benar tak menduga jika selama ini Yuan Jicheng telah mengalami ketidakadilan di istananya sendiri oleh pelayan dari ibunda kandung nya sendiri.


"Pantas saja dia selalu berbuat seperti itu, mungkin dia sengaja mencari perhatian dari keluarganya" pikir Xin Quan sambil menatap iba pada calon suaminya itu.


"Apa kau pernah menyesali perbuatan mu itu Yuan Jicheng?" tanya Xin Quan


Yuan Jicheng hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap lekat mata cantik calon istrinya itu.


"Maafkan aku.." ucap nya sambil menunduk


"Kenapa kau meminta maaf padaku?" tanya Xin Quan sambil menatap tajam mata Yuan Jicheng


"Maaf.. Aku tak bisa menjadikanmu gadis pertama dalam hidupku, aku bahkan telah meniduri banyak sekali pelayan di paviliunku" ucap Yuan Jicheng sambil menunduk, penyesalan terlihat begitu dalam dari wajahnya.


Xin Quan menarik nafas panjang, ada rasa tak tega saat melihat wajah calon suaminya itu, apalagi saat dia tahu tentang masa lalu Yuan Jicheng yang buruk, membuat dia sedikit bersimpati padanya.


"Jika kau tak bisa menjadikan ku yang pertama dalam hidup mu, maka jadikan aku yang terakhir" ucap Xin Quan sambil menatap iba pada dirinya sendiri, bagaimana pun juga keputusannya untuk menikahi pemuda yang memiliki rumor buruk pasti akan berdampak besar dalam kehidupannya di masa mendatang.


"Aku bersumpah Quan'er.. Aku tak akan pernah menyentuh gadis mana pun mulai hari ini selain istriku nantinya" ucap Yuan Jicheng menegaskan.


"Bagaimana dengan ketiga pelayan itu? Bukankah sebentar lagi mereka bertiga juga akan jadi selir mu?" tanya Xin Quan


"Keputusan untuk menjadikan ketiga pelayan itu sebagai selirku kau sendiri yang membuat nya Quan'er, aku tetap pada janjiku.. Hanya kau yang akan ku sentuh" ucap Yuan Jicheng sambil memeluk tubuh gadis kecil nya yang sebentar lagi akan menjadi istri nya itu.


Xin Quan cukup puas mendengar jawaban dari Yuan Jicheng, bagaimanapun juga, dia sendiri yang telah menyetujui ketiga nya menjadi pelayan samping atau selir dari Yuan Jicheng.


"Baiklah.. Aku pegang kata-kata mu" ucap Xin Quan sambil menyandarkan tubuh nya pada Yuan Jicheng, merasakan detak jantung dari calon suaminya itu, membuat Xin Quan merasa beban yang ada di hatinya kini telah berkurang sedikit demi sedikit.


Akhirnya setelah 5 hari perjalanan, kereta kuda pun memasuki gerbang kekaisaran Xin, rakyat bersujud begitu kereta kuda milik kaisar Xin melewati mereka.


Setelah sampai di istana, kaisar Xin segera mengundang para petinggi istana nya untuk melakukan rapat, kali ini kaisar Xin menyampaikan keputusan putrinya untuk membatalkan rencana pertunangan dengan pangeran ketujuh dan memilih untuk menikahi Yuan Jicheng.


Aula rapat seketika riuh, semua orang menyampaikan pendapat mereka, perdebatan tak lagi bisa di hindari, hingga akhirnya kaisar Xin pun berdiri dan sedikit berteriak.


"Cukup... Hentikan perdebatan tak penting ini, semua ini adalah keputusan putriku Quan'er. Suka atau tidak suka Yuan Jicheng akan menjadi suami Quan'er" ucap kaisar Xin sambil berjalan keluar dari aula rapat.


Sementara itu di istana kekaisaran Yuan saat ini pangeran ke tujuh meluapkan emosi nya di lapangan pelatihan prajurit, dia dengan beringas mengayunkan pedang nya pada para prajurit hingga mengakibatkan beberapa orang prajurit tumbang dan luka-luka.


Pangeran ketujuh masih merasakan kekesalan dalam hati nya saat dia dikalahkan oleh pangeran terbuang seperti Yuan Jicheng.


Hatinya benar-benar merasa panas saat mendengar dengan telinga nya sendiri jika Xin Quan lebih memilih saudara kelima nya di bandingkan dirinya yang nota bene nya calon putra mahkota kekaisaran Yuan.


Sedangkan di gazebo paviliun anggrek bulan saat ini, Ai Li dan An Xia sedang mendengarkan informasi yang di berikan oleh mata-mata mereka tentang Yuan Jicheng.


Mereka pun cukup terkesan dengan tindakan cepat yang di lakukan oleh putri Xin Quan saat itu, keduanya juga yakin jika pangeran kelima atau Yuan Jicheng akan mencintai Xin Quan dan memperlakukannya dengan baik.


Ai Li dan An Xia benar-benar tak menyangka saat mendengar kisah masa kecil Yuan Jicheng dari mata-mata nya itu, selama ini keduanya berfikir jika semua putri dan pangeran hidup dengan baik dan penuh kasih sayang di istana, ternyata masih saja ada yang tidak mereka ketahui.


Kedua wanita hamil itu cukup bersimpati mendengar perjuangan Yuan Jicheng untuk mendapatkan Xin Quan, bahkan setelah di jebak oleh Xin Quan, Yuan Jicheng masih saja berusaha untuk terus mendapatkan hatinya, sungguh cinta yang sangat luar biasa dari seorang pemuda yang memiliki rumor buruk pada seorang gadis yang ternyata calon adik ipar nya sendiri.


Drama kehidupan memang tak pernah ada yang tahu, kita hanya mengikuti alur nya saja, kemana takdir akan membawa kita berlabuh.


Pangeran kedua beserta pangeran ketiga saat ini berada di ruang kerjanya, kedua nya sama sekali tak menduga jika pada akhirnya pangeran ketujuh akan jatuh hati pada pesona putri Xin Quan. Bukankah selama ini pangeran ke tujuh selalu menganggap gadis itu sebagai gadis manja yang sombong? gadis yang tidak memiliki kemampuan? Tapi lihatlah sekarang, dia senfiri yang terpuruk dalam cinta nya yang bertepuk sebelah tangan.


Kepergian putri Xin Quan seolah telah membawa setengah dari jiwa dan juga raga nya pangeran ketujuh, jiwanya seringkali terasa kosong, hatinya pun terus saja merasakan sesak dan sakit.


Hampa..


Itulah yang kini di rasakan pangeran ketujuh, dia telah menjadi patung hidup bagi semua orang, pandangannya selalu saja kosong bahkan seperti orang yang tidak memiliki keinginan untuk hidup.


Kaisar Yuan pun menggelar rapat beserta seluruh putri dan pangeran dan beberapa pejabat di istana nya, bahkan selir agung dan selir kehormatan pun kini ikut andil dalam rapat tersebut.


Tujuan nya hanya satu, mencari pengobatan untuk pangeran ke tujuh, Ai Li dan An Xia terlihat sangat malas mengikuti rapat itu, bukankah itu hanya masalah kecil? Carikan saja dia seorang gadis yang cantik dan memiliki sikap yang sama brutalnya seperti Xin Quan! Untuk apa membuat pertemuan dan menghabiskan begitu banyak waktu untuk berdebat?


Sungguh kehidupan di zaman ini belum lah ada apa-apa nya di bandingkan hidup di zaman modern.


"Putri Han, putri An, apakah kalian berdua memiliki solusi untuk masalah pangeran ketujuh?" tanya kaisar Yuan mengagetkan kedua wanita hamil yang sedang menggerutu dalam hati sejak tadi.


"Eh.. Bukankah itu hanya masalah kecil? Carikan saja seorang gadis yang cantik dan memiliki kepribadian seperti putri Xin Quan, dan jangan lupakan satu hal, gadis itu juga harus memiliki tingkat kepekaan yang tinggi dan cukup brutal dalam bertarung, ku pikir pangeran ketujuh menyukai tipe gadis seperti itu" sarkas An Xia sambil tersenyum sinis