
Keesokan harinya pangeran kelima terbangun dengan wajah yang sangat cerah, di samping nya Mei masih tertidur dengan sangat pulas. Menatap sekilas kearah wanita yang semalam telah melayaninya, pandangannya pun langsung beralih ke jendela.
Dengan segera pangeran kelima pun memanggil para pelayan untuk menyiapkan air untuk membersihkan diri.
Tok.. Tok.. Tok..
"Pangeran.. Air nya sudah siap" ucap seorang pelayan sambil mengetuk pintu kamar pangeran kelima.
Tak lama pangeran kelima pun langsung beranjak membuka pintu dan membiarkan para pelayan kediamannya untuk membantunya membersihkan diri dan juga berganti pakaian.
Rasa lelah yang tadi dirasakannya seketika menghilang saat tubuh nya berada dalam kolam pemandian air panas itu, wangi lavender yang menenangkan hati membuatnya semakin betah berlama-lama di tambah pijatan lembut di bahunya, membuat pangeran kelima merasa semakin rilex.
"Pijatanmu benar-benar enak Yun, sepertinya kau semakin ahli saja" ucap pangeran kelima memuji pelayannya yang bernana Yun.
"Terima kasih pujiannya pangeran, Yun merasa sangat tersanjung jika pangeran bisa menikmati pijatan Yun" ucap pelayan itu nampak malu-malu.
Sedangkan pangeran kelima hanya tersenyum kecil melihat tingkah grogi pelayannya itu.
"Apa kau akan mengikutiku ke daerah selatan? Sepertinya aku akan merindukan Pijatanmu ini saat nanti disana?" tanya pangeran kelima
"Apakah itu berarti Yun boleh ikut?" tanya Yun penuh harap
"Tentu saja, setelah membantu ku bersiap, kau Kemasi barang-barang mu nanti" ucap pengeran kelima sambil mencubit dagu pelayannya itu. Hingga membuat wajah Yun memerah.
"Baik.." ucap Yun dengan senyuman manis nya.
30 menit kemudian, pangeran kelima pun telah selesai membersihkan diri, Yun segera membantu junjungannya itu untuk berpakaian sambil sesekali matanya melirik ke arah Mei yang saat ini masih tertidur.
"Kenapa pelayan itu malas sekali? Dia bahkan bangun lebih siang dari pangeran" cibir Yun.
Pangeran kelima yang melihat kecemburuan dimata Yun pun segera berbalik.
"Mungkin dia sangat lelah setelah berolahraga semalam" ucap pangeran kelima tanpa memperdulikan wajah Yun yang semakin merah.
Setelah selesai membantu pangeran kelima untuk bersiap, Yun pun segera berpamitan untuk berkemas. Sedangkan pangeran kelima berjalan keluar menemui Shin.
"Apakah gadis itu sudah bangun?" tanya pangeran kelima sambil matanya menunjuk ke arah kamar yang di tempati Yui
"Sepertinya sudah, hanya saja gadis itu tadi menangis" ucap Shin.
Pangeran kelima langsung melangkahkan kakinya dan membuka pintu kamar itu. Di atas pembaringan, bisa pangeran kelima lihat Yui yang masih sesenggukan dengan matanya yang bengkak.
"Ada apa? Kenapa kau menangis?" tanya pangeran kelima sambil mendudukan dirinya di atas tempat tidur, tepatnya di samping Yui.
Yui hanya menundukkan kepalanya, tak berani melihat kearah pangeran kelima.
"Apakah masih sakit?" tanya pangeran kelima. Namun Yui lagi-lagi hanya diam.
"Atau kau marah karena aku meninggalkanmu tidur sendiri disini tadi malam?" tanya pangeran kelima membuat Yui mendongakkan kepalanya.
Akhirnya pangeran kelima pun bisa melihat dengan jelas wajah sayu gadis itu, meskipun matanya terlihat bengkak tapi tak melunturkan kecantikan alami gadis pelayan itu.
"Temui pangeran keenam dan katakan kalau kau mau berhenti jadi pelayan nya" ucap pangeran kelima
"Tapi bagaimana jika pangeran keenam marah dan bertanya alasannya?" tanya Yui lagi
"Tak perlu kau jawab, lagi pula aku yakin jika adik keenam sudah mengetahui kejadian tadi malam" ucap pangeran kelima hingga membuat Yui kaget.
"Aku akan menjemput mu nanti, pergilah" ucap pangeran kelima yang memang belum mau melepaskan mainannya itu.
Yui pun mengangguk dan akhirnya bangun dan kembali memakai pakaiannya, berjalan dengan tertatih-tatih karena masih merasakan sakit di area pribadinya.
Sesampai nya di kediaman pangeran keenam, Yui bisa melihat jika saat ini Mei pun sudah berada di sana, dengan langkah pelan Yui pun mendekat.
"Salam pangeran, maafkan Yui yang terlambat" ucap Yui sambil membungkuk
Sedangkan pangeran keenam memicingkan matanya melihat banyak nya tanda di leher dan juga dada pelayannya itu.
"Sepertinya kau sangat menikmati nya sampai-sampai kau kesiangan bangun hari ini" ucap pangeran keenam
"Maafkan Yui pangeran.." cicit Yui sambil terus menunduk.
Sedangkan pangeran keenam hanya menganggukkan kepalanya, seringaian tipis terlihat samar dari sudut bibir nya, melihat wajah Yui yang merah dan juga matanya yang bengkak, pangeran keenam yakin jika pelayannya yang satu ini memang dipaksa oleh kakak tirinya itu.
"Yui meminta izin untuk berhenti bekerja" ucap Yui sambil terus menunduk dan memilin ujung hanfu nya
"Apa dia memaksamu atau melakukan kekerasan padamu tadi malam?" tanya pangeran keenam. Yui hanya diam tak menjawab pertanyaan dari majikannya itu
"Ambil ini.. Kau bisa pergi dari sini. Jika suatu hari nanti kau ingin kembali bekerja disini, kau bisa mencariku" ucap pangeran keenam sambil melemparkan sekantung koin pada Yui.
Mei yang sejak tadi menyimak pembicaraan mereka pun merasa penasaran, dia pun segera membantu Yui untuk kembali ke kediaman pelayan dan berkemas.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Mei. Yui hanya mengangguk pelan.
Melihat wajah temannya yang pucat, Mei pun tak berani untuk bertanya lagi dan memutuskan untuk membantu Yui berkemas.
Yui pun segera berpamitan dan kembali ke rumahnya menemui ibu dan juga kedua adiknya, sementara pikiran nya terus melayang mengingat perkataan pangeran kelima pagi tadi.
Di gazebo nampak dua orang pria tampan sedang mengadu pada ibu mereka, muka mereka begitu kusut dan juga terlihat sangat kesal.
"Apa yang membuatmu berwajah seperti itu putraku? Apa kau memiliki masalah?" tanya selir agung pada putra nya.
"Ibu, saat ini aku sedang kesal. Istriku tak mau berdekatan denganku, aku bahkan sudah 7x mandi pagi ini dan juga menyemprotkan banyak parfum, tapi Ai Li terus saja mengatakan jika aku bau bu. Dia bahkan mengusirku dari kamar kami" adu pangeran kedua sambil menarik nafas panjang nya.
"Apakah istrimu juga seperti itu?" tanya selir kehormatan bertanya pada pangeran ketiga.
"Ibu, masalah ku bahkan lebih rumit lagi dari kakak kedua. An Xia terus saja menempeliku 3 hari terakhir ini, dia bahkan akan menangis atau pun mengamuk jika aku pergi. Aku tidak bisa melakukan apa pun, bahkan saat aku sedang bekerja pun dia akan terus mengikutiku dan menungguku selesai bekerja. Dia juga tidak mau mandi dan tidak mau makan jika bukan aku yang melayaninya" ucap pangeran ketiga sambil mengacak rambutnya frustasi.
Sementara kedua selir itu tersenyum dan saling memandang sebelum akhirnya mereka pun berteriak
"Pelayaaan.. Cepat panggil tabib"