
Pangeran keempat saat ini sudah sampai di daerah utara, setelah berkeliling beberapa saat dia pun segera kembali ke paviliun tempat tinggalnya untuk beristirahat.
Tak lama beberapa orang pun datang mengunjunginya dan langsung memberikan informasi yang sangat tidak masuk akal.
"Hormat hamba pangeran.." ucap mereka
"Berita apa saja yang kalian bawa?" tanya pangeran keempat
"Pangeran.. Beberapa bandit dan juga para pembunuh bayaran sudah mulai membuat berbagai masalah dan juga kekacauan di beberapa desa, sepertinya yang mulia belum turun tangan untuk menangani masalah ini" ucap seorang pelapor
"Biarkan saja.. Bagaimana dengan kaisar Jang?" tanya pangeran keempat
"Pasukan kaisar Jang sudah di bantai beberapa hari yang lalu, dan seluruh kekaisaran Jang juga sudah rata dengan tanah pangeran" ucap si pelapor
"Sepertinya aku tak bisa meremehkan kekuatan ayahanda dalam menangani masalah seperti ini" ucap pangeran keempat
"Pangeran keenam saat ini berusaha untuk mendapatkan simpati dan juga kepercayaan dari yang mulia beserta rakyat, sepertinya dia ingin menguasai kekaisaran Jang" ucap pelapor itu kembali
"Baiklah.. Awasi terus keadaan di istana dan cepat laporkan padaku jika ada berita yang penting" ucap pangeran keempat
"Kalian carilah beberapa budak untuk menyusup ke dalam paviliun saudara kedua dan ketigaku, dan berikan racun yang paling mematikan untuk istri dari kedua saudara ku itu" ucap pangeran keempat memberi perintah
"Baik pangeran.." mereka pun segera undur diri dan meninggalkan pangeran keempat.
"Sepertinya banyak hal yang sudah aku lewatkan selama ini.. Aku bahkan tak tahu bagaimana ayahanda bisa menangani kaisar Jang dengan cepat. Sepertinya aku harus mencari sekutu lain yang lebih kuat lagi" gumam pangeran keempat.
Sementara didaerah selatan, pangeran kelima juga terlihat mengeram marah, wajahnya tampak menggelap saat mendengar laporan dari orang-orang nya.
"Dasar brengsek, berani sekali dia mendekati dan memprovokasi ayahanda. Tunggu dan lihat saja apa yang bisa pangeran ini perbuat padamu saudara keenam" ucap pangeran kelima sambil mengepalkan tangannya.
"Shiin.." panggil pangeran keenam
"Hamba pangeran" Shin pun langsung datang dan menghadap pangeran kelima
"Kirim beberapa orang kepercayaan kita untuk mengawasi situasi di dalam istana. Sepertinya saudara keenam ku itu memiliki rencana busuk saat ini" perintah pangeran keenam
"Baik pangeran" Shin pun segera bergegas melaksanakan perintah dari pangeran kelima.
Tanpa mereka sadari, tak jauh dari sana seseorang tengah menguping pembicaraan mereka, dengan langkah cepat, orang itu pun langsung melompat dan menghilang.
Pangeran kelima yang merasakan kehadiran orang lain di dalam ruangannya pun segera waspada, namun dia tak bisa menemukan orang yang mencurigakan.
"Apa aku salah tebak?" pikirnya sambil berjalan kembali menuju kamar tidurnya.
Senyuman sinis tersungging di bibir gadis kecil itu, sambil memutar kuas lukisnya, dengan segera bangkit dan memberi perintah.
"Beritahu An Xia untuk segera datang kemari" ujar nya sambil meneruskan lukisannya yang belum selesai.
Pangeran keenam saat ini sedang tertawa di kamar nya, selama beberapa hari ini dia terus saja mendekati ayahnya, dia berpikir jika ayah nya saat ini menyembunyikan kekuatan besar dari dirinya, dia bahkan tak pernah tahu jika kekuatan besar itu adalah kedua saudari iparnya.
Pangeran keenam tidak hanya berambisi untuk menaklukan semua kekaisaran, dia bahkan berpikir untuk mendapatkan pasukan besar yang saat ini di miliki oleh ayah nya.
Dia pun mulai merencanakan berbagai macam taktik untuk menundukan hati ayahnya.
Berbagai rencana jahat telah tersusun di otak pangeran keenam, dia tak akan pernah mengalah sekalipun pada semua saudara tirinya itu. Baginya yang pantas menduduki singgasana kekaisaran hanyalah dirinya dan bukan orang lain.
Pangeran keenam tak pernah menyadari jika saat ini dirinya bukanlah pemburu melainkan target buruan semua orang, pangeran keempat dan juga pangeran kelima sudah merencanakan pembalasan dendam untuk dirinya.
"Ai Li.." panggil An Xia yang tiba-tiba saja muncul seperti jaelangkung
"Astaga.. Kau membuatku kaget saja" rutuk Ai Li sambil cemberut
"Kenapa kau menyuruhku kemari? Apa kau tahu? Kau mengganggu tidur cantikku saja" ucap An Xia sambil mendengus.
"Aku punya sedikit mainan, tadinya aku ingin berbagi denganmu. Tapi melihat wajah malasmu itu kurasa aku akan bermain sendiri saja" ucap Ai Li sambil menghentikan aktivitas nya melukis.
"Hai kenapa bisa seperti itu? Kita ini adalah bestie, sekarang katakan padaku, dimana mainannya?" tanya An Xia penuh semangat
Ai Li pun berjalan mendekat ke arah An Xia, dia membisikan sesuatu di telinga gadis itu hingga matanya membulat sempurna.
"Apa kau yakin?" tanya An Xia sekali lagi
Ai Li hanya menganggukkan kepala nya dengan santai sambil tersenyum kecil melihat raut wajah sahabatnya yang berbinar.
"Baiklah.. Aku akan ikut bermain bersamamu" ucap nya sambil menaik turunkan alis nya.
Seribu kelicikan nampak berkilat dalam sekejap dari matanya sebelum akhirnya dia menormalkan kembali tatapannya itu.
"Kau tak perlu khawatir.. Masalah ini kau serahkan saja padaku. Lagi pula orang-orang ku sudah lama tidak meregangkan otot mereka, kalau terlalu lama di biarkan takut nya otot mereka jadi kaku" ucap An Xia sambil terkikik pelan.
Pangeran kedua dan pangeran ketiga yang saat ini melihat Ai Li dan An Xia sedang saling berbisik pun spontan saling pandang, kedua nya merasakan hal buruk akan terjadi saat melihat wajah dari kedua istri mereka.
"Entah rencana apalagi yang ada di otak kecil mereka itu, terkadang aku merasa was-was jika mereka mulai berbisik seperti itu" ujar pangeran ketiga
"Bukan hanya kau, tapi aku juga" ucap pangeran kefua sambil pergi