
Sementara di tempat lain, tepatnya di daerah utara. Saat ini Xin Quan mulai mengerjapkan matanya, mengedarkan pandangan nya ke sekeliling ruangan asing sambil memperhatikan penampilannya.
Xin Quan sejak awal sudah menduga, jika penculikan terhadap dirinya adalah perbuatan dari pangeran kelima, jadi dia tak perlu terlalu khawatir akan adanya seseorang yang menyakitinya.
Xin Quan membuka jendela kamarnya, nampak sebuah taman yang begitu indah terhampar dihadapannya mengelilingi sebuah kolam yang kecil, Xin Quan tersenyum merasakan kenyamanan dalam hatinya,
Krieeet...
Suara pintu terbuka, seorang pelayan masuk menemui Xin Quan.
"Salam tuan putri.. Apakah tuan putri membutuhkan sesuatu?" tanya nya sedikit membungkuk.
"Siapa kau? Dan dimana ini?" tanya Xin Quan sambil menatap tajam pada pelayan itu.
"Tuan putri berada di daerah utara kekaisaran Yuan, hamba adalah pelayan yang di kirim pangeran untuk mengurus semua keperluan tuan putri" ucap nya sambil menunduk.
"Hhmm... Tolong siapkan air, aku harus membersihkan diri" ucap Xin Quan
Pelayan itu hampir saja terjatuh mendengar perkataan tolong meluncur dengan santai dari mulut Xin Quan yang merupakan seorang putri kekaisaran.
Dengan cepat, pelayan itu pun mengerjakan semua yang di minta Xin Quan, bahkan tanpa di suruh, pelayan itu juga membantu Xin Quan untuk mandi, berhias dan mengganti pakaian.
"Apakah tuan putri mau makan sekarang?" tanya pelayan itu kembali
"Ya.. Siapkan makanan nya" ucap Xin Quan
Pelayan itu pun bergegas menuju dapur dan mempersiapkan makanan untuk Xin Quan.
Selesai makan, Xin Quan berjalan-jalan di taman yang ada di depan kamar nya, dari kejauhan tampak seorang pemuda muncul dengan tergesa-gesa, bibir nya menyunggingkan senyuman manis.
Pemuda itu nampak nya begitu bahagia saat ini, mengetahui rencana nya untuk menculik Xin Quan telah berhasil.
"Apa kau senang disini?" terdengar suara yang begitu familiar di telinga Xin Quan, gadis itu pun menoleh dan melihat pemuda yang di kenal nya kini tengah tersenyum sambil berdiri memandanginya.
"Cukup nyaman.. Apalagi kau juga telah mengirimkan seorang pelayan yang cukup pandai dalam mengurusku. Tapi aku masih bingung, untuk apa kau menculikku pangeran kelima?" tanya Xin Quan
"Tentu saja untuk membuatmu kembali padaku" ucap pangeran kelima berterus terang.
Xin Quan pun menggembungkan pipi nya sambil menatap pangeran kelima penuh dengan ketidak puasan.
"Kau telah mengambil dayangku, dan sekarang kau juga menculikku. Apakah itu memang sifat mu pangeran?" Xin Quan mencibir pangeran ke lima.
"Itu tak benar, kejadian di paviliunmu adalah tindakan seseorang yang tidak menyukai kita, dan masalah dayangmu, saat ini ada di penjara bawah tanah, aku sengaja tak membunuh nya, aku ingin kau melihat bagaimana caraku menyiksa gadis j****g itu yang telah berusaha memisahkan kita" ucap pangeran kelima.
"Huh.. Selalu saja seperti itu, kau memang pandai mencari alasan" ucap Xin Quan sambil menatap sinis pangeran kelima.
"Tapi kali ini kau harus percaya pada ku, karena apa yang aku katakan ini kebenaran. Aku siap menghabisi siapa pun yang berani mendekati mu apalagi sampai menyentuhmu. Aku tak ingin membuatmu sedih dan kecewa lagi" ucap pangeran ke lima
"Tapi kalian sudah membunuh prajuritku dan juga melukai ayahanda ku, apakah itu yang kau sebut cinta?" Xin Quan semakin menggebu-gebu saat mengingat jika terakhir kalinya dia melihat ayahnya terluka
"Maafkan aku, tapi hanya itu satu-satunya cara untuk membawamu kembali kesisi ku" pangeran kelima pun menunduk.
"Rumor? Rumor apa?" pangeran kelima tak ingin ketinggalan berita dan langsung mengajukan pertanyaan nya kembali.
"Dia mengatakan pada semua orang jika aku adalah gadis yang sombong dan manja, tapi tak memiliki kemampuan apa pun" ucap Xin Quan.
"Baiklah.. Ayo ikuti aku, kali ini kau bisa menyiksa dayang itu sepuas hatimu, bahkan sampai dia mati sekalipun" ucap pangeran kelima sambil mengulurkan tangannya, dan di sambut dengan ceria oleh Xin Quan.
Tap...
Tap...
Tap...
Terdengar suara hentakan langkah yang menggema pada bangunan itu, pangeran keempat yang saat itu sedang bersantai pun menoleh dan melihat adiknya sedang berjalan dengan seorang gadis yang sangat cantik di samping nya.
Mereka terlihat begitu harmonis, bahkan tawa dan canda pun menghiasi perjalanan kedua nya menuju ke penjara bawah tanah.
"Jadi itu putri Xin Quan? Pantas saja saudara kelima bersikeras untuk menculik dan juga menikahinya, ternyata dia benar-benar cantik" gumamnya sambil tersenyum jahat.
Di tempat yang tak jauh dari sana, pangeran keenam yang melihat saudara kelima nya bergandengan tangan dengan Xin Quan pun mengepalkan tangannya, matanya terlihat begitu beringas menatap tajam dua orang muda mudi yang berjalan sambil bercanda itu.
"Sial.. Jika saja aku tahu dari awal dia secantik itu, aku akan bergerak lebih cepat untuk menculik dan menjadikannya sebagai istriku" gumamnya sambil terus mengumpat dan menyumpah serapahi pangeran kelima.
"Apa pun cara nya, putri Xin Quan harus menjadi milikku.. Aku akan segera merebutnya dari saudara kelima, putri yang seperti dewi tak pantas dengan pangeran kotor seperti pangeran kelima" lanjut nya lagi sambil tertawa terbahak-bahak.
Pangeran kelima dan Xin Quan saat ini telah sampai di penjara bawah tanah, bau anyir darah terasa sangat pekat, apalagi tak ada ventilasi yang terpasang disana.
Hanya obor yang terpasang di sisi kiri dan kanan pintu sel yang menjadi penerangan.
Xin Quan berusaha menutup indra penciuman nya, bukan karena terganggu oleh bau anyir darah, tapi karena dia sedang berusaha menjadi gadis yang cantik dan anggun.
Siyi meringkuk di dalam sel tahanan yang paling ujung, sekujur tubuh nya di penuhi luka bekas cambukkan, bahkan wajahnya pun sudah tak bisa di kenali lagi. Sepertinya pangeran kelima benar-benar telah menyiksanya dengan sangat parah.
Xin Quan melangkah mendekati sel tahanan, Siyi yang sedang meringkuk pun segera terbangun sambil memperhatikan orang yang mendatangi nya.
Wajah nya penuh lebam dan bengkak dimana-mana, bahkan matanya terlihat sangat kecil karena tonjolan bekas tamparan dan pukulan yang dia terima, namun itu tak membuat Siyi kehilangan penglihatannya.
Dia dengan jelas bisa melihat Xin Quan yang sedang berdiri di depan sel nya sambil tersenyum jahat, bahkan tangannya menggenggam tangan pangeran kelima.
Tiba-tiba saja Siyi meludah dan menunjukkan kebencian nya pada Xin Quan.
"Apa yang kau lakukan disini? Apa kau senang melihat keadaan ku seperti ini? Ini semua salahmu, kau yang telah menyuruh pangeran kelima untuk menyiksaku. Apa kau puas sekarang? Dasar putri tak berguna" teriak Siyi dengan lantang sambil mencoba untuk meraih Xin Quan dari sela-sela jerujinya.
Kratak...
Kraak...
Pangeran kelima memelintir tangan kanan Siyi dan mematahkannya, saat tangan itu ingin menyerang Xin Quan.
"Dasar j****g sialan, sudah bosan hidup rupanya sampai kau berani memiliki keinginan untuk menyakiti gadis yang aku cintai?" teriak pangeran ke lima sambil menjambak rambut Siyi dan membenturkan kepalanya pada jeruji besi.