
Keesokan harinya rombongan kaisar Ming pun berangkat menuju tempat persembunyian orang-orang dari pangeran pertama, mereka terpaksa menyamar agar tidak diketahui pihak kekaisaran Yuan.
Tanpa mereka sadari, kaisar Yuan saat ini sudah berangkat menuju kekaisaran Ming untuk melakukan penyerangan.
Setelah 6 jam perjalanan, mereka pun sampai di tengah hutan, ada sebuah bangunan besar tempat berkumpulnya antek-antek pangeran pertama. Kaisar Ming mengangguk puas melihat pengaturan yang di buat oleh keponakannya itu, dia pun memuji pangeran pertama karena berhasil menghimpun kekuatan dan memiliki bawahan sebanyak 10.000 orang
"Kau memang pintar keponakanku. Zen yakin sebentar lagi kita semua pasti akan berhasil menguasai kekaisaran Yuan ini." ucap kaisar Ming sambil menepuk pundak keponakannya itu.
"Terima kasih pujian nya paman kaisar, mari kita masuk" ajak pangeran pertama.
Akhirnya mereka pun masuk dan langsung menghampiri orang kepercayaan pangeran pertama untuk bertanya tentang keberadaan pangeran kedua, pangeran ketiga dan juga jendral Han.
Namun mereka langsung tercengang mendengar jawaban orang itu. Jika bukan orang-orang nya yang menculik ketiganya. Pangeran pertama dan kaisar Ming pun mulai bertanya-tanya siapa musuh baru yang saat ini mengincar ketiga orang itu?
"Paman, tidakkah paman merasa ada yang janggal disini? Pangeran kedua berserta pangeran ketiga dan juga jendral Han tidak berada di tangan kita! Lalu siapa yang menculik ketiga nya?" tanya pangeran pertama
"Siapa pun orang itu, yang jelas musuh dari musuh kita adalah sahabat" ucap kaisar Ming
"Kau benar paman, lebih baik kita mulai membuat strategi untuk penyerangan, aku sudah tidak sabar untuk segera duduk di singgasana dan menjadi Kaisar baru di kekaisaran ini" ucap pangeran pertama dengan sorot mata yang penuh ambisi.
"Aku tahu itu paman. Kau adalah orang yang paling menyayangiku" ucap pangeran pertama.
Sementara di istana kekaisaran Yuan, semua nya berjalan dengan biasa saja, sejak kepergian kaisar Yuan dini hari tadi, tampuk kekuasaan di berikan pada selir agung dan juga orang kepercayaannya, Ai Li dan An Xia turut membantu mengurus semua permasalahan yang terjadi.
Saat ini Ai Li dan An Xia sedang bersama beberapa orang penting untuk membahas tentang peperangan dengan kaisar Ming.
Para pejabat dan panglima perang kerajaan tadinya tidak menyukai keberadaan keduanya. Tapi setelah melihat bagaimana cara Ai Li dan juga An Xia mengatur pasukan, membuat strategi bertahan atau pun menyerang, mereka pun mulai mengaguminya. Ai Li membawa peta kekaisaran Yuan dan sudah menandai beberapa tempat, seperti tempat persembunyian untuk pasukannya, tempat yang rawan untuk penyerangan dan juga tempat yang tepat untuk membuat ranjau dan yang lain nya.
Kecerdasan Ai Li dan An Xia membuat para pejabat mau pun panglima itu berdecak kagum. Mereka pun bergidik ngeri melihat strategi perang yang sudah di persiapkan Ai Li yang tanpa celah.
Mereka pun mengakui jika kedua gadis yang selalu terlihat manis itu hari ini tengah menunjukkan taring nya.
Kaisar Yuan memang sudah menyadari tentang kecerdasan Ai Li dan juga An Xia. Karena itulah dia menyerahkan kekuasaan nya pada selir agung dan dia berpura-pura untuk berangkat menuju kekaisaran Ming beserta 10.000 pasukannya. Padahal dia bersembunyi di suatu tempat di dalam istana. Dan hanya Guang beserta pasukannya yang berangkat menuju kekaisaran Ming
"Tepat seperti dugaan zen, kedua monster itu bersembunyi di balik sikap dan juga wajah polos nya, apalagi mengingat mereka tidak sedih saat tahu kedua putra zen di culik, pasti ada rencana besar yang mereka buat di belakang zen" gumam kaisar Yuan dalam hati sambil menyeringai kejam melihat tindakan kedua gadis itu.
"Zen ingin melihat apa lagi yang bisa dilakukan oleh kedua monster kecil itu jika pasukan kekaisaran Ming menyerang istana ini" ucap nya sambil merebahkan dirinya di kursi.