
Ma Chao masih bimbang untuk mengambil keputusan, tapi tiba-tiba saja dia teringat pada putri kesayangan nya yang saat ini berada di luar, pagi tadi Ma Xue telah berpamitan untuk berjalan-jalan dan berbelanja bersama beberapa orang pelayan nya.
Akhirnya si ketua bandit itu pun mau tak mau keluar dari tempat persembunyiannya, dia membawa banyak sekali senjata di seluruh tubuh nya, sambil berjalan mengendap-endap di lorong menuju lantai atas yang kini telah di lahap si jago merah.
Mata Ma Chao seketika membulat saat mengetahui jika istana yang dia tinggali selama beberapa bulan itu tiba-tiba saja sudah terbakar, bahkan banyak sekali reruntuhan istana yang sudah menjadi puing-puing dan ambruk di tanah.
Dengan penuh kemarahan, Ma Chao pun segera keluar dari tempat itu, dihadapan nya kini terpampang jelas ribuan prajurit nya yang mati tanpa kepala dan di tumpuk di sudut istana.
Begitu juga dengan para bandit bawahan dari Ma Chao, semua telah bergelimpangan tanpa nyawa. Ma Chao mengeram marah melihat kekejaman yang di lakukan oleh Musuhnya kini, dia bahkan lupa jika dirinya sebenarnya jauh lebih gila dan lebih kejam lagi di bandingkan dengan yang saat ini ada di depan mata nya.
Kereta kekaisaran memasuki istana, dari kejauhan Ma Chao sudah bisa melihat jika saat ini putri kesayangan nya telah menuju ke istana, Ma Chao sedikit khawatir dengan keselamatan Ma Xue, namun saat dia melebarkan matanya dan melihat sekeliling, dia pun menghela nafas lega, ternyata musuhnya tak ada lagi disana.
Ma Chao dengan segera berlari menyongsong kepulangan sang putri, namun saat Ma Xue baru saja akan melangkah keluar, Ma Chao langsung mencegahnya bahkan dia pun ikut naik ke dalam keretyang di tumpangi oleh putrinya itu.
Ma Chao pun segera menyuruh kusir nya untuk segera menjalankan kereta kuda itu menuju ke sebuah desa yang sangat jauh, dia berfikir untuk menyembunyikan dirinya dan juga menyelamatkan putrinya dari para pemberontak yang baru saja membantai pasukannya.
Kereta pun bergerak dengan cepat, bahkan para pelayan yang ikut menumpang di dalam kereta pun merasa ketakutan karena kereta itu terasa ugal-ugalan, jalan yang berbatu dan penuh tikungan membuat si kusir harus ekstra hati-hati dalam menyesuaikan laju kuda nya.
Ma Chao menyuruh agar pelayan nya ikut memperhatikan sekeliling dan terus waspada, apalagi saat ini Ma Xue ikut bersama mereka membuat hati Ma Chao merasa tak nyaman.
Mata Ma Chao terus bergerak dengan liar memperhatikan sekeliling jalanan yang mereka lalui, kepekaannya terhadap bahaya patut di acungi jempol. Dia mulai menelisik satu persatu tempat yang kemungkinan bisa di pakai untuk bersembunyi oleh musuh-musuh nya.
Tapi sepertinya saat ini Ma Chao tak lagi mempercayai ketajaman insting nya, dia bahkan tak melihat gerak gerik yang mencurigakan di sekitar perjalanannya. Membuat si pria buncit itu akhirnya merasa tenang.
Clap...
Clap...
Clap...
3 buah anak panah tiba-tiba saja muncul dan hampir mengenai pelipis kanan dan juga kirinya, pria tua itu terlihat sangat geram dan langsung mengepalkan tangannya.
Ma Chao belum tahu jika saat ini kusir yang membawa kereta nya telah mati dan berganti kusir baru yang merupakan anggota dari the shaddow team.
Pangeran kedua memang sengaja meninggalkan istana kekaisaran Jang setelah membantai para prajurit dan juga anggota bandit itu, dia melakukan itu agar Ma Chao keluar dari tempat persembunyiannya dan pergi ke tempat yang lain.
Dan rencana itu pun berhasil, bahkan kini bukan hanya Ma Chao yang mereka dapatkan, tapi juga Ma Xue yang merupakan putri kesayangan dari si ketua bandit itu.
"Hahaha.. Mau lari kemana kau bandit tua? Apa kau fikir bisa menghindari kejaran kami? Mimpi!" suara seorang pemuda pun menggema membuat Ma Xue yang baru saja terlelap langsung terbangun dan mendongak ke arah Ma Chao.
Melihat ketakutan di mata putrinya, Ma Chao pun menghembuskan nafas kasar, dia tak mungkin mengabaikan keselamatan putri tercinta nya itu hanya demi nyawanya sendiri.
Ma Chao pun melompat dari dalam kereta, dan mengeluarkan dua bilah pedang di tangan kiri dan juga tangan kanan nya.
"Jangan banyak bicara kau brengsek!" teriak Ma Chao sambil mengeluarkan jurus serangan pada pemuda bertopeng perak yang kini berdiri dengan sangat angkuh di hadapannya.
Trang...
Trang...
Trang...
Suara dentingan pedang pun menggema tepat di depan hutan gelap.
Ma Chao tak lagi menyembunyikan kekuatannya, dia pun langsung menyiapkan kuda-kuda depan nya dan bersiap untuk kembali menyerang.
Trang...
Trang...
Trang...
Bluk...
Suara pedang beradu terus menerus terdengar, bahkan kini pedang di tangan Ma Chao pun terjatuh bersamaan dengan dirinya yang tersungkur akibat tendangan yang di lakukan oleh si pemuda bertopeng perak itu.
Bruk...
Ma Chao terhempas hingga dua meter, dia pun meludahkan darah segar dari mulutnya, nampaknya pemuda bertopeng itu kini mulai mengeluarkan jurus-jurus andalan nya yang selama ini ia sembunyikan.
Kratak...
Pemuda bertopeng itu menginjak punggung tangan kanan Ma Chao hingga jari-jari nya retak dan juga patah.
Aaargh...
Ma Chao berteriak kesakitan saat jari-jari nya di patahkan, dia juga melirik sinis pada pemuda bertopeng perak itu, yang dengan santai nya menendang pusaka milik Ma Chao hingga si bandit tua jelek itu kembali terhempas tanah.
"Oh astaga! Sepertinya tubuhmu ini terbuat dari kapas! Aku bahkan belum mengeluarkan semua jurusku dan kau sudah tersungkur seperti seekor kera sana" ucap pemuda bertopeng itu.
Ma Chao melebarkan matanya, dia benar-benar di buat putus asa oleh tindakan pemuda bertopeng perak itu, apalagi saat ini putrinya dan juga pelayan yang mengiringinya ikut bertarung bersama Ma Chao.
Semangat bertempur Ma Chao pun bangkit kembali, dengan sisa-sisa tenaganya dia pun berdiri meski sedikit limbung, dia tentu tak ingin membiarkan Ma Xue melawan para pemberontak itu sendiri dan membuat putri kesayangan nya itu mati hanya karena bertarung melindunginya.
"Bedebah! Berani sekali kalian menyerangku!" erang Ma Chao sambil kembali melesat menuju si pemuda bertopeng dan berusaha untuk melenyapkan nya.
Trang...
Trang...
Trang...
Adu senjata itu pun kembali terdengar, Ma Chao menyerang dengan sangat beringas. Apa lagi kini aura membunuh mulai menguar dari tubuh nya saat melihat putri kesayangan nya itu mulai terluka.
Srak...
Srak...
Srak...
Tebasan pedang itu pun mengenai seluruh tubuh Ma Xue membuat gadis itu mundur beberapa langkah melihat tebasan yang di tujukan padanya.
"Sial! Siapa sebenarnya mereka?" ucap Ma Xue sambil bersiap untuk kembali menyerang musuhmya.
Srak...
Srak...
Crash...
Glundung...
Kepala Ma Xue tiba-tiba saja terjatuh saat mendapatkan tebasan di lehernya, gadis itu sepertinya kurang fokus hingga akhir nya tak bisa menghindari serangan dari musuh nya.
Ma Chao tertegun melihat kepala putrinya yang menggelundung di tanah dan hampir saja dia terjatuh karena tersandung oleh kepala Ma Xue.