
"Pangeran kelima memasuki ruangan" teriak seorang prajurit yang menjaga kediaman pangeran keenam dengan suara yang sangat lantang.
Senyum pangeran keenam pun kian mengembang saat mendengar orang yang saat ini sedang dia tunggu-tunggu telah berada di kediamannya.
Dengan segera pangeran keenam pun bangkit dari duduknya, dan membungkuk di hadapan pangeran kelima.
"Adik memberi salam pada kakak kelima" ucap pangeran keenam masih dengan senyum manisnya.
Pangeran kelima pun langsung mendudukkan dirinya di kursi, Mei yang melihat pangeran kelima berada di kediaman majikannya segera beranjak ke dapur untuk menyiapkan teh dan juga cemilan.
"Ada masalah apa sehingga kakak kelima mengunjungi kediaman adik?" tanya pangeran keenam dengan sopan.
Mendengar pertanyaan yang di ajukan adik tirinya, pangeran kelima pun tertawa dengan senang hingga sudut matanya menyipit.
"Kau mungkin sudah mengetahui maksud kedatangan ku adik, tapi karena saat ini kau bertanya padaku, maka akupun akan menjawabnya dengan jujur. Aku menginginkan pelayan mu untuk melayani ku malam ini" ucap pangeran kelima dengan tak tahu malu nya.
"Pelayan mana yang kiranya bisa membuat kakak kelima datang langsung ke kediaman adik ini?" tanya pangeran ke enam berpura-pura tak tahu.
"Pelayan pribadimu, Mei" ucap pangeran kelima sambil menjilati bibirnya yang kering.
Pangeran keenam pun tertawa dengan riang, sambil menutup mulut nya dengan punggung tangannya.
"Mei adalah pelayan pribadiku dari ibu selir, aku tidak bisa memberikan nya pada kakak" ucap pangeran keenam berpura-pura polos.
Mendengar jawaban dari adik tirinya itu, pangeran kelima pun ikut tertawa.
"Aku tidak akan menjadikan dia sebagai pelayanku, aku hanya ingin dia melayaniku malam ini" ucap pangeran kelima
"Aah.. Maafkan adik kakak kelima, sepertinya adik tadi kurang paham maksud ucapan kakak kelima" ucap pangeran keenam sambil mengedipkan matanya.
Tak lama Mei pun muncul dengan nampan yang berisi teh dan juga kue. Dengan anggun, Mei pun menyodorkan kue pada pangeran kelima dan pangeran keenam.
Tak lama Mei pun berdiri di samping pangeran ke enam, tangan kirinya dia simpan di belakang punggungnya, sedangkan tangan kanannya dengan lihai mengangkat teko dan menuangkan teh di cangkir pangeran keenam.
Tubuh pelayan itu sengaja di bungkukkan sedikit agar pangeran kelima bisa mengintip aset nya yang menonjol di balik hanfu nya yang agak terbuka di bagian dada.
Pangeran kelima melihat pemandangan di depan matanya dengan penuh ketertarikan, matanya terlihat begitu liar melihat dada Mei yang putih dengan gundukan besar nya.
Tak lama Mei pun beranjak kesamping pangeran kelima dan melakukan hal yang sama, tapi tangan kanan pangeran kelima dengan liarnya menggerayangi hanfu gadis itu, hingga membuatnya menggigit bibir bawah nya.
Saat Mei hendak pergi, pangeran kelima pun menarik tangan pelayan itu dan mendudukkan nya di pangkuannya, membuat Mei serba salah.
Apalagi tangan pangeran kelima berkeliaran nakal dan *******-***** bagian tubuh nya.
Pangeran keenam menganggukkan kepalanya menandakan dia tak keberatan dengan tindakan kakak tirinya itu hingga membuat Mei akhirnya diam dan menikmati setiap sentuhan pangeran kelima pada setiap inci tubuhnya.
"Pangeran, hamba harus kembali bekerja" ucap Mei dengan sopan
"Aku sudah memintamu pada adik keenam dan kau akan melayani ku" ucap pangeran kelima dengan tatapan mesum nya. Tangan nya saat ini sudah menyingkap hanfu yang di pakai oleh Mei dan mulai mengelus paha gadis pelayan itu.
Tanpa sadar, Mei pun mendesah saat jari-jari nakal pangeran kelima mulai mendekati area pribadinya.
Pangeran kelima tersenyum penuh kemenangan melihat gadis pelayan itu mulai menikmati permainan tangan nya.
Pangeran keenam hanya tertawa dalam hati melihat saudara tirinya itu sudah tak bisa membendung hasrat nya lagi. Namun dia masih berniat mempermainkan nya.
"Mei, pergilah ke kamarmu dan segera bersihkan diri, setelah itu kau bisa menemui kakak kelima di paviliunnya" ucap pangeran ke enam.
"Sepertinya kau sudah tak tahan sayang" bisik pangeran kelima di telinga Mei sambil sedikit menggigit ujung telinganya.
Wajah Mei pun memerah, dia merasa malu dengan ucapan pangeran ke lima dan juga malu saat pangeran keenam menatap dirinya yang kini sedang di gerayangi pangeran kelima.
"Pangeran.. Izinkan hamba membersihkan diri terlebih dulu, tubuh hamba masih bau keringat" ucap Mei dengan tatapan menghiba
Pangeran kelima pun mengangguk dan melepaskan tangannya dari tubuh Mei, namun belum juga Mei berdiri, dia di kejutkan kembali dengan ucapan pangeran kelima.
"Temui aku di paviliunku setelah kau membersihkan diri" ucap pangeran kelima.
"Baik pangeran" Mei pun mengangguk dengan patuh.
Entah apa yang dipikirkan gadis pelayan berumur 15 tahun itu, yang jelas dia pun tak bisa memungkiri jika dirinya menyukai sentuhan pangeran ke lima. Dan hal itu disadari oleh pangeran keenam.
Setelah pangeran kelima keluar dari kediamannya, pangeran keenam pun segera memanggil Mei kembali ke kediamannya.
"Hamba pangeran" ucap Mei sambil membungkuk
"Apa kau menyukai kakak kelima?" tanya pangeran keenam membuat Mei bungkam seketika.
"Kau bisa bermalam bersamanya malam ini Mei, tapi ingat tugas mu dengan baik" ucap pangeran keenam.
Mei pun menganggukkan kepalanya pelan, tanpa melihat wajah tuan nya.
"Ambil ini dan pakailah.. Pastikan kakak kelima puas dengan pelayanan mu" ucap pangeran keenam memberikan pakaian yang sangat terbuka dan juga begitu transparan pada Mei, Mei pun menerima nya tanpa bertanya.
"Kau bisa menggunakan jubah ini untuk menutupi tubuh polosmu nanti, jangan sampai ada orang yang melihat nya" ucap pangeran keenam sambil menyerahkan jubah pada Mei.
Seorang pelayan datang dan langsung membungkuk di depan pangeran keenam, membuat Mei mengernyit heran.
"Kau bantu Mei untuk membersihkan diri dan rias dia dengan sangat cantik" ucap pangeran keenam.
Pelayan yang bernama Yui pun mengangguk saat mendengar perintah dari junjungannya, dengan segera Mei dan Yui pun keluar dari kediaman pangeran keenam.
Saat sedang berendam di bak mandinya, Mei pun teringat dengan perlakuan pangeran kelima terhadapnya, ada desir-desir aneh di dalam hatinya. Mei seakan dibuat mabuk dengan sentuhan nakal pangeran kelima hingga membuatnya tersenyum sendiri.
Yui yang melihatnya pun merasa aneh dengan kelakuan Mei dan juga pangeran keenam, Yui berpikir jika pangeran keenam mungkin menyukai Mei dan hendak menjadikan gadis pelayan itu sebagai selir atau pun gundik nya. Dia tak pernah tahu jika itu semua di siapkan untuk pangeran kelima.
Setelah selesai membersihkan diri, Yui pun segera membantu Mei untuk bersiap, tatapan gadis itu membola begitu melihat pakaian yang dikenakan Mei yang begitu terbuka menampilkan lekuk tubuh nya yang indah.
Karena merasa penasaran, Yui pun bertanya pada Mei
"Apakah pakaian itu di berikan oleh pangeran keenam?" tanya Yui, Mei hanya mengangguk membenarkan.
Setelah dirasa siap dengan riasannya, Mei pun segera memakai jubah nya untuk menutupi lekuk tubuhnya yang terbuka, Mei sengaja menggunakan penutup kepala dan juga cadar hingga membuat Yui semakin heran.
"Yui, kau bisa kembali bekerja, biar aku pergi sendiri saja nanti" ucap Mei. Saat ini hatinya begitu berbunga mengingat jika dirinya bisa menghabiskan malam dengan pangeran kelima, dia masih merasakan penasaran dengan setiap sentuhan nakal pangeran itu hingga membuatnya ingin buru-buru pergi menuju kediaman pangeran kelima.
"Tidak, aku akan mengantarmu" ucap Yui kukuh tak mau pergi hingga membuat Mei mendesah pasrah dengan kekeras kepalaan sahabatnya itu.
"Aku tidak tidur di kediaman pelayan malam ini" ungkap Mei
Yui hanya mengangguk dan tak mengucapkan apa pun lagi.