
Xin Quan langsung berjalan menuju ke kamar nya, setelah menyuruh beberapa orang pelayan untuk menyiapkan air mandi untuk nya, dia segera merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
Sesaat pikiran nya melayang memikirkan rencana demi rencana yang akan di lakukan, raut wajah nya terlihat berubah-ubah, kadang dia menggeram marah, kadang dia manggut-manggut dan terkadang dia juga tersenyum smirk.
Para pelayan yang baru saja selesai melaksanakan tugas mereka untuk menyiapkan air mandi pun menatap nyonya mereka dengan penuh tanya.
Mungkinkah nyonya nya itu sudah gila? Atau apakah nyonya mereka lupa minum obat? Namun tak satu orang pun yang berani untuk bersuara, keempat pelayan itu sepakat untuk diam di tempat masing-masing.
Xin Quan bangun dari tempat pembaringan nya, dan mengedarkan pandangan ke sekeliling, keempat pelayan nampak berdiri sambil menunduk, tak berani memandang wajah nyonya mereka.
Xin Quan hanya mengibaskan tangannya, dan keempat pelayan itu pun segera membantu nya untuk melepaskan hanfu luar yang di pakai nya, kemudian berjalan mengikuti langkah Xin Quan menuju tempat pemandian.
Para prajurit yang tadi mencari Lien pun menemukan pelayan itu dalam keadaan yang sangat mengenaskan di depan kamar nya, tubuh Lien di penuhi lebam, di tambah terdapat beberapa tulang yang patah dan juga remuk, betis nya masih terus mengeluarkan darah, hingga hanfu yang di pakai nya pun segera berganti warna.
Tanpa memperdulikan rasa sakit yang mungkin akan di rasakan oleh Lien, para prajurit itu pun menyeret tubuh gadis pelayan itu menuju ke penjara bawah tanah, setelah itu salah seorang prajurit pun memanggil tabib untuk mengobati Lien.
Mereka berusaha untuk menyelamatkan nyawa Lien, meski sebenarnya mereka sama sekali tak peduli, tapi mengingat jika nyonya mereka belum mau menghabisi gadis pelayan itu, mereka sangat yakin jika saat ini Xin Quan masih belum puas untuk menyiksa gadis pelayan itu.
Mata Lien mengerjap perlahan, saat ini kakinya sudah di balut dengan sangat tebal oleh tabib dan terdapat beberapa bekas obat di tubuh nya.
Lan yang melihat teman nya terbangun pun segera menghampiri nya, dan bertanya pada Lien.
"Apa kau baik-baik saja Lien?" tanya Lan sambil memperhatikan teman nya itu
"Aku tidak dalam kondisi baik-baik saja Lan, nyonya Xin Quan itu benar-benar iblis, dia mematahkan dan juga meremukkan beberapa tulang ku hingga sangat sulit rasanya untukku bisa bertahan" ucap Lien dengan lemah.
"Apa? Jadi nyonya Xin Quan yang sudah melakukan semua ini padamu? Tapi bagaimana caranya wanita lemah itu bisa menyiksamu hingga seperti ini?" tanya Lan
"Awalnya aku juga berfikiran sama seperti mu, aku tak percaya jika wanita manja itu bisa menguasai ilmu bela diri, tapi kenyataannya saat ini aku jadi seperti ini karena wanita gila itu yang telah menyerang ku secara brutal" ucap Lien meyakinkan.
"Lalu apa yang harus kita lakukan agar bisa keluar dari penjara terkutuk ini?" tanya Lan.
"Entahlah.. Tapi bagaimana pun caranya kau harus bisa keluar dari tempat ini dan segera memberi tahu tuan besar. Agar mereka bisa secepatnya melakukan penyerangan pada kediaman ini" ucap Lien kembali.
"Lalu bagaimana dengan mu? Jika aku pergi, aku khawatir mereka akan kembali menyiksamu" ujar Lan menuturkan kekhawatiran nya.
"Kau tak perlu mencemaskan aku, hidupku mungkin sudah tak lama lagi, kau harus segera menyelamatkan dirimu dari tempat ini dan segera bergabung dengan pasukan tuan besar" jawab Lien.
Lan terbelalak mendengar jawaban dari Lien, walaupun mereka adalah seorang mata-mata tapi persahabatan mereka benar-benar murni dari hati.
Sudut mata Lan langsung berkaca-kaca, dia tak mungkin meninggalkan Lien begitu saja di penjara itu, apalagi dengan keadaan Lien yang tak mungkin bisa menjaga dirinya.
"Baiklah.. Aku akan segera mencari cara untuk keluar dari sini, tapi kau juga harus berjanji padaku untuk tetap menjaga dirimu sendiri saat aku pergi nanti" ucap Lan.
Lien hanya mengangguk mendapati perhatian dari teman nya itu, hatinya sedikit menghangat, biar pun temannya itu terkadang terlihat bodoh dan sangat konyol, tapi Lien sangat tahu jika Lan menganggap dirinya sebagai saudara.
Di perbatasan, bangsawan Liu masih terus uring-uringan karena penjagaan yang kurang tepat hingga membuat gudang penyimpanannya terbakar.
Apalagi dengan kematian seribu orang lebih para prajurit nya membuat dia semakin emosi.
Brak...
Brak...
Prang...
Prang...
Prang...
Bangsawan Liu memukulkan tinju nya ke atas meja hingga meja itu terlihat retak, dia bahkan melemparkan semua vas bunga dan juga sepasang cangkir mahal beserta teko teh yang baru saja di suguhkan oleh pelayan.
Setelah kejadian hari kemarin, dia mulai lebih berhati-hati dan tak ingin gegabah lagi.
Bangsawan Liu meyakini jika pembantaian terhadap seribu pasukannya itu adalah ulah dari kaisar Xin yang telah mengetahui rencana nya untuk membunuh putri Xin Quan dan juga Yuan Jicheng.
Tidak tahu saja dia kalau pelaku pembantaian yang sebenarnya saat ini berada di sebuah kedai teh terbesar di perbatasan dengan menyamar menjadi dua orang pengembara.
Kedua nya terlihat begitu serius membicarakan sesuatu di sebuah ruang Vip yang memang telah mereka pesan agar tak ada yang bisa menguping.
Saat ini keduanya tengah menyusun strategi perang untuk membantu saudara kelima mereka yang sedang berada dalam bahaya.
Meskipun ketiganya lahir dari rahim yang berbeda, tapi itu tak menyurutkan tekad kedua bersaudara itu untuk membantu adik tiri beserta adik ipar mereka.
"Katakan apa rencana mu kakak kedua? Apa kau sudah memiliki gambaran tentang penyerangan itu?" tanya pangeran ketiga.
"Aku saat ini tengah berfikir, haruskah kita membawa pasukan milik kedua istri kita untuk membantu dan menyerang perbatasan? Akan sangat merepotkan jika kita melakukan hal ini berdua saja" ucap pangeran kedua
"Kurasa itu tak perlu kakak kedua, kita bisa mulai meneror bangsawan Liu dengan membunuh beberapa prajuritnya, sedangkan untuk pasukan yang saat ini telah berada di ibukota biarkan saja Yuan Jicheng dan juga Xin Quan yang akan mengatasinya" ucap pangeran ketiga.
"Apa kau yakin mereka berdua bisa menyelesaikan sisa nya? Aku hanya tak ingin terjadi sesuatu pada adik ke lima dan juga putri Xin Quan" ujar pangeran kedua
"Apa kakak kedua lupa bagaimana brutal nya putri Xin Quan dalam menghabisi musuh nya? Dia bahkan jauh lebih kejam dan lebih mengerikan di banding kita saat membunuh mangsa" ucap pangeran ketiga.
"Baiklah.. Ikut apa katamu saja" ucap pangeran kedua.
...----------------...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, like, komen jika suka dan jika berkenan, lemparkan juga vote dan juga gift nya. 🙏🙏🙏