2 GADIS SADIS DARI ZAMAN MODERN

2 GADIS SADIS DARI ZAMAN MODERN
Part 46


Akhirnya Mei pun diantar oleh Yui menuju ke paviliun pangeran kelima. Sebenarnya Yui merasa penasaran dengan apa yang di lakukan oleh Mei saat ini.


"Bukankah pakaian dan perhiasan yang saat ini dikenakan oleh Mei itu adalah pemberian dari pangeran keenam? Lalu kenapa Mei malah berjalan menuju paviliun pangeran kelima?" pikir Yui. Namun dia tak berani menanyakan langsung pada Mei dan hanya mengekorinya saja.


Shin yang melihat Mei saat ini sedang berjalan di temani Yui segera memberi tahu pangeran kelima, hingga membuat pangeran kelima tertawa sambil memutar-mutar gelas arak yang saat ini ada di tangannya. Fantasi liar muncul begitu saja dalam otak kotor nya hingga membuatnya tak sabar untuk segera bertemu Mei.


Shin segera keluar dari paviliun pangeran kelima untuk menyambut Mei dan juga Yui yang saat ini sudah memasuki paviliun tersebut, pandangan Yui dan Shin sejenak bertemu sebelum akhirnya keduanya tersenyum dan menundukan kepalanya.


"Selamat datang pelayan Mei, mari masuk. Pangeran kelima sudah menunggu" ucap Shin


"Terima kasih tuan Shin" ucap Mei dengan sangat lembut, hingga ucapannya berhasil menggelitik pendengaran pangeran kelima yang saat itu tengah berdiri membelakangi mereka dan menatap kejauhan dari jendelanya yang terbuka.


"Mei memberi salam pada pangeran kelima" ucap Mei sambil membungkuk, sedangkan Yui hanya membungkukkan badannya tanpa berani mengucapkan satu patah kata pun.


Shin segera keluar dari dalam kamar pangeran ke lima begitu melihat junjungannya itu berbalik badan dan menatap ke arah Mei, sedangkan Yui masih berdiri mematung di belakang Mei tak tahu hendak berbuat apa.


"Siapa dia?" tanya pangeran kelima sambil menunjuk Yui


"Dia teman hamba yang mulia pangeran, namanya Yui. Pelayan kediaman pangeran keenam" ucap Mei sambil membuka cadar dan juga jubah yang di kenakannya. Hingga membuat pangeran kelima menatap dengan penuh nafsu.


"Apa kau sengaja berpakaian seperti ini untuk menggodaku?" tanya pangeran kelima sambil mendekat kearah mei dan mulai memutari badan nya, menilai dari bawah hingga atas, tubuh yang sangat sempurna dengan balutan pakaian yang sangat tipis dan terbuka membuat kerongkongan pangeran kelima semakin terasa kering.


"Pangeran keenam meminta hamba memakai pakaian ini pangeran, tapi jika pangeran tidak menyukainya, hamba akan segera menggantinya" ucap Mei sambil menunduk


"Bagaimana mungkin aku menolak hadiah dari adik keenam?" ucap pangeran kelima sambil menyelusuri setiap lekuk tubuh Mei dengan punggung tangannya.


Kulit halus dan mulus milik mei membangkitkan hasrat kelelakiannya apalagi di tambah dengan harum aroma lavender yang tercium dari tubuhnya membuat dia semakin terlena.


"Sepertinya adik keenam benar-benar ingin menyenangkan ku hari ini" ucap pangeran kelima sambil mengendus leher Mei


"Tutup semua jendela kamar ini" ucap pangeran kelima sambil menunjuk ke arah Yui.


Mendengar perintah pangeran kelima dengan segera Yui pun menutup semua jendela kamar itu dan kembali menyaksikan tingkah pangeran kelima yang saat ini mulai meraba tubuh Mei.


"Pergilah.." ucap pangeran kelima sambil melemparkan sekantung koin pada Yui, dengan semangat Yui pun menangkapnya dan segera keluar dari kamar pangeran kelima.


Yui tidak langsung pergi dari sana, dia masih berdiri di depan kamar pangeran kelima dengan senyum yang tak luntur di bibirnya, seringaian halus tercetak saat dia melihat ke arah kantung koin di tangannya.


Shin yang saat itu berjalan menuju ke paviliun pangeran kelima segera menghampirinya dan bertanya.


"Apakah kau masih akan disini?" tanya Shin mengagetkan Yui yang saat itu pikirannya masih berkelana di alam bebas


"Apakah mereka akan lama?" bukannya menjawab pertanyaan Shin, Yui malah balik bertanya pada nya.


"Pelayan Mei mungkin akan keluar dari kamar itu besok pagi, lagi pula pangeran kelima sudah meminta pada pangeran keenam agar pelayan Mei melayaninya hingga pagi besok" jawab Shin.


Gadis pelayan itu pun berpikir sejenak sebelum akhirnya ucapannya membuat Shin ingin menyemburkan tawanya.


"Apakah di paviliun ini tidak ada pelayan yang bisa melayani yang mulia pangeran kelima? Bukankah saat berjalan tadi aku melihat ada banyak pelayan di kediaman ini. Apa mereka tidak bisa menyiapkan air dan juga pakaian atau pun makanan yang baik untuk pangeran kelima? Lalu untuk apa para pelayan yang banyak itu?" cerocos Yui sebelum akhirnya di seret oleh Shin untuk menjauh dari sana.


"Hei apa yang kau lakukan? Kenapa kau menyeretku?"tanya Yui sambil melotot saat tangannya di tarik paksa oleh Shin.


Tapi ucapannya segera terhenti saat Shin menunjukkan satu buah lubang kecil untuk bisa mengintip ke peraduan pangeran kelima, meskipun kecil dan penerangan di ruangan itu remang-remang, tapi mata tajam Yui bisa melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan pangeran kelima beserta Mei di atas peraduan.


Mata Yui membulat sempurna saat melihat adegan demi adegan yang di pertontonkan di depan matanya, sambil meneguk ludah nya dengan susah payah.


Gadis pelayan muda yang berumur 15 tahun itu kini tengah di suguhi adegan dewasa oleh Shin yang saat ini tengah menahan tawa nya.


Namun belum juga Shin menjawab pertanyaan itu, Yui di kagetkan dengan suara teriakan Mei dari dalam peraduan pangeran kelima.


Yui pun mengalihkan kembali perhatiannya pada lubang kecil itu dan kembali mengintip, dia bisa melihat jika saat ini Mei sedang berada di bawah kungkungan pangeran kelima tanpa ada sehelai benang pun diantara keduanya.


Mata Yui terpaku saat melihat adegan itu apalagi saat matanya tanpa sengaja melihat sesuatu memasuki tubuh teman nya hingga membuat temannya itu menggenggam sprai dengan sangat kuat.


Tak lama teriakan Mei pun berhenti di ganti dengan d*****n demi d*****n yang meluncur di bibir gadis pelayan itu.


Yui menunjukkan hal itu pada Shin. Seakan mengerti arti tatapan Yui, Shin pun menjawab nya dengan berbisik.


"Sepertinya sahabatmu itu sangat menikmati permainan pangeran kelima" ucapnya sambil meniup daun telinga Yui hingga meremang.


Yui yang memang belum tahu dan belum mengerti tentang hal semacam itu hanya mengangguk sebelum pada akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana dan kembali menuju paviliun pangeran ke enam dengan wajah dan telinga yang merah.


Sedangkan di peraduan pangeran kelima saat ini terlihat Mei dengan tubuh lemas nya masih terus di terjang oleh keliaran pangeran kelima. Mei sudah berkali-kali meminta berhenti, tapi kelihaian pangeran kelima berhasil membuat mei kembali mendapatkan semangat untuk terus melayani pangeran kelima.


"Kau benar-benar sangat pandai Mei" ucap pangeran kelima sambil tersenyum penuh kepuasan.


Meskipun pangeran kelima sudah seringkali meniduri pelayannya, tapi baru kali ini dia benar-benar terpuaskan. Meskipun semua pelayan yang dia tiduri masih sama-sama gadis, tapi mereka hanya menangis dibawah kungkungan pangeran kelima. Sangat berbeda jauh dengan Mei yang berusaha untuk terus mengimbangi keperkasaannya, meskipun belum pernah melakukan hal itu sebelumnya.


Mei hanya tersenyum menanggapi ucapan pangeran kelima, ini adalah pengalaman pertama nya berhubungan dengan seorang pria, tapi Mei tidak merasa menyesal bahkan sangat menikmati setiap sentuhan pangeran kelima seakan-akan telah menjadi candunya.


Pangeran kelima segera memakai pakaiannya kembali dan menyuruh Mei untuk istirahat. Dengan wajah secerah matahari pagi, pangeran kelima pun segera keluar dari kamarnya dan meminta beberapa pelayan untuk membantu mei membersihkan diri dan juga menyiapkan makanan untuk nya.


Shin yang melihat junjungannya keluar pun segera menunduk dihadapan pangeran kelima.


"Ada apa?" tanya pangeran kelima saat melihat Shin


"Pangeran, saat ini pangeran keempat sedang berada di rumah bordir beserta dua orang kepercayaannya. Perlukah hamba datang kesana dan menjemputnya?" tanya Shin dengan sopan


"Tak perlu, biarkan saja dia bersenang-senang bersama para wanita penghibur itu, saudara keempat ku itu memang suka sekali dengan barang bekas, sangat berbeda denganku yang selalu ingin barang baru" ucap pangeran kelima sambil tersenyum dengan pongah.


Shin pun menceritakan kejadian tadi sebelum akhirnya ucapan pangeran kelima menyadarkannya.


"Bawa pelayan itu menuju kamar sebelah, dan siapkan juga dupa perangsang disana. Tidak jadi masalah jika aku menikmati dia sebelum kembali bersenang-senang dengan Mei" ucap pangeran kelima sambil pergi meninggalkan Shin.


Dengan langkah cepat Shin pun segera mendatangi Yui dan mengajaknya menuju kamar tepat di samping kamar yang saat ini di tempati oleh Mei, tanpa perasaan curiga Yui pun mengikuti langkah Shin menuju kamar itu.


"Masuklah, aku akan segera memberi tahu pangeran kelima" ucap Shin.


Yui pun masuk ke dalam kamar yang sudah di pasang dupa perangsang itu, sementara pangeran kelima masih bersantai menikmati teh nya menunggu hingga dupa perangsang itu bereaksi.


Saat ini di dalam kamar, Yui merasa kepanasan dan mulai melucuti pakaian nya. Pelayan itu benar-benar merasa tidak nyaman hingga dia tak sadar jika saat ini pangeran kelima sudah berada di belakangnya dan memeluk tubuh polos gadis itu, Yui berusaha untuk memberontak, tapi saat sebuah kecupan mendarat di lehernya, gadis itu pun terdiam.


Dengan cepat pangeran kelima pun segera membawa gadis itu keperaduannya, memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat gadis itu kian menggelinjang sebelum akhirnya membobol keperawanan nya.


"Apa kau sangat suka mengintip?" tanya pangeran kelima di sela aktivitas nya. Tangan nya dengan lihai *******-***** p*******a Yui hingga membuat gadis itu terus m******h di bawah kungkungannya.


Yui hanya menggelengkan kepalanya, sambil merasakan kenikmatan yang baru saja dirasakannya bersama pangeran kelima.


Efek dupa itu sangat keras hingga membuat keduanya lagi dan lagi saling memuaskan sebelum akhirnya pangeran kelima meninggalkannya dan kembali pada Mei.


"Pangeran, sepertinya rencana anda berjalan dengan sangat sempurna. Saat ini bukan hanya Mei yang menghangatkan ranjang pangeran kelima tapi juga Yui" ucap Min memberi tahu.


"Kau benar, sepertinya saudara kelima ku itu tidak akan bisa berangkat ke daerah selatan esok hari, mengingat saat ini dia terus bekerja keras untuk memuaskan hasrat nya. Hahaha.." ucap pangeran keenam sambil tertawa terbahak-bahak.