2 GADIS SADIS DARI ZAMAN MODERN

2 GADIS SADIS DARI ZAMAN MODERN
Part 70


Xin Quan saat ini telah sampai di depan gerbang kediaman bangsawan He, gadis manis itu pun berjalan dengan begitu elegant hingga membuat beberapa prajurit yang berjaga di sana begitu terpesona.


"Siapa gadis cantik itu? Rasa-rasanya aku baru pertama kali melihat kecantikan yang seperti dewi, apakah dia calon selir tuan yang baru?" tanya prajurit 1


"Entahlah.. Aku juga tak tahu, tapi jika itu benar, sungguh disayangkan sekali jika dia jadi selir tuan besar, mengingat dia begitu cantik dan juga sangat muda" ucap prajurit B


"Apa maksud mu? Bukankah selir tuan besar yang datang minggu kemarin juga masih muda? Tapi kau tak pernah berkomentar apa pun!" sarkas prajurit A


"Itu karena gadis yang ada di hadapan kita saat ini terlalu cantik, beda dengan selir baru tuan besar itu" ucap prajurit B


"Alasan kau saja. Bilang saja jika kau juga tertarik pada gadis itu" ucap prajurit A


"Tentu saja, siapa yang tak tertarik pada gadis secantik itu, jika dia mau jadi istriku, tentu saja aku akan menjadikan nya ratu di rumah kami" jawab prajurit B


"Sudah-sudah..! Kalian berdua ini, lagi pula mana mungkin gadis cantik itu rela menjadi istri mu yang hanya seorang prajurit? Bisa-bisa kecantikan nya akan pudar karena kau tak sanggup membiayai hidup nya" sarkas prajurit 1


"Eh.. Dia semakin mendekat" cicit prajurit A


Xin Quan sebenarnya mendengar semua ucapan ketiga prajurit itu, karena pendengaran nya yang sangat tajam, namun dia masih berusaha untuk bersikap setenang mungkin, dan berpura-pura tak mendengarnya.


Dia terus berjalan dengan sangat tenang, dan langsung menyunggingkan senyum manisnya pada para prajurit penjaga itu.


"Kakak prajurit, benarkah ini kediaman bangsawan He?" tanya Xin Quan dengan anggun dan penuh kesopanan


"Benar.. Apakah nona ingin bertemu dengan tuan besar?" tanya prajurit A


"Benar.. Bisakah kakak prajurit memberitahu tuan He jika saya berkunjung?" tanya Xin Quan kembali dengan senyum yang tak luntur di bibirnya


"Bolehkah kami tahu siapa nona muda ini?" tanya prajurit B


"Perkenalkan nama ku Quan kakak prajurit, aku berasal dari daerah timur, saat di perjalanan tadi aku tidak bisa mendapatkan penginapan, semua kamar telah penuh. Dan seseorang memberi tahukan jika aku bisa berkunjung di kediaman bangsawan He yang sangat baik. Itulah alasan kedatangan ku kakak prajurit" ucap Xin Quan


Prajurit itu pun langsung berlari dengan tergopoh-gopoh dan memberi tahukan bangsawan He, juga alasan yang membuat gadis itu datang ke kediaman nya.


Bangsawan He tentu saja sangat gembira, dia pun segera menyuruh prajuritnya untuk mempersilakan Xin Quan untuk masuk.


Lain bangsawan He, lain juga nyonya He... Saat mendengar ada kunjungan dari seorang gadis cantik, raut muka wanita paruh baya itu terlihat sangat tak sedap di pandang.


Dia benar-benar sangat geram dengan kelakuan suaminya yang selalu saja menambah selir dan juga gundik di kediaman nya.


Bahkan seorang kaisar saja hanya memiliki lima sampai sepuluh selir, sedangkan bangsawan He memiliki 30 selir dan juga 60 orang gundik.


Nyonya He segera memerintahkan pelayan nya untuk menjamu tamu yang datang, meskipun hatinya benar-benar marah, namun dia tetap menunjukkan keramahannya sebagai nyonya rumah yang baik.


Akhirnya Xin Quan pun bisa masuk dan bertemu dengan bangsawan He dan juga nyonya He dan di sambut dengan penuh kehangatan.


Ai Li saat ini sudah berada di sebuah paviliun, dengan kantung di tangan kanan nya, setelah menebarkan serbuk obat tidur di setiap paviliun, Ai Li pun mulai melangkah untuk menjarah seluruh harta milik seluruh anggota keluarga bangsawan He.


Satu persatu paviliun itu pun di selusuri oleh Ai Li, bermacam-macam perhiasan dan juga koin emas, kini telah berpindah tangan.


Sedangkan An Xia masih duduk dengan penuh waspada pada salah satu cabang pohon besar, di tangannya terdapat sipet atau sumpit (sejenis senjata yang di tiup seperti yang biasa di pergunakan orang-orang suku dayak)


Seorang prajurit tiba-tiba datang dan memergoki Ai Li yang saat ini tengah memasukan semua hasil jarahannya kedalam kantung, prajurit itu pun segera berteriak dan berlari memanggil kawan-kawan nya, serta merta dia pun memberi tahu bangsawan He yang saat ini ada di aula tamu kediaman nya.


Tok... Tok.. Tok...


"Tuan besar.. Tuan besar... Gawat" teriak prajurit itu di depan pintu.


Bangsawan He yang sedang menjamu Xin Quan pun segera bangkit dari duduknya, dan membuka pintu.


"Ada apa?" tanya nya dengan dingin.


"Tuan besar, ada yang menyelinap masuk ke dalam kediaman dan menjarah harta berharga anda, beberapa prajurit yang berjaga di temukan tewas di tempat" lapor sang prajurit


Bangsawan He pun segera mengikuti prajurit itu untuk menangkap si pencuri, dia merasa sangat geram saat mendengar laporan dari prajurit nya.


"Benar-benar cari mati" umpat bangsawan He sambil berjalan.


Ai Li dan An Xia saat ini tengah duduk bersandar di atas cabang pohon saat melihat para prajurit berlalu lalang mencari pencuri yang memasuki kediaman itu.


Mereka tak menyangka sama sekali jika pencuri itu seorang wanita dan kini tengah duduk santai sambil memakan buah apel yang baru saja di petik nya.


"Dimana pencuri itu?" tanya Tuan He.


Para prajurit itu pun gelagapan menjawab pertanyaan dari tuannya, mereka sejak tadi memang sudah mencarinya namun belum mendapatkan petunjuk dimana pencuri itu bersembunyi.


"Maafkan kecerobohan kami tuan besar, kami sudah berusaha mencari keberadaan pencuri itu, namun belum mendapatkan petunjuk apa pun" jawab salah seorang prajurit


"Cepat cari dan temukan pencuri itu, aku tak mau tahu bagaimana pun caranya" ucap Tuan He dengan lantang.


Sementara Ai Li dan An Xia hanya terkikik di atas dahan pohon sambil saling memandang.


"Apakah kalian mencari kami?" tanya An Xia dan juga Ai Li sambil melompat turun dari atas pohon.


Penampilannya sungguh menyihir semua orang yang melihatnya, kedua wanita itu sengaja tak menutup wajahnya dan menunjukkan dirinya sebagai seorang wanita.


Tuan He yang melihat kecantikan Ai Li dan An Xia pun terkesiap, otak kecil nya langsung bekerja untuk bisa mengikat keduanya di dalam kediaman dan menjadikannya sebagai selir nya.


"Aku akan memaafkan tindakan kalian berdua asal kalian berdua bersedia menjadi selir ku yang ke 31 dan juga ke 32" ucap bangsawan He


"Apa kau pikir kau pantas? Lihatlah umurmu yang sudah tua itu, apa kau tak punya malu ingin menjadikan gadis kecil seperti kami sebagai selirmu?" sarkas An Xia sambil tersenyum meremehkan


Sedangkan Ai Li masih diam sambil memakan buah apel di tangannya, sepertinya kali ini Ai Li enggan mengeluarkan suara nya.


" Dasar gadis j****g, berani sekali kau menghinaku! Sepertinya kau lebih memilih untuk mati dari pada menuruti keinginanku" ucap bangsawan He dengan mata yang menyala.


An Xia hanya berdecak sebal melihat kelakuan tuan He yang tak tahu diri itu.


"Hei kakek tua, kau tak perlu berteriak seperti itu! Apa kau pikir aku ini tuli?" tanya An Xia sambil terkikik ringan