
Setelah kepergian ketiga selir dari ruang kerja Yuan Jicheng, kini Xin Quan mulai menatap tajam wajah tampan suaminya itu sambil memikirkan taktik apa yang akan dia pergunakan untuk melawan pasukan bangsawan Liu.
Xin Quan juga menyadari jika kekuatan nya terlalu lemah untuk bisa menyelesaikan masalah itu sendirian, namun dia tak pernah berkecil hati dan terus berusaha untuk memikirkan langkah terbaik untuk melawan bangsawan Liu.
Sementara itu di sebuah kediaman mewah yang berada di perbatasan, seorang gadis cantik tengah terduduk di depan meja rias kamarnya sambil memperhatikan wajah cantik nya, dia benar-benar tak habis pikir, apa yang di lihat oleh kekasih nya itu hingga tiba-tiba saja melupakan dirinya dan memutuskan untuk menikahi sahabat nya Xin Quan.
Gadis yang tengah duduk itu adalah Liu Wei, putri kesayangan bangsawan Liu dan merupakan gadis tercantik di perbatasan.
Gadis itu kini tengah geram dengan tindakan kekasih nya, dia juga merasa geram dan merasa telah di khianati oleh sahabat baik nya Xin Quan.
Liu Wei telah menjadi kekasih dari Yuan Jicheng selama satu tahun mereka berada di akademi, bahkan dia juga telah memproklamirkan dirinya sebagai calon istri dari pangeran kelima kekaisaran Yuan itu di hadapan seluruh keluarga juga teman-teman nya.
Bukan main rasa malu yang kini harus di tanggung oleh Liu Wei saat dirinya dan semua orang mengetahui jika Yuan Jicheng telah menikahi putri Xin Quan sebagai istri sah dan juga mengangkat tiga orang selir.
Dendam di dalam hatinya semakin menyala tatkala mata-mata yang di kirim ke kediaman mereka melaporkan betapa bahagia dan harmonisnya hubungan mereka.
Marah, sakit hati, benci, dendam, iri, semua bercampur dalam hati Liu Wei hingga akhirnya dirinya memutuskan untuk meminta bantuan ayahnya untuk melenyapkan Xin Quan dan merebut kembali Yuan Jicheng.
Tak tau saja jika Xin Quan itu bukan gadis yang lemah dan bodoh, dia adalah pembunuh berdarah dingin yang tak kenal ampun pada musuh-musuh nya.
Liu Wei masih berfikir jika Xin Quan hanyalah gadis manja yang sombong, dan akan mudah untuk melenyapkan nya, bahkan dia pun berpikir jika bukan hal sulit untuk merebut Yuan Jicheng kembali dari Xin Quan.
Seandainya saja Xin Quan mengetahui apa yang ada di dalam otak kecilnya Liu Wei, mungkin palu kecilnya kini telah terlempar dan membelah batok kepala gadis itu.
"Wewei.. Kenapa kau terus duduk di situ? Kemarilah.. Ada yang ingin ayah bicarakan denganmu" panggil bangsawan Liu yang baru saja sampai di paviliun Liu Wei.
Liu Wei pun segera bangkit dari kursinya dan berjalan menuju tempat ayah nya itu.
"Ada apa ayah? Apa mereka sudah memberikan informasi lagi?" tanya Liu Wei sambil duduk di samping ayah nya.
"Kau benar, ketiga mata-mata kita telah mengirim berita tentang kediaman itu bahkan mereka juga mengirim sebuah peta kediaman Yuan Jicheng itu, kita tak akan kesulitan untuk masuk di kediaman itu, lagipula prajurit di kediaman itu hanya berjumlah 300 orang" ucap bangsawan Liu.
"Itu bagus ayah, aku ingin segera mendengar berita kematian Xin Quan dan segera menjadi istri dari Yuan Jicheng" ucap Liu Wei sambil bergelayut di tangan bangsawan Liu.
"Tentu saja, tak lama lagi semua keinginan mu itu pasti akan segera tercapai, ayah berani menjamin kemenangan kita hingga 100%" ucap bangsawan Liu dengan sombong.
Mendengar ucapan ayahnya, Liu Wei pun tertawa dengan riang, dia telah memikirkan banyak sekali rencana untuk kembali mendekati Yuan Jicheng dan membawanya kepelukan.
"Ada apa?" tanya bangsawan Liu sambil menatap wajah prajurit yang melapor.
"Gudang terbakar tuan, semua bahan makanan habis, beberapa prajurit penjaga juga di temukan tewas dan.." Prajurit itu seperti sedang memikirkan sesuatu
"Dan apa? Kenapa kau tak melanjutkan ucapan mu hah?" tanya bangsawan Liu dengan geram.
"Ada sekitar seribu orang Prajurit perbatasan di temukan tewas tanpa kepala tuan, juga ada bekas pertempuran di area benteng perbatasan" ucap prajurit itu sambil menggigit bibir nya.
"Sialan.. Siapa bedebah yang berani masuk ke perbatasan dan membunuh para prajurit ku?" teriak bangsawan Liu sambil bangkit dari kursi nya dan segera berjalan menuju tempat yang di tunjukan prajurit yang melapor itu.
Mata bangsawan Liu terlihat begitu beringas melihat tumpukan mayat para prajurit nya yang tanpa kepala, dia benar-benar tak habis pikir siapa yang telah bermain-main dengannya hingga mengirim teror hingga seperti ini.
Bangsawan Liu di buat semakin geram melihat gudang penyimpanan yang terbakar habis tanpa sisa, padahal itu adalah hasil kerja dia selama tiga tahun menjabat sebagai pejabat perbatasan.
Sementara itu di balik dinding, dua orang pemuda tengah menyeringai, keduanya saling pandang sebelum akhirnya melesat meninggalkan tempat itu dengan hati yang bahagia.
Paling tidak, saat ini bangsawan Liu akan di buat repot mengurus semua kekacauan yang mereka berdua perbuat, jadi adik beserta adik ipar mereka memiliki banyak waktu untuk memikirkan strategi melawan pasukan perbatasan.
Benar-benar kakak yang baik hati dan penyayang terhadap keluarga.
Di lain tempat, Xin Quan tengah memberikan instruksi kepada para prajuritnya untuk segera menangkap Lien dan juga Lan, kedua gadis pelayan mata-mata itu nampaknya akan segera menjadi mainan si cantik Xin Quan yang baik hati dan juga polos.
Prajurit pun segera bergegas mencari kedua pelayan itu di sekitar kediaman, mereka berpura-pura sedang berpatroli hingga tak menimbulkan kecurigaan.
Lin dan juga Lan saat ini sedang duduk di belakang gudang, keduanya tentu saja sedang menunggu temannya yaity Rien yang kini telah menjadi mayat.
Mereka sama sekali tak menyadari jika saat ini ada beberapa pasang mata yang sedang memperhatikan mereka di kejauhan, bahkan keduanya dengan tenang saling membicarakan hasil penemuan mereka di kediaman itu.
"Astaga, kenapa si Rien itu lama sekali? Jika seperti ini caranya pasti sebentar lagi akan ada orang yang mencari kita berdua" ujar Lien
Lan yang mendengar ocehan teman nya itu pun menoleh, dengan tak sabar Lan segera menarik tangan Lien dan mengajak nya kembali ke dapur mengurusi tugas mereka.
Lien dengan pasrah mengikuti langkah Lan, hingga akhirnya dia menyadari jika saat ini mereka tidak mengambil jalan menuju dapur kediaman tapi malah lurus ke arah kediaman utama milik sang tuan dan nyonya mereka.
Lien pun menghentikan langkah nya dan segera menyadarkan Lan untuk segera pergi dari sana sebelum para prajurit itu memergoki kedua nya.