2 GADIS SADIS DARI ZAMAN MODERN

2 GADIS SADIS DARI ZAMAN MODERN
Part 81


Akhirnya hari itu juga kaisar Xin beserta putri Xin Quan dan pangeran Yuan Jicheng pun meninggalkan istana kekaisaran Yuan diikuti oleh ketiga pelayan pangeran kelima.


Mereka menggunakan dua kereta kuda dan di iringi seratus orang prajurit dari kekaisaran Yuan.


Di dalam kereta terlihat Xin Quan mulai memejamkan matanya, dia bersandar pada jendela kereta yang sedikit terbuka.


Yuan Jicheng beralih duduk ke samping nya dan membiarkan Xin Quan tidur bersandar di bahunya, kaisar Xin yang melihat kejadian itu seolah masih memikirkan tentang ucapan pangeran ketujuh tentang betapa tidak bermoral nya Yuan Jicheng.


Dia sedikit mengerutkan dahinya, berpikir dengan sangat keras tentang apa yang di lihat oleh putrinya itu hingga memilih Yuan Jicheng sebagai pasangan hidup nya di bandingkan pangeran ketujuh yang di gadang-gadang sebagai calon putra mahkota.


Tapi melihat betapa lembut dan perhatian nya Yuan Jicheng terhadap putrinya, akhirnya kaisar Xin pun mengangguk dan tersenyum.


"Sekarang zen mengerti kenapa Quan'er memilih Yuan Jicheng di banding pangeran ke tujuh, ternyata karena perlakuan lembutnya pada Quan'er, tapi apa yang menjadi alasan Quan'er menerima ketiga pelayan itu sebagai selir Yuan Jicheng? Ini masih jadi pertanyaan besar untuk zen, putri zen satu-satunya membiarkan tiga orang gadis lain untuk melayani suaminya? Apakah ini bagian dari rencana Quan'er? Apa sebenarnya motif dari keputusan gilanya itu? Mungkinkah Quan'er benar-benar jatuh cinta pada Yuan Jicheng? Benar-benar mencurigakan" gumam kaisar Xin dalam hati.


Kaisar Xin tak ingin gegabah mengambil keputusan, apalagi ini menyangkut masa depan dan juga kebahagiaan putri kesayangan nya, jadi dia akan berusaha untuk menuruti semua keinginan Xin Quan, toh putrinya itu sudah dewasa dan tahu bagaimana cara untuk membela diri nya sendiri.


Perjalanan yang di tempuh kaisar Xin beserta rombongannya saat ini adalah 5 hari dengan kereta, akhirnya karena kelelahan, kaisar Xin pun tertidur.


Sangat jauh dengan Yuan Jicheng yang entah kenapa tak bisa memejamkan matanya sedetik pun. Ucapan Xin Quan saat itu tentu saja membuat hatinya begitu berbunga-bunga, dia tak ingin kehilangan kesempatan untuk bisa memanjakan dan membahagiakan gadis yang saat ini berada di sisinya.


Yuan Jicheng tersenyum sendiri saat mengingat betapa gadisnya itu telah banyak berkorban demi dirinya, dia pun meyakinkan hatinya untuk terus bersama dengan Xin Quan dalam segala keadaan.


Xin Quan sebenarnya telah bangun sejak tadi, dia juga melihat bagaimana perlakuan Yuan Jicheng yang begitu tulus kepada dirinya, meskipun saat ini hatinya masih terbagi, dia meyakinkan dirinya untuk bisa menerima Yuan Jicheng dengan sepenuh hati nya.


"Ehem.. Apakah lamunan mu itu lebih indah di bandingkan diriku yang saat ini ada di samping mu Yuan Jicheng?" tanya Xin Quan


Yuan Jicheng tersentak kaget saat mendengar suara yang lembut namun menusuk itu, dia buru-buru membetulkan posisi duduk nya dan menghilangkan semua angan-angan nya tadi dan melirik Xin Quan.


"Tentu saja kau lebih indah dari segala nya Quan'er, maaf jika aku tadi melamun. Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Yuan Jicheng.


"Apakah setiap kali aku memanggil mu harus selalu membutuhkan sesuatu?" tanya Xin Quan sambil menatap tajam mata pemuda yang kini tepat di depan matanya.


"Tentu saja tidak, hanya aku takut jika kau merasa segan untuk meminta sesuatu, mengingat sekarang aku bukanlah pangeran lagi" ucap Yuan Jicheng sambil menunduk.


Xin Quan menatap Yuan Jicheng yang sedang menunduk itu dengan perasaan lucu, dia seolah melihat seorang anak laki-laki yang tak berdaya di hadapan ibunya sendiri.


"Bisakah kau menceritakan tentang hidupmu? Aku ingin sekali mendengar kisah masa kecilmu" ucap Xin Quan


Yuan Jicheng menarik nafas panjang saat mendengar permintaan dari calon istrinya itu, ada luka lama di hatinya saat mengingat masa lalu, namun dia pun tak bisa mengecewakan gadis kecil nya akhirnya dia pun menganggukkan kepalanya.


"Aku adalah putra ketiga dari permaisuri Ming Mei dan juga kaisar Yuan, Aku masih memiliki seorang adik perempuan, dia itu putri ke 5. Sejak kecil ibunda selalu membeda-bedakan kasih sayang nya terhadapku dan juga saudaraku yang lain. Pangeran pertama selalu menjadi kebanggaan ibunda, dia tampan, gagah, pandai dan juga calon putra mahkota. Saudara keempat juga merupakan kesayangan ibunda, dia selalu di manja, apa pun yang dia inginkan pasti ibunda menurutinya, begitu juga dengan adik perempuan ku yang begitu di manja oleh ibunda, sedangkan aku, jangankan kasih sayang, ibunda bahkan tak sudi melihatku. Sejak kecil, aku hanya di rawat dan di besarkan oleh para pelayan kediaman ku, mereka telah ku anggap keluarga ku sendiri, ayahanda tak pernah melihatku, bahkan ibunda juga sangat membenciku karena aku terlahir lemah tak seperti saudaraku yang lain" ucap Yuan Jicheng menjeda ucapan nya sambil melihat respon Xin Quan.


"Kehidupan masa kecil ku tak sebaik pangeran yang lain, kadang aku juga merasa iri terhadap mereka yang selalu di puja dan begitu dicintai semua orang, saat aku berumur 12 tahun, seorang pelayan dari kediaman permaisuri datang ke paviliunku, dia mengejek dan mencemooh ku, saat itu aku benar-benar marah hingga membunuh nya, mendengar hal itu ibunda bahkan menyalahkan ku, dia langsung menghukum ku dengan begitu kejam. Baginya pelayan itu lebih berharga di bandingkan diriku yang darah daging nya sendiri" Yuan Jicheng mengambil botol air yang ada di meja dan langsung meminum semuanya hingga tandas, kerongkongan nya terasa begitu kering saat kembali mengingat hal itu.


"Aku di gantung di atas kolam selama 7 hari dan terus mendapatkan cambukkan dari para pelayan nya, hingga akhir nya ibu selir agung memohon pada ayahanda untuk melepaskan ku yang saat itu sudah sekarat dan hampir kehilangan nyawa, bahkan ibunda permaisuri tak peduli dengan nasibku, bagi dia aku hidup atau pun tiada, itu tak ada artinya. Hingga akhirnya saat aku mulai sadar dan kembali sembuh, aku merubah semua sikapku menjadi dingin dan tak tersentuh, bahkan aku juga menyiksa pelayan ibunda permaisuri dan memperkosanya. Sejak itulah semua orang menganggap ku manusia yang tak bermoral dan tak punya hati" ucap Yuan Jicheng sambil menyandarkan tubuh nya pada sandaran kursi.