
Pangeran kelima segera menerobos memasuki kamar Xin Quan, sekelebat bayangan hitam melintas tak jauh dari sana membuat pangeran kelima semakin waspada.
"Sepertinya dia orang yang cukup hebat bisa bersembunyi dariku" gumam pangeran ke lima.
Tak lama kemudian pangeran kelima pun mulai melangkah dengan waspada, di tangan kanan nya sebilah pedang masih bertengger dengan cantik.
Pangeran kelima tak ingin kecolongan dan membuat Xin Quan celaka, bagaimana pun Xin Quan adalah gadis yang di cintainya.
Dia mulai bergerak tanpa menimbulkan suara, namun tak lama kemudian sesosok bayangan menggeliat di balik kelambu tempat tidur nya membuat pangeran kelima menelan ludah nya dengan susah payah.
Bayangan seorang gadis yang begitu sexy dengan tubuh yang sintal, kaki kirinya terlihat di angkat ke atas hingga paha mulus nya kini terekspos dengan sempurna di bawah sinar rembulan yang remang.
Bayangan itu terlihat kepanasan sambil menggerakan tangannya untuk membuka hanfu yang di pakainya.
Pandangan pangeran kelima pun terlihat semakin berkabut, dirinya yang memang pecinta wanita tak mungkin rela melewatkan malam panas dengan gadis yang telah lama dia sukai hanya karena seorang penyusup.
Namun mengingat masih ada bahaya di sekitar nya membuat pangeran kelima pun terpaksa untuk menahan hasrat nya untuk sementara.
Dia kembali waspada dan mengedarkan pandangannya, meneliti setiap sudut kamar tidur itu.
Setelah merasa yakin, pangeran kelima pun kembali mendekati peraduan Xin Quan yang masih saja terus menggeliatkan badannya di atas pembaringan.
Saat pangeran kelima hendak mendekat, dia pun mencium sesuatu yang tak biasa dari dalam ruangan itu dan dengan segera mencari nya.
"Sial.. Sepertinya ini pengaruh dupa perangsang" ucap pangeran kelima sambil mematikan semua dupa yang ada di kamar Xin Quan.
"Astaga.. Sepertinya aku juga mulai terpengaruh dengan dupa perangsang ini" ujar pangeran kelima yang langsung menutup seluruh jendela kamar Xin Quan dan segera melangkahkan kaki nya menuju pembaringan.
Cuaca yang gelap dan dingin juga pengaruh dupa perangsang membuat pangeran kelima pun langsung menerjang gadis yang ada di balik kelambu itu tanpa basa basi lagi.
Tangan nya terus bergerilya menelusuri setiap lekuk tubuh gadis itu hingga suara d*****n pun lolos dari mulut mungil nya.
Pangeran kelima semakin di kuasai hasrat nya dan langsung saja menerkam gadis itu, hingga suara-suara ambigu pun terdengar hingga keluar kediaman.
Para prajurit yang berjaga pun saling melirik dan juga saling memandang saat mendengar suara-suara ajaib itu dari kediaman tuan putri mereka namun tak satu orang pun yang bersuara.
Kaisar Xin yang saat itu sedang berjalan bersama kasim nya pun segera berhenti begitu mendengar suara-suara laknat itu di telinga nya dan segera menyuruh prajurit untuk mendobrak nya.
Brak...
Pintu kamar Xin Quan pun terbuka dengan lebar, kaisar Xin pun masuk dan menyaksikan perbuatan bejat pangeran ke lima pada putrinya.
Tunggu... Putrinya? Bukankah Xin Quan saat ini berada di taman beserta para selirnya sedang menikmati bulan? Lalu siapa gadis k*****t yang telah berani menggoda pangeran kelima dan menggunakan kamar putrinya untuk berbuat hal yang tidak senonoh?
Kaisar Xin segera menyuruh para prajurit untuk membawa pangeran kelima bersama gadis itu ke ruang sidang.
Dalam hati pangeran ke lima meloncat kegirangan ketika membayangkan pernikahan adik tirinya itu gagal karena calon pengantinnya sudah kehilangan kepolosannya dan telah menghabiskan malam panas bersamanya.
Pangeran kelima pun berpikir untuk menjilat kaisar Xin dan menjadikannya sebagai sekutu untuk menghancurkan ayah dan juga ketiga saudara tirinya itu.
Gadis itu terlihat begitu gugup, masih terus menunduk sambil berjalan dengan terseok-seok saat merasakan rasa sakit dan juga perih di daerah inti nya.
Dia masih belum sepenuhnya sadar dan ingat dengan apa yang telah dia perbuat bersama pangeran kelima.
Sesampainya di ruang sidang, seluruh pejabat dan juga pembesar istana pun segera membungkukkan tubuhnya untuk memberi penghormatan pada kaisar Xin, sementara pangeran kelima berjalan dengan begitu pongah sambil menatap sinis semua orang yang hadir di aula sidang istana.
"Zen sengaja mengumpulkan kalian semua, karena pangeran kelima dari kekaisaran Yuan telah bertindak tidak baik di istana zen, dia dengan sesuka hati menyentuh seorang gadis di kediaman putri Xin Quan" ujar kaisar Xin.
"Katakan pembelaan mu pangeran" ucap penasihat kaisar.
Pangeran kelima pun segera menceritakan semua yang terjadi di kediaman Xin Quan mulai dari dia yang hanya duduk di atas dahan pohon hingga melihat bayangan hitam yang menerobos kamar putri Xin Quan.
Bahkan pangeran kelima pun mengakui perbuatan bejatnya yang telah menggauli putri Xin Quan.
"Apa maksud mu pangeran kelima? Jangan membuat rumor buruk yang akan menjatuhkan putri kesayangan zen dengan menuduhnya telah kehilangan kepolosannya" ucap kaisar Xin dengan wajah yang menggelap.
"Pangeran ini bersedia bertanggung jawab dan menikahi putri Xin Quan secepatnya" ucap pangeran kelima dengan penuh kesombongan.
Namun salah seorang pejabat yang memperhatikan gafis itu segera mengerutka kening nya kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Bagaimana mungkin kau akan bertanggung jawab dan menikahi putri Xin Quan pangeran kelima? Sedangkan gadis yang telah kau gauli itu dayang nya dan bukan tuan putri kami" ucap nya dengan suara lantang.
Semua orang pun melirik ke arah gadis itu yang semakin menundukkan wajah nya, jari gadis itu terlihat memilin hanfu nya terus menerus seolah tengah menghadapi tekanan berat.
Pangeran kelima pun melirik dan memperhatikan wajah gadis itu, memang dia bukan putri Xin Quan hanya bentuk tubuh nya saja yang mirip.
"Lalu dimana putri Xin Quan?" tanya pangeran kelima.
Tak lama para selir kaisar pun muncul bersama dengan putri Xin Quan.
"Eh... Ada apa ini ayahanda?" tanya putri Xin Quan bingung melihat pangeran kelima beserta dayang pribadinya ada di aula sidang.
"Dayang mu beserta pangeran kelima telah melakukan tindakan tercela, dan mereka melakukan nya di kamarmu, tepat di tempat tidurmu" ucap kaisar Xin dengan kesal.
Mata Xin Quan pun melotot ke arah pangeran kelima, jelas mata itu menyiratkan kemarahan dan juga kekecewaan yang mendalam.
Dan pangeran kelima pun bisa melihat hal itu dengan jelas.
"Apa kau tak bisa membedakan yang mana aku dan mana dayangku? Sampai-sampai kau melakukan tindakan tercela itu di kamarku?" tanya Xin Quan sambil menggelengkan kepalanya.
Dia pun keluar dari aula sidang itu dengan wajah yang kesal.
Namun sesampai nya di luar Xin Quan pun tertawa dengan senang hati.
"Cukup satu pukulan dan dua nyamuk pun mati" ucap Xin Quan sambil bersenandung dengan gembira