
Malam harinya, selepas makan malam, semua anggota keluarga terlihat berkumpul di gazebo, Ai Li dan juga pangeran kedua terlihat begitu bahagia, apalagi dengan kehamilan Ai Li yang kian membesar.
Pangeran ketiga nampak sendu menatap istrinya yang tengah mengelus perut besar nya itu, ingin dekat, tapi takut An Xia kembali marah, mengingat beberapa hari ini mood An Xia sering memburuk, jika di awal kehamilan An Xia terlihat santai, berbeda dengan saat ini yang mudah sekali marah bahkan terkadang menangis histeris tak tentu arah.
Kaisar Yuan duduk bersama selir Agung dan juga selir kehormatan, di hadapan mereka kaisar Xin nampak mengelus surai hitam Xin Quan dengan penuh kasih sayang.
Pangeran ketujuh yang baru saja akan bergabung bersama anggota keluarga nya yang lain nampak terhenti, sekitar 200 orang berpakaian serba hitam tiba-tiba menghadang perjalanan nya sambing mengacungkan pedang mereka.
Reflex pangeran ke tujuh pun mundur, matanya terlihat menyorot kedua ratus orang tersebut.
"Siapa kalian? Dan apa maksud kalian menghadang jalan pangeran ini?" tanya pangeran ketujuh.
"Kau tak perlu tahu, yang jelas kami datang untuk melenyapkanmu" ucap salah satu dari mereka sambil bergerak menyerang pangeran ketujuh.
Trang...
Trang...
Trang...
Suara pedang berbenturan membuat semua orang yang tengah duduk berbincang di gazebo segera menghentikan pembicaraannya dan langsung berdiri.
Mereka berjalan menuju sumber suara dan melihat pangeran ketujuh yang saat ini tengah bertarung dengan beberapa orang berpakaian hitam.
Pangeran kedua dan pangeran ketiga langsung menarik pedang mereka, namun di hentikan oleh Ai Li dan An Xia.
Kedua nya hanya bisa menarik nafas panjang melihat istri mereka yang keberatan untuk membantu.
Xin Quan melesat dengan cepat menuju tempat pertarungan itu, meskipun hatinya masih kesal pada pangeran ke tujuh, dia akan ikut bertarung.
Ini adalah cara dia meluapkan kemarahan nya, bertarung dan membunuh.
Kaisar Xin membelalakan matanya melihat putri kesayangan nya bergerak menuju tempat pertempuran, namun saat dia hendak mengikutinya, Ai Li mengejutkannya dengan sebuah kalimat yang terdengar begitu tegas.
"Biarkan putri Xin Quan melakukan nya yang mulia.. Dia pasti bisa meski tanpa bantuan siapa pun" ucap Ai Li
Brak...
Brak...
Brak...
Brak...
Xin Quan mulai membabat orang-orang berpakaian hitam itu, langkah nya begitu cepat bagaikan angin saat tangan mungil nya itu mulai melayangkan palu kesayangannya untuk mengahancurkan kepala musuh-musuh nya.
Bruk...
Bruk...
Bruk...
Sekitar 15 orang langsung terjatuh dalam keadaan mati, saat terkena benturan di kepalanya, kepala mereka bocor hingga isi kepalanya terlihat berhamburan kemana-mana.
"Sial... Dari mana datang nya gadis ini?" ucap salah seorang dari mereka saat menyadari beberapa orang kawan nya tumbang tanpa nyawa.
"Serang dan bunuh gadis itu!" perintah dari salah seorang berbaju hitam.
Sekitar 30 orang langsung melesat dengan cepat menyerang Xin Quan dengan pedang nya.
Xin Quan pun tak kalah cepat, dia yang telah di latih oleh Ai Li tentu saja tak mau melihat guru sekaligus calon kakak ipar nya itu kecewa, dengan gerakan yang sangat brutal kembali menghajar ke tiga puluh orang itu dengan menyerang titik buta nya.
Tangan kanan Xin Quan terus terayun melayangkan hantaman demi hantaman pada musuh nya, tangan kiri nya memberikan pukulan-pukulan tajam pada area dada dan juga perut orang-orang itu, sedangkan kaki nya terus menendang sambil bersalto di udara.
Xin Quan menggunakan kakinya untuk menerjang lutut dan juga area vital lawannya, dengan menggunakan sepatu besi yang telah di modifikasi oleh An Xia sehingga terlihat seperti sepatu biasa.
Darah mengucur deras membasahi pakaian Xin Quan, penampilan nya kini bak dewi kematian, wajah cantik nya pun tak lagi terlihat, malah seperti seorang iblis haus darah.
Orang-orang yang tersisa di buat menganga melihat kecepatan gerak dan juga kelincahan dan kekuatan Xin Quan, gadis mungil yang mampu membunuh dengan cara yang sadis dan kejam.
Bahkan para pembunuh bayaran itu hanya membunuh dengan cara menikam jantung atau pun menebas leher, sedangkan Xin Quan? Dia dengan senang hati menghancurkan kepala dan juga aset mereka hingga hancur hanya dengan palu dan juga sepatunya.
Bahkan Xin Quan merobek perut orang-orang itu, dan mengambil isinya untuk kembali dia lemparkan pada kawan-kawan nya yang masih hidup. Sungguh iblis dari segala iblis.
Kaisar Xin dan Kaisar Yuan hampir saja muntah darah melihat keberingasan putri dan juga calon menantunya yang sudah mencapai level gila, kedua nya saling pandang dengan wajah yang pucat dan tak berdaya.
Bahkan kaisar Xin yang merupakan ayah dari Xin Quan sama sekali tak pernah mengetahui jika putrinya itu memiliki jiwa psikopat yang nyata.
Pangeran kedua dan pangeran ketiga masih melongo dengan mulut yang terbuka, kedua nya juga di buat shock oleh tindakan Xin Quan, tidak tahu saja jika sebenarnya kedua istri mereka lah yang membuat Xin Quan semakin ganas dalam bertarung.
Selir agung dan selir kehormatan menutup mata mereka, keduanya tak ingin melihat pembantaian itu, sementara Ai Li dan An Xia menyeringai puas saat mengetahui hasil didikan mereka manjur pada Xin Quan.
Ahaaa... Kedua iblis cantik itu tersenyum senang sambil mengelus perut buncit mereka masing-masing.
Pangeran ketujuh hampir saja terkena tebasan pedang jika Xin Quan tak segera menarik tangannya untuk menjauh, dirinya yang selama ini menganggap Xin Quan sebagai gadis manja dan sombong yang merepotkan kini berbalik mengaguminya, 360° berubah, matanya berbinar saat mengingat jika Xin Quan adalah calon tunangan nya, seperti nya dia lupa jika siang tadi dia sendiri yang meminta Xin Quan membatalkan rencana pertunangan mereka.
Xin Quan mulai menarik tusuk rambutnya dengan tangan kiri, dengan cepat kembali menyerang lawan dengan menggores leher mereka.
Tusuk rambut Xin Quan sangatlah tajam dang juga telah di olesi racun kalajengking merah olehnya, hingga siapa pun yang terkena goresan pasti akan mati dengan cepat.
"Kenapa kau terus melihatku? Cepat habisi mereka atau kau yang akan mati!" ucap Xin Quan dengan datar sambil terus mengayunkan palunya..
Brak...
Brak...
Brak...
Bruk...
Bruk...
Bruk...
Akhirnya puluhan orang pun tumbang di tangan si iblis pencabut nyawa Xin Quan, kepuasan tercetak di wajahnya saat menyadari ilmu pembantaian yang di wariskan oleh Ai Li dan juga An Xia berhasil membuatnya semakin kuat dalam menyerang, bahkan saat ini tubuh nya tidak terdapat goresan satu pun.
Tersisa dua orang yang kini tengah tersungkur di tanah, Ai Li dan yang lainnya segera mendekat ke arah Xin Quan dan juga pangeran ketujuh.
"Apa kau menikmati permainan mu putri Xin Quan?" tanya Ai Li dengan senyum mengembang.
"Tentu saja.. Ini sangat menyenangkan" ucap nya sambil melompat dengan tinggi dan mendaratkan kedua kaki nya pada kedua orang yang tersungkur itu hingga wajah keduanya terjerembab masuk kedalam tanah.
Bukan tanpa tenaga Xin Quan melakukan itu, berat badannya di tumpu pada kedua kakinya kemudian menginjak dengan sepenuh tenaga apalagi sepatu yang dia pakai terbuat dari besi yang berat.
"Hahaha.. Kau terlihat cantik dengan penampilan seperti itu putri" ucap An Xia sambil tertawa.
"Terima kasih pada kedua guru yang telah membimbing Quan'er untuk bisa menginjak lalat-lalat busuk itu, jurus ini benar-benar ampuh dan sangat menyenangkan untuk di praktekan" ucap Xin Quan sambil melakukan penghormatan pada Ai Li dan juga An Xia.
"Tidak perlu seperti itu.. Hahaha.. Aku hanya melakukan yang aku bisa untuk membuatmu semakin anggun" ucap An Xia sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
"Anggun? Sepertinya kata itu tak pantas untuk disandingkan dengan kebrutalan Xin Quan" pikir selir kehormatan
"Astaga.. Sepertinya aku harus sering minum obat, kedua menantuku itu sungguh membuat jantungku lemah dan cepat mati" gumam selir agung dalam hati.
"Hahaha... Zen mendapatkan jackpot. Sangat bagus.. 3 orang iblis kecil ini jadi menantu zen" gumam kaisar Yuan dalam hati.
"Astaga.. Entah apa yang akan di pikirkan kaisar Yuan dan juga keluarga nya melihat kelakuan Quan'er seperti ini, semoga mereka tidak membatalkan pertunangan" pikir kaisar Xin sambil menatap nanar pada putrinya.