
Anita ..?!
Saat pernikahan sudah berjalan enam bulan, Anita yang dulu duduk sebangku dengannya di sekolah Sma hingga universitas, ia benar benar tidak menyangka akan menjadi boomerang bagi pernikahannya.
Bahkan yang Asna tahu, ia di cerai oleh suaminya karena sering bermain judi dan melakukan kdrt padanya, sehingga ia meminta dicarikan pekerjaan dan mampir ke rumahnya sering bertukar curhat, bahkan Anita pernah keguguran karena di tendang di saat suaminya pulang mabuk, itu adalah awal Anita di bawa oleh ke rumahnya dan di tolong oleh Asna, serta suaminya Arga atas permintaan Asna sendiri.
"Aku tidak tahu sejak kapan Anita berselingkuh dengan Arga, mungkin aku yang naif dan bodoh. Bahkan kali ini aku yang mencoba mempertahankan, karena aku yakin aku bisa segera hamil. Tapi ternyata nasib tidak berpihak pada pernikahan ku. Penyakit Progeria yang di diagnosa dokter membuat aku benar benar di tinggalkan." isak sedih Asna, yang kala itu mencoba menahan air matanya, namun tetap terjatuh juga.
"Aku rasa mata Arga saja yang tidak menurunkan pandangannya, membuang berlian sepertimu. Penyakit kelainan kamu bukan masala utama, yang utama adalah Arga yang bermasalah, atau dia menikahimu karena sebuah jabatan kamu yang dahulu kamu serahkan padanya, sehingga kini sudah di akui dan naik. Kamu di lepas ... Di singkirkan karena mata keranjangnya." jelas Irham.
Asna terdiam, ia jadi ingat hal hal yang mungkin bisa saja benar, tapi rasa cinta yang begitu dalam membuat Asna benar benar terlalu baik.
"Aku ingin beristirahat, soal proposal kantor dan pekerjaan baru ku, mohon bimbingannya ya pak bos." senyum Asna, ia seolah menyingkirkan masalah rumit yang ia pikirkan saat ini.
"Baiklah, tidurlah. Setelah sampai bandara akan aku bangunkan, jika tidak bangun akan aku seret." goda Irham, yang ia tahu Asna tidak ingin membahas Arga lagi.
"Ish .. Dasar." balas Asna yang membuat mata Irham tertawa terus meledeknya.
Perjalanan Asna dan Irham memakan kurang lebih 18 sampai 20 jam, sebab terjadi cuaca buruk sehingga mereka lebih lambat tiba di bandara Amerika, yakni Bandara Internasional Hartsfield - Jackson Atlanta. Asna dan Irham sudah di sambut oleh seseorang yang sengaja menjemputnya, bahkan kali ini mereka ada di belakang sebuah taksi pada umumnya, hal itu membuat Asna dan Irham sedikit dekat jarak mereka duduk.
"As, kamu tidur lagi saja! perjalanan sampai di kediaman kita itu masih 75 menit lagi."
"Tenang saja, lagi pula Apartemen ku disana ada banyak, satu Lantai milik ku aku sewakan, namun karena kamu bekerja denganku. Jadi salah satunya aku kosongkan untukmu tinggal, jika butuh sesuatu jangan sungkan hubungi aku!"
"Tetap saja, sudah lama aku enggak bertemu tante Marisa, sebab .."
"Mama ku sedang di belanda, aku di sana bekerja dan tinggal seorang diri. Kamu nanti bisa lihat kok, kita tinggal bersebelahan. Setelah sampai, besok pagi aku akan bawakan proposal dan jangan lupa, bersiaplah untuk bertemu dokter Patricia." lirih Irham, membuat mata Asna membola.
Asna menoleh ke arah jalan, dimana gedung gedung menjulang di luar negeri, sebab ini pertama kalinya Asna melakukan perjalanan bisnis, baik untuk operasi wajah dirinya yang rutin, dan dimulainya dirinya yang bekerja pada perusahaan keluarga Irham Bahrain.
Hingga sampailah mobil berhenti, dimana nama tersebut adalah Ritz-Carlton Penthouse, New York. Kota terpadat di amerika, yang mungkin jika ia berada di indonesia adalah ibu kota, namun mata Asna benar benar terpana, perubahan apa pada hidup Irham, sehingga Penthouse satu lantai miliknya, dan ia sewakan semua, menyisakan dua penthouse untuk dirinya dan kini untuk Asna tinggal selama mereka bekerja bersama.
"Kamu tinggal disini, Irham?" tanya Asna.
"Hem .. Hanya lantai paling atas, ayo! Biarkan koper akan ada yang membawakan, kita segera ke atas!" ajak Irham membuat Asna sedikit terguncang tak percaya.
Bahkan kali ini reflek Irham, ia menarik tangan Asna seolah menyeret lembut, karena Asna sejak tadi selalu tercengang.
TBC.