
"Hanya menaburkan gula bubuk, saya tidak memasukan apapun." lirihnya dan pergi dengan cepat.
Asna yang merasa aneh, tidak asing dengan suara itu, ia bergegas menoleh ketika Irham mendekati, dan bertanya. Sehingga Asna tidak jadi memencet tombol di jam, untuk bantuan orang.
"Kenapa, ada yang kamu curigai?"
"Mas minuman aja di kasih bubuk gula, kalau nanti sakit perut gimana?"
"Security .. Tolong makanan dan minuman di sini, di ganti! Linda .. Tolong pesan Jco, dan steak seperti biasa sesuai dengan tamu." teriak Irham membuat tatapan yang lain menoleh kaget.
"Eh .. Tapi maaf bos, pesanan begitu banyak bagaimana bisa dadakan."
"Iya juga mas Irham, gimana kalau para tamu kamu bilang jangan makan dan minum di area meja sini, sebab ada gelagat mencurigakan. Gimana kita langsung boyong tamu ke cafe bintang 5,"
Gleuk ..
Linda terdiam, bahkan Rian yang di belakangnya seolah tahu apa yang sedang di bisikan Asna pada bosnya itu. Merasa kaget atas saran Asna kala itu.
"Begini semua tamu, tolong jangan makan dan minum lagi, istriku mencurigai satu pelayan yang baru saja kabur, jika kalian memaksa minum dan makan. Di luar tanggung jawab kami, dari itu semuanya mari makan sepuasnya di depan area kantor, ada cafe keren dan enak juga kan. Jika ada yang ingin dibawa pulang, silahkan pesan maksimal 3 menu, khawatir yang lain tidak kebagian."
Gleuk ..
Hah ..
"Yang benar bos?"
"Be-betulkah ini, ah mimpi apa punya bos kita seperti ini, rasanya bagai malaikat bos." lirih salah satu mandor.
"Benar, karena peresmian sudah selesai, mari kalian langsung ke cafe di depan, cari tempat sendiri. Kami berdua tidak bisa menemani kalian lebih lama, untuk acara hari ini saya berterimakasih dan semoga esok kalian tetap semangat dalam menjalankan tugas, satu lagi jika ada sesuatu yang mencurigakan tombol kuning di kantor kalian bisa KLIK, karena tersambung pada bu bos kalian yakni Asna Bahrain. Selagi saya tidak ada, laporkan tingkah laku karyawan yang kotor dan saya berharap tidak ada pegawai saling nge bos, menindas, ataupun mencari muka. Kita semua kerja sehat dan kompak bersama." jelas Irham dengan banyak wacana.
Setelah banyak karyawan, dari staff, karyawan kontrak, dan mandor serta buruh lepas yang hadir, mereka menuju cafe bintang. Dimana Asna dibuat kagum oleh kedermawanan sisi Irham.
"Kenapa senyum?"
"Hm .. Enggak .. Gimana kalau kita ke pantai, sepertinya enak."
"Mau aja sih, tapi waktunya sayang. Ah .. Gimana kalau kita ke dufan, atau sea world..Yang dekat aja, kerjaan banyak menanti di rumah."
"Hm .. Kerjaan aku juga banyak bertambah, gimana kalau .." Asna menggoda Irham, dengan cara mendekat dan melonggarkan kancing kemejanya.
Hm ..
Tanpa sadar, Asna lupa akan keberadaan Rian dan Linda yang masih kembali ingin meraih tasnya, sebab ia juga ingin membuat laporan, bukan tanpa alasan Asna di baluti jas oleh Irham, tanpa membiarkan menoleh karena sadar aksi istrinya yang nakal.
'Ingat ini masih area kantor, kenapa istriku jadi nakal tidak sabaran sih. Suka granat ku ya ..?' bisik Irham, membuat semu padam pipi Asna memerah, KALA IRHAM BERBISIK BEGITU.
"Linda .. Rian .. Tolong handle para tamu yang makan di depan toko itu, tagihan nya ambil kartu ini! Linda dan Rian .. Sebagai manager kantor dan manager pribadi Bu bos, tolong handle semua dengan baik, jangan lupakan pesankan makan untuk keluarga kalian di rumah, dan makan dengan kenyang!"
"Baik bos, saya pamit." Linda meraih satu dompet tipis, berisi kartu hitam kantor.
Dimana Rian mengekor Linda kala itu, sehingga Irham kembali dan Asna berani menoleh.
"Kenapa senyum ..?" bisik Irham yang hampiri Asna.
TBC.