
"Jadi anda pemilik PT. Nusa Sakti?" tanya wanita itu, dengan mata elangnya.
Hatinya yang penuh dengan rasa cinta, kini sudah sangat sangat harus Asna lupakan, maka saat ini adalah dengan profesional. Meski ia kini berhadapan dengan pria masa lalunya, beberapa tahun menjalani asmara yang tidak sebentar bagi Asna, hanya saja pernikahan yang baru ia jalani selama dua tahun ini, itu membuat hati Asna sulit untuk berdamai.
"Benar saya hanya mengelola, lantas bagaimana dengan keputusan bu direktur. Apakah PT kami sangat baik, proposal yang saya kirim sudah sangat baik .. Sebab itu, saya datang ingin tahu alasan apakah accept atau reject, dan alasannya apa saya butuh itu." jelas Arga, nampak sekali ia menjaga image, padahal ia butuh dana yang cukup besar, namun bukan Arga jika ia rendah hati, sikap angkuh adalah pertahanan dirinya sebagai jabatannya.
Mendengar hal itu, ponsel Asna berdering. Ia lalu mengangkat telepon dan berlalu keluar meski tatapan kode isyarat meminta tamu nya untuk menunggu.
Arga begitu jantungan, apakah ia bicara terlalu kejam sehingga mendapat penolakan, Arga juga meminta Anita untuk menahan Mr Ken, klien penting dari Singapore yang menurut Arga dia adalah tambah emas juga yang harus ia pertahankan dalam bisnis.
Lima menit kemudian, Arga nampak kebingungan, baru kali ini ia di acuhkan oleh Klien, hanya karena perusahaan yang ia datangi memang pantas di hormati, apalagi terlihat lebih besar dari perusahaan PT Nusa Sakti.
'Benar benar sombong, kenapa ucapan saya belum di balas. Meraih ponsel seolah ini adalah penolakan. Tidak boleh gagal Arga, aku ini Arga Kusuma, apapun yang aku kelola selalu berhasil.' batin.
Tok ..
Tok ..
Nampak kali ini Laras masuk, ia meminta tamu untuk menunggu dalam beberapa puluh menit, hal itu membuat Arga terdiam mematung.
"Mohon maaf pak Arga. Bos kami bu Hasna meminta anda untuk menunggu, ada urusan yang harus ia lakukan sehingga saya meminta maaf anda harus menunggu. Ini silahkan di minum." senyum Laras.
"Hmm ... Kira kira berapa lama ya? saya juga ada temu orang juga satu jam lagi. Saya juga harus tahu, jangan sampai menunggu lama akhirnya di tolak."
"Oh .. untuk itu nanti saya sambungkan langsung ya, atau pak Arga mau atur ulang pertemuan?" tanya kembali Laras.
Arga nampak terdiam, ia jadi ingat kata kata Anita. Butuh waktu delapan bulan lebih ia di lirik dan kesempatan perusahaannya bertemu perusahaan Bahrain. Sebab jika ia sedikit arogan dan tidak sabaran, bukankah ia akan kembali Kolaps. Menunggu tiga bulan saja, sudah di ambang kebangkrutan terkait proyek kehilangan banyak dana, akibat salah hitung anggaran dan misi yang berubah tak sesuai awal rencana.
"Pak Arga, mau saya hubungi langsung?" kembali Laras, menyadarkan dimana gagang telepon sudah terangkat.
"Saya akan tunggu kira kira berapa lama ya?" senyum Arga sok ramah.
"Paling cepat 30 menit, permisi kalau begitu jika tidak ada pertanyaan lagi, mohon maaf menunggu waktunya!"
Sepertinya dia tangan kanan, ah ruangan ini besar sekali, Direktur perusahaan Bahrain kenapa di pimpin wanita, apa perusahaan ini tidak salah, dimana mana direktur itu harusnya laki laki, apalagi jika aku ada di posisi ini, mungkin aku bisa membuang orang yang menyulitkan aku bekerja.
Arga nampak berbicara sendiri, ia juga melihat papan nama Hasna Bahrain, itu mengingatkan dirinya dengan Asna. Entah kenapa nama itu membuat ia ingin cepat pergi saja, maka dari itu ia membuka ponselnya agar menunggu jenuh dari kebosanan. Dari menelpon Anita hingga bermain game di ruangan itu.
Sementara di tempat lain, Asna berada dalam toilet. Ia sengaja pergi setelah menerima panggilan, rencana yang ingin ia buat pada Arga, entah kenapa berbalik pada isi hatinya yang masih begitu mencintai pria yang pernah menjadi suaminya itu.
'Pepatah mengatakan, rencana keinginan memang tidak sesuai kenyataan di real itu benar, apalagi Asna yang berniat membuat Arga hancur .. Seolah berbalik dengan rasa kasihan, sejujurnya Asna bukan tipe wanita pendendam. Maka ia mungkin memutuskan memberikan bantuan bekerja sama pada perusahaan Arga, berniat menolong.'
Kembali Asna ke ruangannya, nampak sekali Arga masih duduk dengan kaki yang tidak diam, sebuah keangkuhan dan tidak sabaran memang sudah melekat, jadi Asna kembali profesional kala itu.
"Maaf sudah lama menunggu, bagaimana pak. Tadi kita sudah sampai mana?"
"Benar .. Jika kegiatan direktur memang amat sibuk, jika saya di posisi Ibu Hasna juga pasti berat."
"Mm .. Maksud anda?" lirihnya.
"Bukan apa apa bu Hasna, proposal saya bagaimana apakah di terima, kapan bergabung sebab proyek saya ini benar benar menghasilkan." jelas Arga.
"History dari sini saya bisa melihat semua cukup baik, dari proyek yang anda bangun selalu berhasil. Paling tidak proyek kali ini anda salah hitung, atau kekurangan dana. Atau juga anda sedang bersaing antara dua pihak yang membuat proyek anda terhambat." jelas Asna membuat Arga melongo.
"Ba- bagaimana anda berfikir seperti itu bu Hasna Bahrain, ucapan anda mirip orang yang saya benci dan jijik." ceplos Arga.
"Apa ..?" syok Asna.
"Ah .. Maaf kalau begitu, ucapan saya terlalu melantur. Akhir akhir ini memang sedikit ada banyak tekanan yang harus cepat selesai. Jadi maaf, ucapan saya yang tadi lupakan saja bu Hasna ..."
"Baiklah, .. Tinjau proyek anda sekarang, agar saya bisa melihat perkembangannya dalam waktu satu pekan, apa tidak apa jika saya meninjau lokasi, tetap saya tidak akan ikut campur. Sebab saya tidak suka mendanai dengan cuma cuma atau tidak jelas, atau tidak tepat sasaran. Sudah paham kontrak perjanjiannya bukan?"
Arga nampak sedikit senyum, jelas ia datang tidak sia sia. Maka proyek kali ini berhasil selangkah lebih awal dari si pria duda anak satu itu, jika sampai goal. Maka pria bernama Rain, tidak akan bisa merubah atau menggeser posisinya kali ini dan seterusnya.
"Baik, saya tahu. Kapan bu Hasna ingin melihat proyek yang sudah jadi meski 40% saja ..?"
"Sekarang!"
Deg .. Apa artinya?!
"Senang bekerja sama dengan anda, saya terima kerja sama ini. Asisten saya Laras akan mengirim bahan dan sebuah kontraknya secepat mungkin." senyum Asna yang penuh arti.
"Baik, terimakasih bu Hasna. Terimakasih sudah mempercayakan pada PT. Kami, kedepannya dan seterusnya saya pasti tidak akan membuat perusahaan anda kecewa." balas Arga, seolah ia tidak peduli dengan Mr. Ken, sebab ia kehilangan satu klien yang tak berguna itu pun, ia sudah mendapat tambang emas kelas kakap.
"Bisa kita berangkat sekarang?" tanya Asna.
"Bisa bu Hasna, mari!" ucap Arga yang ikut berdiri.
Asna meraih tasnya, dan sebuah tabletnya. Awalnya ia kasihan tak ingin dendam, namun ketika ucapan Arga bagai belati, ketika ia menjelaskan samar samar, jika ucapan itu membuat ia ingat seseorang yang ia benci dan jijik, hal itu merubah emosi Asna yang kini berjalan dengan anggung penuh wibawa.
'Kita lihat, apakah kamu akan mengatakan padaku, kamu membenciku atau jijik padaku mas. Seburuk itu kah aku wanita di matamu, salahkan sikapmu ini yang membuat awal kehancuran di depan mata mu Lebih cepat.' batin Asna yang kala itu masuk ke dalam lift, tatapan lurus penuh makna.
TBC.