
Asna dan Irham di malam itu membeli gulali, ketika sadar Warna yang lucu itu membuat Asna ikut ikutan membeli gulali berbentuk kepala badan boneka salju, yang hidungnya berwarna pink!
"Kamu beli ini As ..?"
"Iya kamu juga beli ya, habis lucu sih. Rasanya seperti apa ya, aku cuma pernah lihat doang tapi ini pertama kalinya loh aku coba. Apalagi warnanya kaya pelangi, tapi aku lebih suka yang model kapas ini."
"Serius kamu belum pernah coba?" di anggukan Asna, dan Irham menurut saja ia kala itu.
"Kamu itu sudah berapa tahun sih, masa belum coba ini?"
"Irham, kamu lupa sejak ibu kamu jagain aku di rumah, saat ibu aku kerja. Terus tahu aku punya amandel dan mudah banget infeksi kalau di kasih makanan sembarang, aku langsung panas dan sakit tenggorokan?" jelasnya.
Yang membuat Irham sedang menjilati gulali kapas, menoleh ke arah Asna.
"As, kenapa aku sampe tidak tahu. Soalnya ibu enggak pernah bilang kamu punya sakit amandel akut. Sini .. Gulali kapas kamu!"
"Eh .. Mau dikemanakan, aku baru sedikit makan Ir. Kamu tega banget deh, orang baru secuil juga aku rasain."
"Kamu tadi bilang apa, kalau tiba tiba panas gimana? Kalau kumat amandelnya gimana, Asna kamu ini bikin orang panik aja deh. Makan beginian padahal punya riwayat buruk soal kesehatan." gerutunya tanpa jeda, bagai dokter gizi.
"Aku kan udah gede Ir, makan sedikit. Masa iya gak boleh, enggak mungkin jadi sakit pasti. Itu kan dulu waktu kecil. Sayang banget itu nanti mubazir."
"Gak usah tampang melas As. Udah biar aku habisin punya kamu, biar enggak mubazir kan." raihnya, membuat Asna senyum kecut.
Asna hanya ngiler saat itu, lalu melihat lihat wahana agar rasa keinginan makan gulali tidak kesal. Lalu menoleh sudah terlihat Irham yang senyum tanpa ada gulali besar di tangannya itu.
"Gulali nya kamu buang ya?"
"Enggak lah As, aku bulatin jadi kecil segede bola coklat cha cha. Aku suap deh, di ****. Lihat, lidah aku berwarna kan?"
"Hahaha .. Kamu kaya bocah deh."
"Kok ketawa sih, seorang irham mana pernah Enggak jujur. Perasaan aku tulus aja, kamu masih diam enggak respon, udah sekarang kamu mau naik wahana apa?"
Asna sempat terdiam, bukan tanpa alasan ia benar benar bingung dengan perasaanya ini. Ia selalu anggap Irham sahabat baiknya, apalagi rasa nyamannya itu yang membuat Asna tidak memikirkan hal lebih.
"Kok diem?" tanya lagi Irham.
"Yang itu aja, mau naik komedi puter." unjuk Asna sambil senyum.
"Oke .. Tunggu disini ya!" pinta Irham, yang menuju antrian.
'Sorry ya Ir. Padahal lo udah baik banget sama gue dari kecil, enggak nyokap. Enggak lo yang selalu perhatian lebih begini. Ini yang bikin gue takut jadi enggak tahu diri, kalau gue nerima lo. Padahal jelas jelas, perasaan ini benar benar anggap lo masih sama seperti dulu.' batin Asna yang melihat Irham, membeli tiket.
Dari balik punggung saja Irham sudah terlihat tampan, entah kenapa dia belum membuka hati. Padahal ia pernah dengar dari rekannya, jika Irham terakhir berhubungan dengan seorang wanita, namun entah benar atau tidak, yang jelas privasi Irham, Asna tidak pernah tahu, dia begitu rapih menyembunyikan semua kisahnya, anehnya kisah dirinya selalu diketahui Irham.
Bahkan saat dirinya di sakiti Arga berkali kali, selalu saja Irham tahu dan datang menemuinya. Membantunya meski sempat ia menolak, tetap saja hati Asna luluh dan selalu nyaman disisi Arga dengan bantuannya itu.
'Apa aku jahat selalu anggap kamu sahabat Ir, entah aku enggak tahu kenapa perasaan ini beku. Yang jelas kamu selalu memberi aku rasa nyaman, dan melindungi. Kenapa pria seperti mu tidak cepat menikah, jika kamu cepat menikah, apa kita bisa sedekat seperti ini. Yang jelas, aku pasti harus menghindar. Semoga wanita terbaik yang kamu dapatkan Ir, sebab kamu adalah pria baik selama aku kenal, tidak ada cela buruk tentangmu selama aku kenal.' batin Asna, yang kala itu Irham membalik badan dan senyum padanya.
IRHAM ... ( TERIAKAN SEORANG WANITA DARI ARAH LAIN )
Asna dan Irham pun menoleh ke arah suara tersebut, dimana saat ini Asna dibuat kaget dengan sosok yang berlari ke arah Irham.
TBC.