Skandal Cinta Ke Dua

Skandal Cinta Ke Dua
Nyonya Irham Bahrain


Top Cookie, mereka benar benar makan manisan. Dimana hal ini membuat Asna masih saja ng-**** kue coklat yang sudah langganan mereka beli setiap mereka berada di Singapore.


Malam mereka tiba, tak membuat kehidupan Irham dan Asna mengantuk, apalagi berada di sebuah hotel berbintang, dan mereka menatap jendela yang menjulang ke arah kerlap kerlip. Irham yang mode memeluk Asna, membuat diri Asna menggelitik ketika sebuah jenjang tengkuknya di susuri begitu saja. Hal ini membuat wajah Asna menoleh ke arah pria yang sudah berstatus suaminya itu.


"Apa ingin kita mandi lagi?" tanya Asna.


"Hm .. Menurutmu, kenapa aku tergila gila. Aku merasa ada sesuatu yang membuat aku begini, katakan padaku nyonya Irham. Apa yang kamu lakukan padaku."


"Hahaha .." tawa renyah Asna, dimana ia geli ketika Irham menggelitik pinggangnya. Hal ini membuat hidup mereka seolah hanya mereka saja di bumi yang ada.


'Padahal .. Di awak pesawat kamu mabuk, kita sudah melakukan hal diluar nalar loh. Lalu kita sampai membeli banyak beli coklat kue, dan sampai disini kita juga melakukannya. Apa kamu tidak lelah, ini sudah pukul 3 pagi.' bisik Asna, yang memakai piyama di atas lutut berwarna maron.


'Entahlah, kita akan melakukan malam indah beberapa hari ini, sebab nanti setelah kita handel kantor. Aku akan jarang melihatmu, aku harus urus perusahaan papa di Amerika. Dan kamu handle terus yang di Jakarta. Aku menyesal telah membeli Nusa Sakti, jika kamu berada terus di jakarta.'


Tawa pecah Asna, membuat ia malu malu. "Kamu yang memberi ide saat itu untuk membeli perusahaan Nusa Sakti, jadi kenapa menyesal?" tanya Asna.


"Aku menyesal karena kita tidak sering bersama, hah .. Satu minggu 7 hari, aku akan di indonesia 3 hari. Rasanya aku ingin kamu tetap di sampingku. Gimana kalau handle oleh yang lain, kamu tetap di sampingku saja."


"Irham, beri aku waktu. Setidaknya satu tahun handle perusahaan kamu yang kita beli. Setelah aku tahu semuanya aman, aku akan minta seseorang handle. Dan kita tidak perlu lagi datang mengecek setiap hari. Aku janji akan ada di sampingmu."


"Baiklah, tapi jangan terus capek. Jangan seharian di kantor. Kamu itu adalah owner Asna, luangkan waktu kamu untuk happy."


"Terimakasih, aku paham peringatan kamu akan selalu aku dengar." senyum Asna.


Dimana Asna kala ini, lebih dulu merapatkan dan memiringkan dirinya berada dalam mode pelukan erat Irham, dan mereka sudah pasti melakukan ritual semestinya tanpa henti, seolah kerinduan akan memuncak ketika mereka tak ada.


Hingga beberapa jam kemudian, Asna yang sudah mode miring, membuat Irham memeluk erat tidur dari belakang.


Cup ..


"Sayang .. Terimakasih." lirih Irham.


"Sama sama suamiku." lelah mata Asna, untuk kali ini ia mode menghadap suaminya, sementara Irham merentangkan ketika tidur, dan Asna tidur di bidak kotak kotak suaminya itu.


'Aku tidak tahu, kenapa bisa sebahagia begini. Dulu aku mengira menikah denganmu adalah hal terbaik, agar aku tidak disakiti. Dan aku jadi takut setelah menikah denganmu takut kehilanganmu, aku yakin ini adalah cinta untuk Irham.' batin.


"Ayo tidur, jangan lihat aku terus. Aku bisa jadi Geer nih. Apa kamu ingin lagi dengan gaya ..?" mengintip membuka satu mata.


"Dasar me-su-m! Memang aku enggak boleh lihat wajah suamiku terus, Aku tidak pernah membayangkan kita bisa tidur seranjang."


"Aku malah selalu membayangkan terus menerus tidur bersama, akhirnya kesampaian." balas Irham, yang kembali menyentuh bi-bir Asna kilat.


Cup.


Apalagi semakin kebawah membuat hal tak tertahankan dalam beberapa puluh menit, membuat cengkraman tangan Irham yang kala itu tak tahan. Sudah pasti mereka kembali menyatukan keindahan cinta tertunda mereka, Asna berharap pernikahan keduanya ini selalu bahagia dan bisa memiliki keturunan, agar dirinya bukan di anggap wanita mandul dan wanita penyakitan.


Pagi sudah terbit, dimana Asna dan Irham benar benar baru tidur, layaknya pengantin memang mereka menonaktifkan kegiatan di ponsel. Dua hari mereka di Di singapore membuat mereka tidak mau terganggu dengan kegiatan agenda atau laporan dari perusahaan.


Jam membangunkan, dimana mata Asna berkedip dan melihat jam di ponselnya yang ia silent. "Astaga .. Ini sudah pukul sebelas siang, bisa bisanya bangun seperti ini."


Irham yang mendengar suara lembut istrinya, ia segera merangkul dan berbisik ketika melihat wajah Asna bangun tidur. Asna yang malu, ia menutupi wajahnya dengan selimut tebal, agar tidak dilihat Irham.


"Kenapa malu, kita suami istri loh."


"Aku masih bau, jangan dekat dong."


"Hm .. Bau alami, aku juga sama. Gimana kalau kita mandi bersama." teriak Irham, membuat Asna kaget.


Sebab Asna sudah dibopong membuat wajah semu malu Asna kala itu, bukan tanpa alasan mereka mungkin melakukan ritual bersama di bathtub, setelah membersihkan diri.


Asna yang sudah membersihkan diri dan wangi sabun yang melekat, membuat dirinya kaget ketika Irham sudah mendekat, dan sudah pasti menyusuri setiap lekukan tanpa melewati setiap inci.


Dan sudah sejak lama pun, kini mereka sudah ada di restoran, dimana mereka sarapan mengisi perut di jam satu siang. Irham yang sedari tadi senyum, membuat Asna benar benar tidak percaya.


"Kamu kenapa senyum, emang senyum aja bikin kenyang? Makanan udah siap juga."


"Nih aku potongin bistik ayam kamu, emang suami enggak boleh senyum. Memuji istrinya yang ganas, aku rasa aku beri kamu waktu 3 bulan untuk handle kantor di jakarta. Selebihnya kamu ikut aku, kita tinggal lebih banyak di Amerika."


"Suamiku, kenapa begitu? Kita kan udah sepakat."


"Aku berubah pikiran, sepertinya lelahku bekerja harus ada kamu. Kamu itu mood booster aku tahu gak, aku enggak mau lama lama. Setahun kelamaan, 3 bulan juga kelamaan. 1 minggu aja gimana?" melahap makanan.


"Oke .. 3 bulan, aku akan datang ke KANTOR 2/3 kali dalam seminggu. Sisanya aku akan ke kantor kamu di Amerika. Tapi, kamu kan tahu di Amerika aku kesulitan sama keluarga besar kamu."


"Kamu jangan khawatir. Enggak ada yang berani macam macam sama kamu, emang siapa yang mau bikin kamu enggak nyaman?" tanya Irham.


"Em .. Enggak tahu sih, secara kamu kan tahu .."


"Sayang, belanja lah. Semua barang barang lama kamu berikan sama siapa aja, di dompetmu ada dua kartu hitam, satu untuk belanja dan satu untuk keperluan kamu. Nanti kita pulang, kamar pasti di penuhi dengan barang barang baru. Nyonya Irham harus menyesuaikan semua dari hal kecil, pakaian, aksesoris, tas dan apapun itu. Jadi jangan lelah, ketika nanti Tika ajak kamu ke group sosialnya. Group keluarga Bahrain."


Deg.


'Group keluarga Bahrain, artinya ada tante Marisa juga, yakni mama mertua yang terlihat jelas menentang kami bersama.' batin Asna, yang mode senyum dan terlihat senang padahal hatinya ...


TBC.