Skandal Cinta Ke Dua

Skandal Cinta Ke Dua
Siapa Pelayan Itu


Makan malam hari ini dimulai, dari Irham yang memotong steak ayam dan kentang pilihan. Hal ini membuat mata Asna berkantung menatap ibu mertuanya itu, bukan tanpa alasan kali ini yang Asna lihat adalah sikap benar benar tidak menerima dirinya, ingin sekali Asna bertanya tentang masa lalu ibu nya yang pergi, bahkan melihat ayah kandungnya saja Asna benar benar samar kala usia 6 tahun, dan tidak ingat lagi bagaimana bentuk rupa dan wajahnya jika masih hidup.


"Besok kalian sudah harus aktivitas lagi, Irham papa dan Tika serta mama akan lebih dulu berangkat subuh nanti, kamu dua hari dari papa berangkat ke Mexico, segeralah menyusul. Asna bisa handle kan perusahaan yang disini, ingat tenang dan teliti adalah kuncinya!"


"Iya pah." balas Asna dan Irham, menurut.


Irham tidak punya banyak waktu, sepertinya dua hari ini ia harus memaksimalkan kemungkinan bersama Asna soal honeymoon di rumahnya ini, apalagi hanya ada mereka berdua saja, tanpa ada keluarganya lagi.


'Artinya aku bebas mendekor kamar cantik ini untuk bersama Asna.' batin Irham senyum.


"Irham .. Kamu kenapa? Kok senyum senyum, papa tanya tuh. Gimana soal project pak Brian." senggol Asna yang menyadarkan.


Eh ..


"Hm .. Mulai deh si kakak, selalu aja fantasi sendiri. Kesempatan kan karena enggak ada kami?" sebal Tika yang menggoda.


"Jih .. Anak kecil, sok tau. Baik pah, soal pak Brian itu, Irham tidak lupa, sudah siap malah. Meski honeymoon kemarin pergi, Irham tidak lupa mengerjakan lewat tablet! Tinggal print, biar asisten mencetak." jelas Irham, membuat Bahrain penuh rasa syukur, karena putranya benar benar perfect dalam mewarisi bakat mengurus perusahaan.


Hingga menjelang pagi, Asna yang terlelap lagi tidak dibangunkan ketika mertua dan adik ipar sudah menuju bandara, Irham segera bergegas naik ke atas kasur dan memeluk punggung istrinya.


Hm ..


"Jam berapa ini mas .. Ah, jam 4. Mas kamu kok enggak bangunin aku, kamu ini suami macam apa sih?" racau Asna.


"Dih .. Orang papa nyuruh enggak perlu bangunin kamu, kamu itu udah capek soalnya. Tidur kamu juga lelap banget! Pagi nanti kan kita mau ke Nusa Bahrain kan. Persemian Nusa Sakti yang berubah nama kamu, ingat ya kamu harus tetap waspada! Tetap jaga kesehatan selama enggak ada aku, ingat nomor ponsel di tablet yang aku kasih, semuanya terhubung tinggal pencet aja kalau ada apa apa, orang orang aku bakal bantu kamu!"


"Siap bos Irham."


Tawa, mereka pecah. Dimana Irham sudah menutup selimut, bermanja dan meminta asupan pada Asna wanita yang ia cintai, dan mungkin penyatuan dua insan kembali terulang dimana mereka sudah sah jadi pasangan suami istri, jadi bebas untuk melakukan apapun dimanapun.


Siang harinya, nampak Anita kesal melihat PT Nusa Sakti yang ia lihat, ramai dengan ucapan bunga dekor selamat. Apalagi nama perusahaan itu sudah berganti menjadi PT Asna Bahrain. Benar benar hal yang tidak logis, selangkah lagi Anita ingin menghancurkan Asna yang sudah membuat dirinya benar benar pengangguran, bahkan ia melakukan hal pekerjaan kotor demi menyambung hidup dengan model dirinya yang sulit dikenal.


"Awas aja, kalau nanti aku ada kesempatan! Aku pastikan wajah Asna itu aku ukir dengan pisau kecil, bisa bisanya dia sukses di nikahi cowok tajir. Siapa sih suaminya dia itu, bisa bisanya nikahi Asna si janda penyakitan progeria, ta-tapi gila juga sih. Wajah dia kok bisa mulus ya, apa jangan jangan dia berobat udah sembuh. Ini gak bisa dibiarin, aku harus punya rencana buat masuk ke acara itu."


Anita yang mencari ide, ia melihat seorang pelayan hitam putih dengan rompi hitam dan masker serta topi berjalan mendorong troli sampah, Anita mendekati pelayan itu dan mencoba melirik lirik mata mata yang mungkin sepi tidak melihat aksinya.


Ssssrrr ..


Anita membius pelayan itu, dan menyeretnya ke sebuah toilet sepi, dimana Anita punya aksi lain yang sudah ia rencana dadakan.


"Hebat .. Maaf ya! Kamu sih enggak salah, kita tukeran baju dulu. Aku harus masuk cari info penting di dalam sana, sorry semoga kamu pingsan lebih lama." senyum Anita yang meninggalkan toilet.


Dan saat Asna sudah memberi sambutan, untuk semua tamu dan klien, mata Asna dikejutkan dengan gerik tingkah pelayan yang kali ini terlihat menaburkan sesuatu, sehingga tatapan semua orang melihat Asna yang berjalan pelan ke arah lain.


Tap ..


Tap ..


Anita yang mencoba membubuhkan sesuatu kedalam desert dan minuman, ia langsung tertegun ketika satu tangannya di tahan.


"Stop! Kamu berikan apa?" ujar Asna, yang membuat Anita diam tak berkutik, apalagi tak berani menoleh.


"Kenapa diam, kamu benar pelayan sini? Itu apa .. Bubuk putih itu apa, kamu ..?" tanya kembali Asna, yang menahan tangan wanita pelayan yang ia curigai.


TBC.