Skandal Cinta Ke Dua

Skandal Cinta Ke Dua
Ternyata Mantan Istriku


Derai air mata Asna yang bahagia tadi malam, ketika Irham menyatukan bendanya ke miliknya, membuat malam itu adalah malam panas yang mereka lewati. Dimana Asna memberi jawaban agar Irham menepati janjinya, sebab Asna merasa pria yang paling baik adalah Irham seorang, yang mampu membuat Asna bahagia, persetan dengan cinta, yang jelas Asna merasa dicintai membuat hidupnya amat bahagia.


Asna yang pagi ini sudah ada di kantor PT Nusa Sakti, meninggalkan Irham yang mungkin lelah dan masih tidur. Sejak subuh subuh sekali mereka melakukan kembali, Irham kembali pulas, sementara Asna langsung membersihkan diri dan bergegas dirinya ke apartemennya.


Membawa berkas kantor seperti biasa, sejak pukul 7 pagi, Asna sudah lebih awal berada di kantor, dimana kebanyakan mungkin owner akan siang tiba, apalagi Linda juga belum datang terkait ia mengerjakan pekerjaan lain yang cukup padat.


Asna yang masih mengetik laporan dari bawahannya, untuk ia cek atau tanda tangani. Dirinya masih berdenyut hebat, akan sikap liar Irham semalam, bahkan dirinya saja memakai syal dan memakai kemeja kantor amat tinggi, tidak aman jika dilihat yang lain ketika ia sedang menyembunyikan tanda merah di jenjang lehernya, yang tertutup saat ini, akan tetapi jika syal dibuka ketika ia bergerak aktif, mungkin akan terlihat maka ditutupi adalah cara aman. Maka Asna sudah dari pagi sekali ia ada di kantor dengan banyak memikirkan.


'Bagaimanapun aku berhak bahagia, semoga tante Marisa bisa mengerti dan merestui, harusnya semalam tidak terbawa hanyut.' sesak Asna, yang benar benar gila seolah dirinya ingin segera laku saja, menyesal bagi diri Asna yang seolah dirinya tak bisa menjaga, hanya karena ingin berada di puncak wanita berkuasa, hanya sosok Irham yang bisa membuat ia sebagai Ratu.


Beberapa jam kemudian, suara ketukan pintu kaca membuat mata Asna menoleh siapa yang datang.


"Permisi Bu, ini data data yang harus di cek, beberapa kandidat yang akan bekerja menggantikan posisi yang sempat di hilangkan." jelas Linda.


"Makasih, saya akan segera cek segera Linda. Apa ada hal lain yang harus saya cek lagi, sebab saya berencana akan keluar hari ini. Kamu tetap saja di office, sebab saya ingin pergi sendiri karena ada hal penting."


"Ah, tidak ada bu. Klien juga tidak ada, karena kemarin sudah di handle oleh pak Irham." jelas Linda.


"Baiklah, terimakasih atas kerja kerasnya ya Linda. Kalau pak Irham datang, bilang saja saya sedang keluar. Kemungkinan saya akan mematikan ponsel beberapa jam kedepan." senyum ramah.


"Oh baiklah bu Hasna." pamit Linda.


Sementara Asna, kali ini ia mengerjakan berapa banyak hal, dimana kali ini ia segera cepat menyeleksi data data yang harus ia acc atau pun tidak, sebab dengan begitu ia segera percepat mencentang biru dan silang yang menurut Asna layak jadi karyawan PT Nusa Sakti, apalagi dengan seleksi psikolog Asna tahu kepribadian seseorang seperti apa dari tulisan dan gambar pertanyaan ia sudah paham.


'Beres, semoga dengan ini tidak ada karyawan nakal lagi, semoga proyek selanjutnya bisa berjalan lancar, dan Rain bisa handel PT ini kembali, jika bawahan semua jujur, dan para bos mensejahterakan karyawan bukan kah proyek apapun akan berjalan dengan baik.' lirih Asna, yang mana melihat ruangan pak Zack dahulu, kini ia duduki karena adanya Irham.


Asna menatap cermin, sebab siang ini adalah jadwal kontrol klinik kecantikan khusus, seperti pada umumnya selain mengubah kulit wajah Asna yang mengerut kembali muda seperti bayi, sebab operasi itu dari beberapa bagian tubuh indahnya yang menjadikan Asna cantik dan sedikit lebih muda mirip usia 17 tahun, meski begitu tetap saja Asna merasa takut ketika ia mengarungi rumah tangga lagi, apakah keturunannya akan mengalami penyakit langka sepertinya.


'Ah .. Kenapa aku baru sadar, harusnya aku ingat penyakit langka ku. Meski beberapa kali aku terus saja mengecek kulit wajah ini tetap cantik tidak ada ketergantungan, tetap saja jika kelak aku punya keturunan akan sepertinya kelak, yakni penyakit progeria.'


"Tidak .. Aku enggak boleh berfikir begini lagi, sebab beberapa tahun menjalani hidup bersama Arga. Aku tidak pernah ada tanda tanda hamil, jadi semua itu pasti salah. Astaga .. Semalam, andai saja tidak terbawa suasana mungkin kebodohan ini tidak berlanjut, aku harus segera pergi. Setidaknya aku malu bertemu wajah Irham saat ini."


Asna pun mematikan laptopnya, lalu merapihkan semuanya ditempat semula, agar Linda nanti tinggal ambil berkas yang sudah ia koreksi. Meraih tas, Asna segera pergi saat itu juga, hingga sampai di loby parkiran ia meminta supir mengcopy berkas dan mengantar Linda saja saat ada dadakan pergi nanti siang, membuat supir pun mengangguk.


Asna yang sudah di luar, ia masuk ke dalam taksi. Dimana taksi itu sudah kembali jalan, tak lama mobil Irham pun tiba masuk ke dalam kantor, yang membuat mereka berpapasan jalan.


"Mau kemana bu?"


"Lapas Kali Sosok!"


"Baik bu." supir taksi mengangguk, sementara Asna mematikan ponselnya.


Dalam beberapa jam perjalanan Asna sampai dan peraturan yang ada ia ingin menjenguk orang yang kali ini ingin ia lihat bagaimana kondisinya setelah apa yang dilewati.


"Baik, terimakasih."


Di tempat Lain sosok Arga nampak frustasi, ia benar benar tidak menyangka hasil keputusan sidang membuat ia mendekam dipenjara, sementara Anita mungkin hanya wajib lapor karena mungkin saat ini ia memakai uang jaminan yang entah dari mana.


'Uangku .. Bagaimana bisa uangku raib, kenapa ini terjadi padaku. Kau jahat sekali Nit, padahal aku sangat mencintai kamu. Melakukan semua ini demi kamu, tega kamu tinggalin aku!' lirih Arga, yang nampak menjedotkan keningnya ke jeruji besi.


Nampak Arga satu sel seorang diri, setelah kasus pengeroyokan yang menyebabkan alat vitalnya rusak, dan saluran nafasnya tidak beraturan.


Tek ..


Tek ..


"Nomor 271 ada tamu yang ingin bertemu! Cepatlah, waktu dua puluh menit." ujar petugas itu dengan wajah tajam.


"271 itu aku, aku Arga. Apa dia Anita, dia mau bebasin saya ya pak. Saya enggak bersalah benarkan pak." senyum Arga nampak mirip orang gila.


"Cepat sisa waktu 20 menit."


"Ba- baik!" renyah Arga, langsung jalan sedikit cepat.


Dan saat ia sampai di nomor tiga, terlihat seorang wanita memakai kacamata dibatasi jeruji besi dan pembatas kaca, Arga pun meraih telepon genggam dan menatap siapa di depannya itu.


"Siapa kau, kenapa ingin ketemu denganku?" lirih Arga.


Asna membuka kaca mata, setelah senyum miring melihat wajah mantan suami penghianatnya itu. Sebab bertahun tahun seluruh hidupnya ia berjuang untuk hidup sukses bersama, tidak sangka suaminya selingkuh dengan teman baiknya sendiri, dan itu sudah berlangsung satu tahun sebelum Asna menikah dengan Arga, sangat bodohnya Asna yang telah percaya pada sosok Arga Kusuma.


"Lupa denganku Mas Arga Kusuma, apa diriku sulit kamu kenali saat ini, apa suara ini tidak mampu dikenali .. ?"


"Kamu bukan Hasna Bahrain, kamu Asna Wijaya .. Hah, bisa bisanya kamu melakukan ini padaku?" kesal Arga, dibalik telepon genggam menatap tajam pada Asna.


"Kenapa harus sulit, melempar penghianat sepertimu, memang sudah pantas. Aku juga datang pertama dan terakhir, yang aku harap kamu bisa kuat menjalani realita kehidupan mu selanjutnya, sekaligus aku akan menjadi Nyonya Irham Bahrain. Jadi sekali lagi kamu menganggu hidupku sepuluh tahun kemudian, mungkin kamu akan aku habisi Arga. Jadi jika bertemu denganku, keluarga baru ku, lebih baik kamu mengumpat sekalipun itu lubang tikus yang sangat mirip dengan kehidupanmu." jelas Asna penuh senyuman miring menatap Arga.


Asna pun meletakkan telepon genggam, dan ia segera berdiri untuk pergi tanpa menoleh sekalipun, apalagi jalan Asna saat ini benar benar anggun, membuat hidup Arga tak percaya klien besar dihadapannya adalah mantan istrinya yang pernah ia campakkan.


'Kenapa bisa Asna seperti itu, aku tidak akan berhenti merusak kehidupan kamu Asna.' batin Arga yang tak ingin menerima kekalahan.


Argh .. ( Teriak Arga frustasi )


TBC.