
"Kamu bisa lihat berita ini!" lemas Asna, yang kala itu langsung mencuci tangan dan membuka celemek.
Irham pun saat itu meraih ponsel Asna, dimana kali ini melihat sebuah pesan dari Linda asistennya. Lalu Irham segera mungkin memencet nomor Linda melalui ponsel Asna.
Tlith ..
Beberapa saat, Irham segera menjaga jarak dari Asna, terlihat beberapa kata pertanyaan dan penegasan dengan sebuah info yang tidak lucu. Sehingga setelah begitu lama Irham segera meraih ponselnya dan menghubungi seseorang, dimana Asna yang duduk melihat berita sekali lagi membuat ia khawatir akan berita yang membuat Asna khawatir.
"Aku sudah minta intel, juga minta Deri melacak keberadaannya. Semoga setelah ini, bisa membantu polisi menemukan Arga."
"Aku khawatir bukan karena Arga keluar dan tidak bisa ditemukan, aku merasa ada sesuatu terselubung. Dia tidak mungkin punya penyakit apalagi kasus seperti ini banyak dicari, setelah dinyatakan gangguan jiwa dalam pengawasan, lengah sedikit dia kabur."
"Aku mau kamu enggak perlu khawatir lagi ya! Soal ini biar orang aku yang urus, agar mereka menemukan Arga. Aku juga tidak mau dia datang, mungkin saja dia mencari ..?" telisik Irham, mendekat di kuping Asna.
Dan untuk saat ini, Irham melanjutkan memasak yang tertunda, dimana wajah Asna terlihat tidak mood.
"Kamu jangan lupakan, kamu punya orang yang sudah aku unjukan kemarin. Siapapun tidak akan bisa menyakiti kamu, sekalipun Arga atau dibalik mereka datang, mereka enggak akan pernah bisa masuk atau mendekati kamu!"
"A-aku .. Bukan begitu, aku percaya soal itu. Tapi gimana kalau lengah dikit, aku takut nanti .."
"Sayang, enggak ada yang bisa sakiti kamu atau aku. Kita serahkan sama yang diatas, untuk selalu menjaga kita kapanpun dan dimanapun."
Ungkapan Irham, membuat hati Asna senyum. Terlebih hal yang benar benar membuat diri Asna tenang dan mood nya kembali lagi, seolah hal ini membuat diri Asna harus percaya akan suaminya itu bisa melindunginya.
"Ayo kita makan, setelah ini kita masih banyak kegiatan di kamar!" bisik Irham, membuat wajah semu Asna malu merona.
"Kenapa senyum begitu?" tanya Irham.
"Kamu selalu ada aja bikin aku senyum dengan banyak arti." balas Asna berbisik lalu menatap lekat lekat wajah Irham suaminya kali ini.
***
Sementara di tempat lain, Anita mencoba menemui Arga, dimana ia meminta mas Arga untuk berpura pura gila dalam waktu beberapa hari lagi, saat ia menjenguknya. Hal ini di ketahui Arga, dari sebuah pesan yang tersirat kertas kecil, lalu setelah ia baca ia telan kertas itu dan berteriak histeris ketika Anita datang.
"Di sana pasien Arga, mohon untuk tidak mendekat lebih jauh ya bu!" ujar suster di dampingi penjaga lapas.
"Baik terimakasih." ramah Anita mencoba.
Tak lama sesaat Arga yang duduk miring dengan sebuah tangan yang ditempelkan ke bibirnya dan segera mungkin ia menyadari ada yang mendekat ia berteriak histeris.
"Mas Arga, aku Anita. Kamu enggak lupa aku kan mas, kenapa kamu ada disini?" menangis Anita yang mencoba berlaga perih.
Argh .. ( Teriakan Arga )
"Pergi kamu Hantu, kamu Hantu .. Pergi dariku, huhuhu .. Tolong .. Tolong banyak hantu di sini!"
Argh ..
Argh ..
"Mas .. Mas Arga .. Kamu enggak kenali aku?" teriak Anita, dimana ia sedih dan sesak.
"Sudah cukup untuk jam besuknya bu Anita! Mari ke ruangan saya, kita berbicara sebentar soal kondisi Arga!"
"Dokter .. Tolong sembuhkan mas Arga dok, kalau normal di penjara kan dia bisa lebih baik, tidak dengan seperti ini. Huhuhu .." nampak Anita ikut menangis tanpa tahu, sikapnya kali ini juga bagian dari rencana.
"Baik, ayo mari ikut saya ya bu!"
Anita pun mengekor, dimana dalam waktu tak sebentar, ia keluar dari rumah sakit jiwa tersebut. Hal ini benar benar membuat Anita melirik pasien lain benar bener menjijikan.
'Ah .. Gila, tempat terkutuk begitu kok bisa ada ya, tapi kalau banyak yang gila bisa ramai di jalan juga sih. Ah .. Aku gak sabar, semoga nanti malam mas Arga bisa keluar dari rumah sakit tersebut, yang jelas aku menunggu dia di tempat yang sudah pasti mudah untuk Arga keluar, apalagi pak Roki, dia penjaga pagar yang mudah di suap dan pandai jaga rahasia.' senyum Anita, yang tidak sabar ingin sekali menjumpai Asna dan membalaskan dendam.
Anita pun naik taksi, dimana ia menghentikan mobil tersebut, namun bukan tanpa alasan saat taksi tersebut jalan, ia segera bersandar tenang ketika membuka kacamatanya untuk rehat sampai tujuan.
"Jalan harupat mangga dua ya pak!"
"Baik bu Anita, silahkan duduk dengan tenang! Apa ada yang terlihat lebih baik selain tidak bersandiwara." ujar supir taksi, membuat mata Anita yang terpejam kembali terbuka.
Srith .. ( Rem dadakan ) Lalu kembali melaju mobil dengan kecepatan gila, membuat Anita benar benar ketakutan.
Anita pun berteriak, dimana ia nampak kaget dengan supir taksi tersebut yang ia tumpangi.
"Argh .. Siapa kau, buka buka .. Pintunya!" teriakan Anita menggema di dalam mobil, dimana mobil taksi tersebut berjalan dengan amat kencang dan hal itu membuat Anita ngeri memohon.
"Tolong .. Lepaskan berhenti disini!" teriak Anita dimana taksi tersebut berhenti di sebuah lokasi keramat.
Cegrek ..
"Silahkan keluar, dan ingat jangan macam macam, jika gerak gerik anda benar benar menyentuh keluarga Bahrain, Anda akan tamat! Satu lagi, mungkin yang harus anda ingat. Target anda sudah menjadi bagian orang penting, karena namanya sudah berganti jadi Asna Irham Bahrain. Jika ingin masih bernafas, hentikan tingkah licik anda sampai disini!" tegas supir taksi, membuat Anita meraih tasnya dan keluar begitu saja.
Argh .. Siaaaal ...
Taksi pun segera meninggalkan Anita, dimana Anita yang akan berjalan, ia kaget dengan sebuah makam yang menyeramkan saat ini.
"Hah .. Apa ini, kenapa aku ada di tengah tengah makam .. Ah .. Dasar taksi gilaaa .." racau Anita tanpa henti.
Anita segera berjalan pelan pelan, melepas heelsnya dan menangis ketakutan. Dimana makam banyak berupa rupa membuat ia ingin berteriak, apalagi saat ini amat jauh jika ia lihat, sebuah jalan setapak begitu saja membuat ia benar benar takut dan ketakutan ketika banyaknya makan dan sebuah jalan yang belum tentu ia bisa keluar dari lingkaran tersebut.
"A- aku kemana ya? Kenapa aku takut, ya ampun seseorang tolong aku! Aku enggak tahu mau jalan lewat mana." histeris Anita menangis saat itu sambil berjalan pelan, dimana makam makam gelap membuat ia benar benar merinding ketakutan.
"Baru juga makam bu Anita, bukan jasad anda yang anda lihat." suara dari arah belakang tersebut, membuat Anita diam mematung sebentar.
TBC.