Skandal Cinta Ke Dua

Skandal Cinta Ke Dua
Mengenalkan Siapa Asna


Pemandangan yang alami, membuat keindahan pesona tersendiri di penthouse berbintang, milik Irham Bahrain. Setelah bermalam di hotel termewah, dengan keunikan pelayanan. Membuat Asna benar benar bahagia, dimulai dari penyambutan yang meriah, pelayanan kamar dan makanan enak yang fantastis pertama kalinya. Dan kali ini di hari kedua, Irham mengajak Asna mengunjungi Penthouse salah satu di negara singapore.


Gedung lancip dan datar, Dua puluh dua lantai itu milik keluarga Bahrain, dan gedung sebelahnya 3 lantai ada aset investasi milik keluarga Bahrain, salah satunya adalah milik Irham.


"Gedung ini akan aku jadikan milik seseorang, aku sedang ubah atas kepemilikan milik menjadi nama kamu Asna."


"Irham .. Apa kamu sedang tidak bercanda, bagaimana dengan keluargamu nanti?"


"Aku akan mengenalkan semuanya pada seluruh petinggi di gedung ini, kamu adalah pewaris aset aku. Apalagi jika semesta kelak menitipkan seorang bayi di perut kamu, kamu berhak. Ada atau pun tidak, kamu berhak. Dan jika kamu hamil anak aku, itu sudah bukti kuat jika keluargaku tidak akan ikut campur. Lagi pula, aset di Singapore ini pyur milik tabunganku, yang aku modal kan jadilah satu gedung ini, dan satunya lagi saham ku 70 % tanpa mengelola akan terus berkembang. Aset ini milik aku dan kamu Asna."


"Kamu berlebihan Irham, ini sangat berlebihan."


"Akan aku kenalkan 60 bodyguard dan orang kepercayaan, jika terjadi sesuatu. Akan aku kenalkan dari berbagai profesi, kuasa hukum, intel, polisi berbintang, jendral dan ahli IT hacker handal, serta satu lagi si Gimbal dia adalah penyebar media terhandal. Kelak jika kamu membutuhkan sesuatu, pinta padanya. Ayo sayang, akan aku kenalkan." senyum Irham.


Asna tak percaya, entah apa kekurangan Irham saat ini sepertinya tidak ada cela baginya, apalagi mengenalkan semuanya begini membuat hati Asna tak nyaman, ia takut sesuatu terjadi sehingga Irham benar benar mempersiapkannya.


"Suamiku, apa maksud semua ini. Kenapa kamu kenalkan mereka sama aku, kamu mau tinggalin aku ya."


"Hah .. Ya enggaklah, yang ada aku hanya ingin mengenalkan nyonya Irham, karena mereka digaji dariku. Aset ini aku kelola dan kamu berhak melihatnya sayang, kelak jika aku lama Di Amerika, kamu di singapore orang orang kepercayaan ku akan datang memberi laporan. Setelah ini kita menginap di kediaman kita di Singapore. Aset rumah itu juga atas nama kamu, selain di PT NUSA BAHRAIN. Perusahaan yang kita akan ganti nama, aset kepemilikan itu hanya ada namaku dan nama kamu As."


Hah ..


Asna terdiam kaku, "Irham, aku hanya perempuan bekas yang kamu ratu kan secara berlebihan, aku sudah terbiasa selalu kamu membackup masalahku, kalau kamu pergi aku akan .." sedih Asna tak terbendung.


"Hey .. Enggak ada yang mau tinggalin kamu, kamu nih ada ada aja deh." lirih Irham, yang memegang pipi di wajah Asna.


"Ayo .. Pengantin harus bahagia, aku enggak mau ada air mata apapun disini." menunjuk pipi.


"Hm .. Aku terharu, ini berlebihan yang akan menimbulkan masalah kelak."


"Enggak ada, papa tahu. Dan semua keluargaku harus paham keputusanku, selagi aku ada, aku mau kamu bahagia dan punya power seperti Irham. Kamu wanita kuat As, aku enggak mau kamu kekurangan. Dan tetap tunggu aku, setia sama aku itu aja udah cukup!"


"Aku bukan princess, malah aku yang takut kamu enggak setia, apalagi nanti aku cepat tua." cibir Asna.


"Irham tidak akan pernah mengkhianati cintanya sama Asna, kecuali takdir yang membuat Irham tewas."


"Ssst .. Udah ah, jangan ngomong yang seram."


"Ya udah, mangkanya jangan mulai. Ayo kita ke lantai 6, kita ketemu semua divisi. Mereka sudah menunggu."


Hah .. ( Menunggu ?? ) batin Asna, sudah tak bisa berkata kata lagi.


Tak menunggu lama, setelah sampai di lantai yang di tuju, benar benar mata Asna tertuju pada banyak orang berjas hitam dengan kemeja putih menunduk, Asna merasa kaget mengapa Irham yang ia kenal seistimewa seperti ini, tentunya perjuangan Irham benar benar keren dan membuat Asna ingat sesuatu.


(Janji tunggu aku sukses, aku cari kamu Asna sampai kapanpun, aku mau nikah cuma sama kamu. )


( Hihihi .. Kalau aku udah suka sama orang dan nikah ama orang gimana? )


( Aku cari kamu, dan aku tunggu apa kamu bahagia, kalau enggak bahagia aku pastikan buat dia menyesal udah bikin kamu sakit. )


Ucapan Asna di pantai berusia 7 tahun, membuat Asna ingat kata kata itu, hal ini membuat Asna benar benar tak percaya. Sejak ia bertemu Irham dan usia Irham 8 tahun, ia sudah berjanji padanya adalah hal yang benar benar di tepati, sehingga Asna merasa sedih kala ingat semua itu.


"Sayang, kamu kenapa ..?"


"Aku jadi ingat janji kamu, aku pikir omongan anak anak hanya cuma ilusi, atau main main. Kamu memang pria langka. Spesial yang aku temui, andai waktu bisa di putar dan aku tetap menunggu kamu, pasti aku sangat bahagia." lirih Asna.


Irham, hanya senyum dan mengecup kening Asna di depan banyak orang, dan hal itu membuat Irham maju beberapa langkah mengenalkan seseorang pada mereka semua.


"Tuan Irham, ini berkas hak kepemilikan yang anda minta sudah selesai."


"Terimakasih Erik, oh Ya. Kelak jika ada sesuatu, tolong bantu semua masalah istriku, jangan biarkan dia terluka atau lecet sedikitpun, baik itu orang luar, atau orang dalam sekalipun. Jangan pandang siapa mereka yang menyakiti Nyonya Irham, dia adalah Asna Wijaya istri sah, satu satunya aku. Tolong kalian ingat wajah, dan hari ini kalian semua ingat baik baik, untuk selalu membantu istriku, sama seperti kalian membantu masalah ku dari orang orang yang ingin menjatuhkan."


"Siap .. 86, Nyonya Irham, kami akan selalu ingat anda, dan pengawalan ketat baik dari jauh, atau pun jarak dekat tanpa terlihat oleh anda."


Deg.


Asna, beribu kata ingin bicara tapi sulit dan kaku, dimana perkataan mereka semua bak ajudan, 'Siapa sebenarnya suamiku, kenapa dia berkuasa?' batin Asna, senyum.


Setelah beberapa saat mereka makan bersama, dan Irham cukup mengenalkan Asna. Mereka berpamitan, dimana kali ini Asna dan Irham sudah berada di mobil taksi.


"Kemana pak tujuan?"


"Wallich Residence." balas Irham, yang meminta supir taksi mengantarnya.


Irham pun memperlihatkan satu map, dimana ia menunjuk Asna pemilik penthouse di lantai tiga itu paling mewah, dimana salah satunya ia bisa tinggali saat ini, dan sah milik Asna Wijaya.


"Kamu harus bahagia Sayang, aku enggak mau ada yang membully kamu, kamu sudah jadi Nyonya Irham. Jadi melekatkan nama Irham di nama belakang kamu itu, untuk membalas siapa saja yang mempermalukan, tidak boleh ada satu pun yang menginjak injak kamu, karena itu sama saja menginjak namaku. Asna Irham Bahrain, nama kamu setelah ini."


Mata Asna menangis, entah rasanya bahagia dan kesedihan menyatu dengan terharu, dimana perlakuan Irham benar benar membuat dirinya sedikit tidak pantas.


"Kamu itu pantas bahagia, jangan pernah mau diremehkan hanya karena masa lalu kamu atau history keluarga kamu Asna, karena itu bukan kemauan kamu. Pasti ada sesuatu dibalik semua cerita orangtua yang kita tidak tahu penyebabnya, karena kita begitu terlalu kecil untuk memahami konflik orang dewasa." jelas Irham, membuat Asna memeluk Irham, dimana tangisannya pecah dan Irham, kembali memeluk erat Asna kala itu.


TBC.