
"Cari siapa ya pak?" ujar Febi.
"Mohon maaf bu, saya bawa surat perintah. Boleh saya masuk ke dalam?" ujar polisi.
"Masuk aja pak, saya sendiri. Kebetulan anak perempuan saya sedang bekerja, Anita dia saya anggap sebagai anak sendiri soalnya." jelas Febi, yang basa basi.
Padahal jika bukan di depan beberapa polisi, Febi malas menyanjung nama Anita. Dan kini lima polisi duduk salah satunya, sementara ke empat yang lain berdiri dan seolah ingin menggeledah.
"Ini ada apa ya pak polisi?"
"Putra ibu Arga Kusuma melarikan diri, apa sempat ke rumah ini. Apa ibu tahu .. Tolong berkata jujur ya bu! Semua agar tidak ada hal buruk juga terjadi pada ibu."
Deg ..
"A-apa .. Arga saya melarikan diri, bagaimana bisa pak? Lalu dia dimana, kenapa bapak baru kasih tahu saya sekarang!"
"Boleh saya periksa rumah ini?" tanya polisi.
"Silahkan saja!" diam Febi.
Padahal ia benar benar berdebar, apalagi Arga sudah keluar dari rumah lewat pintu belakang, berharap Arga tidak meninggalkan jejak di gelas, atau ia sempat makan dan minum.
Dan pikiran cerdiknya, segera mungkin Febi, memegang mie instan dan gelas mangkok, dimana sempat Arga menempelkan jarinya. Ia juga tidak mau di anggap menyembunyikan narapidana, apalagi itu putranya.
"Maaf, saya rapihkan dulu ini. Saya tadi niat mau buat mie .. Bapak bapak datang." lirihnya menyingkirkan apapun itu, yang seingat Febi Arga menempelkan jarinya, termasuk Handuk Febi masukan ke dalam kamar mandi, sengaja ia lempar ke ember berisi air.
"Astaga jatuh deh handuknya, haduh kenapa saya jadi enggak karuan gini ya. Arga kamu dimana, kenapa kamu cari masalah aja sih. Jelas jelas ini memperberat keadaan kamu kelak." racau Febi, dimana polisi mendekati Febi.
"Bu maaf kedatangan kami membuat ibu gelisah, tolong hubungi pihak kami. Jika dia datang menjenguk ibunya, kasih paham! Jika dalam 2x 24 jam, dia tidak kembali. Maka hukuman nya semakin berat, dan saya minta ibu bekerja sama berpihak pada tim kepolisian." ujar polisi memberikan kartu nama, dimana Febi terdiam, lalu kembali menangis dengan air mata buayanya.
"Huhu .. Ba- baik pak! Saya mengerti, tolong kalau ketemu anak saya. Jangan dipukuli, mungkin karena tidak ada yang tahan di penjara, apalagi saya sebagai ibu terbentur dana untuk menjenguknya. Apalagi mengirimi putra saya makanan sehat saya tidak punya kuasa dan uang. Jadi ini salah saya pak, maaf pak. Saya janji akan ada di pihak bapak, saya benar benar tidak tahu putra saya kabur dari lapas." lirih Febi, masih mode bersedih dan menangis.
"Iya pak, hati hati dijalan pak. Huhuhu .." tangis Febi, lalu setelah punggung polisi tak terlihat, menutup pintu dengan rapat.
Febi sebagai ibu ia delima, namun jika terus begini benar benar akan membuat hidupnya kacau, "Aku enggak mau masuk jeruji besi, semua karena Anita. Dia begitu pelit, kalau begitu aku lebih baik cari pekerjaan. Lalu tinggal dirumah orang kaya, mungkin dengan begitu aku bisa menghidupi diri sendiri tanpa Anita."
"Arga .. Maafin ibu nak, ibu harus berjuang untuk kedepannya. Kamu dan Anita benar benar enggak bisa di andalkan, ibu benar benar kesusahan jika terus begini bisa mati kelaparan."
Febi pun ke kamar, ia berganti baju. Dimana kali ini nampak sekali, ia membawa buntalan tas berisi pakaiannya. Dimana ada barang barang berharga seperti blender, chatokan dan hairdryer Febi masukan ke dalam tas, untuk ia jual di pasar Loak.
"Setidaknya ini bisa laku beberapa ratus ribu, untuk makan dan mencari kerjaan. Kalau enggak salah tetangga bilang, perumahan anggrek Pall nomor 31 sedang butuh Asisten rumah tangga. Sebaiknya aku coba kesana, kali aja beruntung." lirih Febi, ia berlalu pergi dengan cepat, sebab takut Anita keburu datang dan melihat dirinya membawa barang berharga miliknya untuk bisa dijual.
Febi di jalan, setelah ia menukar barang dengan imbalan 265 ribu rupiah, Febi segera meminta ojek mengantarnya ke alamat yang ingin ia tuju. Dimana pikirannya meracau, merasa bersalah dan takut terlibat menyembunyikan Arga ketika ia tahu, maka hanya kabur dengan bekerja di rumah orang adalah cara Febi bertahan hidup.
Apalagi saat ini Febi, merasakan ingat perlakuan Anita dan Asna dua menantunya itu yang amat berbeda.
'Andai waktu bisa di putar, bagaimanapun Asna terbaik. Ia lembut, tidak sayangan padaku. Tidak pelit, bisa menjaga dan semuanya serba bisa. Asna .. Kamu sekarang dimana, andai kamu mau maafin Arga dan kumpul lagi seperti dulu, ibu janji enggak akan permasalahkan kamu belum kasih keturunan, atau wajah kamu itu.' racau batin Febi.
Stop .. ( Ojek Berhenti )
"Pak, apa ini tempatnya?" tanya Febi, yang berhenti di garda perumahan besar.
"Perumahan Anggrek pall disini bu, tapi kalau masuk ibu aja. Saya bisa antar sampe sini, tuh security gerbang tanya aja." ujar Ojek, membuat Febi turun dari motor.
"Ya udah deh, nih ongkosnya. Makasih ya!"
Hingga Febi syok, ketika sebuah mobil keluar. Dimana samar samar dari kaca terbuka, ia melihat seseorang yang ia kenal, tapi malu untuk memanggil namanya.
TBC.