
Memikirkan rencana untuk Arga rugi, adalah langkah Asna saat ini. Sangat sakit ketika design nya di curi dan di buat proyek oleh Arga tanpa sepengetahuannya, benar saja Arga tidak akan bisa menggambar design proyek itu, sebab itu memang bukan hasil miliknya. Itu adalah hasil milik Asna, saat masih bekerja di PT Nusa Sakti. Bahkan menyakitkannya lagi, Arga menjelaskan itu milik temannya yang sudah mati, hal ini membuat pikiran menyesalnya Asna, betapa bodohnya ia salah mencintai orang yang ia idamkan namun penuh tipuan.
'Pria yang pernah menikahi Ku, benar benar pembohong ulung. Pecundang .. kenapa aku bisa mencintai dirinya sedalam itu. Arga, kamu aka menyesal setelah bekerja sama denganku, bukan lagi rasa iba. Melainkan hukuman yang kamu terima, kamu akan aku tempatkan dimana posisimu berada sebelum menikahi ku.' batin Asna yang sedikit Kesal, maka lembur bekerja seharian di kantor, adalah cara menghilangkan dirinya dari kesedihan.
Tok ..
Tok ..
"Bu, bagaimana dengan kelanjutannya?" tanya Laras.
"Buat saja aturan seperti biasa, acc saja! Sisanya biar saya yang tangani." jelas Hasna.
"Baik bu, segera saya lakukan."
Asna kali ini benar benar tidak percaya, dirinya yang sering percaya akan suaminya dahulu, benar benar menipu dirinya. Apalagi ia mendapat kiriman sebuah video dari flashdisk.
'Hai .. Arga, apa benar kamu menikahi Asna Wijaya, lalu kemana dia itu. Ku dengar dia punya kelainan penyakit Progeria ya?'
'Mana mungkin aku menikahi dia, aku terkena pelet sepertinya. Menikahi wajah buruk rupa, kisut mengkerut bagai usia nenek sihir dan kulit tua. Adalah hal kesalahan, untungnya setelah Anita hadir, dia menyadarkan ku. Dan bagusnya aku tidak sampai punya anak dari Asna. Jika tidak .. Anak ku akan menjadi monster karena ibunya adalah Asna Wijaya.'
Klik.
Asna menekan tombol PAUSE .. video pun berhenti, dan itu adalah rekaman video reuni saat ia hadir, setelah ia lari kabur dari reuni di restoran Shabu. Ternyata ada yang merekam aksi video Arga yang benar benar jijik menyesal telah menikahinya.
Tlith ( Maaf Asna, aku mengirim video ini. Ini aku dapat dari Rian yang hadir di reuni itu, sesaat aku mengejar kamu. Rian merekam aksi Arga. Jangan luluh jika bertemu Arga, ingatlah semua perlakuan keji mereka padamu. Maaf aku terlalu khawatir.) pesan Irham.
Asna membaca pesan dari Irham, ia pun membalas kembali pesan agar Irham tidak pernah khawatir, sebab rasa cinta nya pada Arga sudah ia kikis jadi rasa benci untuk membalasnya.
Hari pun berganti begitu cepat, sudah dua pekan lebih Asna sibuk akan pekerjaannya. Tak lama, Asna meraih tasnya. Ia menuju proyek Arga. Dimana perumahan Elite sudah dibangun kembali, dan semua itu ingin sekali Asna lihat, bagaimana perkembangannya. Sebab sudah berjalan hampir empat bulan, kesibukan Asna benar benar melupakan untuk melihat proyek PT Nusa Sakti, bahkan tak sabar akan design dan pengelola mereka untuk memberi keuntungan pada perusahaan Bahrain.
"Laras .. Apa hari ini ada jadwal penting?" tanya Asna.
"Untuk hari ini sampai besok tidak ada bu, tapi jika Mr Ken, kembali ingin bertemu dari perusahaan Global, saya akan hubungi bu Hasna segera."
"Pt Global, baik lah. Kalau begitu saya pergi dulu, biar saya menyetir sendiri. Supir untuk bekerja di office saja!"
"Baik bu Hasna."
Asna kali ini segera menuju parkiran, dimana kali ini ia ingin melihat kelanjutan dari proyek Arga. Namun saat ia berjalan, dan menyalakan radio dari mobilnya. Tiba saja berita itu membuat Asna mengingat kembali.
'Berita terkini, artis selebgram Jeng Rita tersandung kasus penipuan, dimana 150 korban nya hampir mengadu, dengan kerugian total 200 miliar, dimana salah satu paling besar, adalah salah satu korban terkena 7,5 miliar. Berupa uang cash yang baru di kembalikan sebagai keuntungan pertama 110 juta. Demikian berita ini selesai.'
Asna yang berjalan lurus menuju arah tol, ia kembali membelokan perjalanan menuju satu tempat. Dimana ia ingin melihat Febi, mantan ibu mertuanya apakah kali ini masih baik baik saja. Dan setelah lima belas menit kemudian, mobil pun terhenti sehingga nampak Asna meraih sebuah ponselnya, sebab ia melihat pemandangan yang pas sekali di saat Asna datang.
"Arga tolong ibu, kamu kan bisa tebus dulu villa puncak. 7,5 miliar. Pasti mudah bagi kamu, ayolah Arga. Ibu enggak mau rumah ini disita, atau kamu jual."
"Bu, maaf bu. Sertifikat rumah ini Arga harus gadaikan sebab kerugian kantor Arga sedang di audit oleh rekan Arga. Arga harus meminimalisir agar Arga tidak ketahuan, dan kalau sudah aman akan Arga kembalikan lagi untuk menebus sertifikat rumah ini." jelasnya.
"Lalu kalau enggak sampai ditebus gimana Arga, villa paviliun jatuh tempo seminggu lagi. Kalau ibu enggak bayar bunga 500 juta, bakal di lelang dan ibu kehilangan aset satu satunya setelah sertifikat ini di ambil kamu." tangisan Febi, kala itu di teras rumahnya.
Asna yang tak lupa mengabadikan percakapan anak dan ibu itu, tidak melewatkan kesempatan. Bisa saja kedepannya ini akan menguntungkan bagi Asna, seolah dewi keberuntungan yang tepat memihak Asna kali ini.
Eh Eum .. Deheuman Asna kali ini menyadarkan Arga.
"Pak Arga, kediaman anda disini? Maaf .. Jika saya berada di sini tidak tepat."
"Bu Hasna .. Anda kenapa disini?" tanya Arga yang menoleh.
"Entahlah suatu kebetulan mungkin, tapi benar benar saya sedang mencari alamat, jika seseorang akan menjual perumahan di daerah sini dan saya ke sasar sepertinya. Kebetulan daerah sini saya pernah tinggal. Jadi mampir dan tidak tahu jika pak Arga juga tinggal di sini ya."
"Siapa dia Arga. Ibu kok merasa enggak asing, siapa dia ..?"
"Dia klien penting Arga bu." jelasnya sembari menyembunyikan sertifikat rumah.
"Hem .. Baiklah, saya pergi dulu. Jangan lupa datang ke proyek anda pak Arga. Sebab saya menuju kesana, sekaligus saya ingatkan anda karena kebetulan disini. Jangan lupa keutungan perusahaan Bahrain, sudah lewat tempo kan?" bisik Asna yang mendekat sangat.
Tatapan Febi dan Arga mematung, apalagi saat Asna berbelok menuju mobilnya. Terlihat Anita baru saja tiba, dan kesal pada Arga yang seolah nampak intim sekali dengan klien itu.
"Ingat itu pak Arga. Saya tunggu ya." senyum Asna, seolah membuat hasutan di depan Anita yang lewat kali ini dan berlalu.
Hingga mobil Asna pergi tak terlihat. Anita segera menyadarkan suaminya itu. "Mas, kenapa klien itu manis sekali, kamu ada main ya?" teriak Anita kesal.
"Apa apaan sih kamu, baru datang udah nuduh aja."
"Itu tadi, dia bilang dengan manja saya tunggu ya!" cercah Anita.
"Kamu itu terlalu banyak nonton sinetron .. Aku pergi dulu, kamu jaga ibu untuk tenangkan ibu sana!" teriak Arga dan pergi meninggalkan Anita dan ibunya.
Arga .. Jangan gadai sertifikat ibu Arga! Anita tolong kejar Arga, ibu sudah kehilangan villa puncak, ibu benar benar enggak mau jadi gembel. Cepat kamu kejar Arga, jika gagal hasut Arga untuk kembalikan sertifikat rumah ini. Kamu mending pergi juga dari sini, menantu tidak berguna kamu Anita. Kamu pergilah!!
"Eh .. Ibu kok bilang gitu sama Anita, justru Anita kemari siang siang, karena desus mas Arga korupsi. Kantor sedang enggak baik baik saja bu, ibu jangan bikin Anita tambah mumet deh." kesalnya, hal itu membuat Anita kembali meraih kunci mobil dan pergi, tanpa pamit pada ibu mertuanya.
Dasar menantu durjana, dan putraku benar benar gila sudah mengambil sertifikat rumah ini dengan paksa dari ibu yang melahirkannya!! Tangis Febi pecah di depan rumah bak orang depresi.
TBC.