Skandal Cinta Ke Dua

Skandal Cinta Ke Dua
Dua Masalah Arga


"Entahlah, saya merasa aneh jika membeli rumah yang bermasalah proses ke bank pasti ribet. Permisi .. Sepertinya saya banyak sekali urusan, saya tak sengaja dan salah alamat lagi. Harusnya gang sebelah, entah kenapa nyasar lagi ke mari." jelas Hasna.


Hal ini membuat Febi kesal, pasalnya wanita ini selalu saja tepat di depannya saat dirinya berseteru, bahkan kali ini wajah Febi yang meratapi kesuraman karena di usir, ia segera menelpon Arga untuk menjemputnya. Apalagi rasa kesal bertemu wanita sombong yang salah alamat terus, membuat Febi curiga tapi kesal bercampur emosi.


( Cih! Ayo dong Arga, kamu sebagai anak gimana sih. Kok enggak jawab telepon ibu. Ibu harus pergi kemana ini? .. Huhuhu .. " tangis Febi ia membawa tas selempang dan satu buah koper, yang mana isinya sudah pasti baju baju miliknya.


Sejak Arga mencuri sertifikat rumah, entah kenapa rumah ini jadi di sita. Bahkan kali ini mungkin putranya bermasalah, terkait bank akan memperkarakan jika sertifikat tidak ada, sebab setelah rumah di sita mungkin akan melelangnya sesuai kreditur meminjam dengan tambahan bunga 7%.


Febi terpaksa menghentikan taksi, dimana kali ini ia harus berhemat, namun hanya trayek taksi lah yang membuat dirinya hafal jalan.


"Arga .. Durhaka kamu tidak angkat telepon ibu, padahal ibu mu sedang kesulitan." cerocos Febi, yang masih saja melaju mencari putranya di kantor.


Berharap setelah sampai kantor, Arga dapat mencari kontrakan untuk ia tinggal, atau saja Arga sudah lebih dulu tahu dan mencari kontrakan untuk tinggal bersama.


Sementara di tempat lain.


Arga yang di hubungi owner, ia segera datang tepat waktu, bahkan ponselnya saja ia non aktifkan suara menjadi sunyi. Saat itu pun Arga ketar ketir, dimana sang owner datang membuat mata mereka juga mungkin, takut tidak ada di rumah.


"Pak Arga, bisa ke ruangan saya sekarang!"


Mata owner yang begitu mempercayai Arga, berubah menjadi tajam dan geram, terlihat dari gerak berjalan dan tatapan saja tanpa senyum, atau ramah seperti biasa. Hal itu membuat hatinya tak karuan.


Krek ..


"Duduklah, saya ingin bicara empat mata untuk saat ini!" ucap Owner.


"Ya pak, Zack. Saya tidak tahu, kenapa bapak bersikap dingin seperti saat ini, ada apa ya pak?" tanya Arga.


Prak .. ( berkas laporan audit keuangan tahun lalu, dan proyek klien dari perusahaan Bahrain tidak sesuai ekspektasi. Bisa kau jelaskan Arga! Ini menyangkut perusahaan ku akan di akuisisi. Tidak benar dalam soal hitungan, juga ada info tentang kamu dan Anita yang bersikap tidak tahu aturan! ) penjelasan Owner.


Saat ini Mata Arga benar benar tak bisa berkutik lagi, terlebih satu map berkas. Ia buka dengan tangan gemetar, ia cek dalam beberapa puluh menit tiap lembaran, dan mata Arga syok akan bukti laporan hitungan audit yang asli bisa ada di tangan Owner.


'Bagaimana bisa, bukankah Anita sudah merubahnya?' batin Arga.


"Pak, ini pasti salah sangka pak! Ini pasti ada kesalahan, pak Zack kan tahu. Saya sudah bekerja hampir sebelas tahun di percaya. Mana mungkin saya mencuci uang." jelas Arga menatap bulat.


"Hahaha .. Siapa yang bilang kamu mencuci uang perusahaan ini, Arga. Saya suruh kamu jelaskan rincian di map yang Rain audit ia kembali cek. Dan menemukan bukti map ini dari tangan Anita. Bahkan Anita juga mengakuinya." jelas Zack, membuat mata Arga merah padam.


"Saya hanya bisa beri waktu kamu sampai besok, jika tidak selain perusaan di akuisisi. Kamu juga akan kehilangan pekerjaan dan posisi Mu ini Arga. Dan satu lagi kamu harus ingat, kasus ini berlanjut di meja hijau." jelas Zack, ia berdiri pergi tanpa pamit.


Pak .. Pak .. ( Arga lemas ) sebab memanggil tapi di acuhkan.


Sesak saat ini, ketika Arga sudah tak bisa mengelak. Bagaimana untuk besok ia kembali menjelaskan, apalagi jika perusahaan Nusa Sakti akan di ambil ahli oleh perusahaan Bahrain.


'Aku harus mencoba hubungi bu Hasna, yang pertama untuk tetap memakai jasaku. Yang kedua aku harus hubungi Anita dan beri pelajaran, bisa bisa nya map ini tidak ia bakar.' gumam batin Arga.


Namun saat Arga beranjak, tiba saja matanya dikejutkan dengan sebuah pesan dari sang ibu.


"Apa .. Tidak .. Mungkin .." lirih Arga yang syok melihat isi pesan, sebab masalah kantor runyam pun bertambah akan isi pesan sang ibu.


Arga hanya ingat sertifikat ia berikan pada Anita untuk mengurus segala uang pinjaman, untuk ia menutupi uang hasil pencuci uang setidaknya tidak lebih banyak untuk bisa menyelamatkannya dari posisi jabatan nya kini, serta untuk kebutuhan yang tak sedikit menyewa rumah. Namun melihat isi pesan sang ibu di usir, dan saat tadi Owner bicara semua map audit dari tangan Anita yang mengakui.


'Ah tidak mungkin Anita ..?' batin lemas.


Arga segera menelpon Anita, namun berkali kali sulit untuk tersambung. Arga langsung melangkah pergi, dimana ia harus mencari Anita terlebih dahulu.


Sementara di tempat lain. Anita yang melihat ponselnya, dimana itu adalah suaminya. Anita berusaha menghindar, jelas jelas ia merasa ketakutan jika mas Arga sudah tahu jika dirinya yang memberikan map hasil audit asli yang lupa ia bakar.


'Semoga mas Arga belum menyusul kemari.' cercah Anita yang sedang merapihkan baju bajunya ke dalam koper.


Bahkan melihat saldo yang sudah terisi, mungkin Anita ingin pergi selama beberapa bulan, dan meminta pisah saja dari Arga, sebab dirinya juga kan hanya menikah siri, tidak banyak diketahui banyak orang.


"Kau sudah akan kabur, sebelum memberikan saksi?" ujar seorang pria, kala Anita menarik koper ke luar halaman.


Dimana itu adalah Rain, yang berkunjung ke kontrakan Anita yang membuat Anita kaget, mengapa Rain tahu tempat tinggalnya.


"Pak Rain, kenapa anda kemari?"


"Jika kamu tidak mau aku berikan video kamu di kantor bersama Arga sedang Uwu .. Dan ku sebarkan lebih banyak agar reputasi mu tidak pernah di terima oleh perusahaan manapun, apa kau tetap akan pergi?" tanya Rain.


"Apa yang pak Rain ingin kan dariku lagi, map audit asli sudah aku berikan bukan." cercah Anita kala itu ketakutan.


TBC.