
Tlith .. ( Suara notif ponsel, pada ponsel Anita )
Anita kaget melihat video dirinya bersama Arga di kantor Office beberapa minggu lalu, hal ini membuat Anita menstop video itu dan berkata tegas pada Rain.
"Bukan tanpa alasan jika pak Rain ingin aku lakukan, sebarkan saja! Lagi pula saya dan Arga .."
"Kau dan Arga suami istri yang hanya nikah siri bukan? Lalu, jika aku sebarkan .. Kau berdua tidak punya moral melakukan itu di saat jam kerja, dan itu kantor. Jika pak Zack tahu ..?"
"Pak Rain, akan saya lakukan apapun itu. Tolong jangan sebarkan semuanya, saya memang bersalah karena membiarkan Arga melakukan itu semua. Sebab saya juga terpaksa dan tidak tahu jika .." terhenti Anita.
"Arga melakukan pencucian uang karena menikahi, resepsi diam diam tak banyak yang tahu, otomatis aku tinggal bilang kau sama saja bersekongkol dengan Arga. Jadi tunggu saja kau juga akan di kuliti dan di dakwa." jelas Rain, lalu membalikan badan seolah akan pergi.
Anita mengejar langkah pak Rain, dimana ia memohon untuk tidak melibatkannya soal Arga.
"Pak Rain saya mohon! Saya benar tidak tahu jika Arga mencuci uang perusahaan, yang saya tahu dia loyal. Saya akan lakukan apapun membantu pak Rain, lagi pula saya akan pergi dari hidup Arga, saya akan meninggalkannya. Lagi pula hanya nikah siri, lewat telepon bercerai juga sudah sah cerai." jelas Anita, membuat senyum Rain yang miring penuh arti.
"Hadirlah besok sebagai saksi, sebab akan ada akuisisi perusahaan Nusa Sakti, yang membuat semua ini kacau karena Arga yang korupsi, bahkan salah menerka perhitungan projek perusahaan Bahrain, pastikan jadi saksi atas semua kelakuan Arga semuanya!" lirih Rain.
"Tapi saya tidak akan masuk penjara kan pak?"
"Lihat besok, semua ada padamu untuk hadir! Jika tidak hadir maka kamu di jadikan orang yang jadi daftar DPO.' Lirih Rain, membuat Anita serba salah dan kacau.
Hal ini membuat Anita terdiam serba salah, jika ia besok jadi saksi sudah pasti akan bertemu Arga dan meminta uangnya, jika ia kabur sekarang maka reputasi dan video yang di perlihatkan Rain ke ponselnya sudah pasti akan menjadi kartu matinya kelak seumur hidup akan susah.
'Arg .. Kenapa jadi buah simalakama begini sih? Aku harus cari hotel agar mas Arga tidak kemari. Aku takut jika mas Arga datang dan memarahiku, yang jelas salah sendiri dia mempercayakan semuanya untuk aku bereskan, aku juga kan manusia biasa.' batin Anita bergumam.
Hingga saat ini ia pergi segera berlalu melaju naik taksi, dimana salah satu taksi lain melewati mobil yang di tumpangi Anita, dimana itu adalah Arga dan Febi yang baru saja tiba selang lima belas menit kemudian.
Arga pun memberi uang selembar biaya trayek taksi, sang supir menurunkan beberapa koper sang ibu di depan rumah kecil.
"Arga, kamu yakin ini tempatnya? Kecil sekali sih Arga." ucap Febi.
"Tapi tetap saja Arga, kamu kan bisa sewa hotel. Mana sertifikat ibu yang kamu cairkan, apa sudah ada?" tanya Febi, membuat tatapan Arga berkeringat dingin.
"Anita pasti akan datang bu! Hanya saja Arga hubungi dia enggak angkat, mungkin sibuk."
"Tunggu .. Kamu dan Anita kan nikah siri, belum resmi kan? Lalu kamu percayakan semua sama Anita, kalau dia kabur dan minta cerai gimana Arga. Kamu kenapa jadi bodoh soal keuangan sama wanita itu sih, gimana nasib kita kedepannya." jelas Febi membuat Arga sedikit berdegup ada rasa ketakutan.
"Bu .. Ayo kita masuk, ibu jangan berlebihan lah. Arga yakin, Anita bukan seperti itu."
Arga membawa sang ibu masuk ke kontrakan kecil, dimana ia juga punya kunci serepan. Selepas masuk rumah, Arga meminta sang ibu istirahat dan Arga akan membeli makanan.
"Ibu tunggu disini ya, Arga ke depan sebentar beli makanan."
"Ya udah, sekalian sembako ya Arga. Jangan sampai ibu kelaparan di tempat kecil ini."
"Iya bu, ibu jangan khawatir. Arga akan segera kembali, ibu di dalam saja. Kalau Anita pulang, ibu kabarin Arga. Suruh Anita tunggu Arga."
"Ya udah deh, iya. Cepat sana jangan lama."
Arga pun pamit, dimana kali ini ia sekali lagi menghubungi Anita namun tak ada jawaban. 'Nomor yang anda tuju, berada di luar jangkauan.'
Arga sedikit frustasi, entah mengapa kali ini membuat hidup Arga kepikiran soal perkataan sang ibu, dan Arga yakin Anita tidak mungkin melakukan itu semua.
Namun saat Arga ingin membeli nasi lauk di rumah makan padang, mata Arga terperangah pada wanita yang masuk ke dalam mobil, yang mirip dengan klien bernama Hasna. Tapi matanya sedikit terhipnotis pada sosok pria jangkung berjas rompi biru silver, yang mirip dengan teman nya dulu yang ia benci bernama Irham.
'Bukannya itu Irham ya? Kenapa bisa sama bu Hasna klien besar ku.' lirih Arga sedikit memperhatikan maju melangkah lebih dekat memperhatikan sebuah mobil putih.
TBC.