Skandal Cinta Ke Dua

Skandal Cinta Ke Dua
Bisikan Hasna


Febi saat ini merengek pada putranya, untuk pindah tempat. Dimana tempat tinggal saat ini terlihat sangat kecil, hingga kini Arga yang akan berangkat ke kantor harus berdebat dulu.


"Arga, tolonglah! Cepat cari tempat selain di kontrakan kumuh, kecil ini. Apalagi di depan pintu ada tong sampah. Ibu malu, kamu kan CEO."


"Bu, sabarlah! Kondisi kantor Arga sedang tidak baik, ibu tolong mengerti kondisi Arga saat ini, Arga harus cepat untuk menyusul Anita. Arga dapat informasi, Anita ada dimana. Nanti setelah Arga dapat uang Arga, akan Arga berikan pada ibu."


"Ya udah, benar ya. Ibu tunggu loh, jangan lama lama." rengek Febi, dimana Arga saat ini segera pergi.


Dan dalam puluhan menit, sampailah Arga di kost an tingkat tiga, dimana ia menunggu di pintu pagar dalam hitungan menit, sudah terlihat sekali Anita yang turun ke bawah tak sadar, dimana kali ini saat Anita pergi ke luar gerbang, tangannya di raih oleh Arga.


"Dari mana saja kamu Nit?"


"Ah .. Mas, kamu disini?"


"Untung aku lacak kamu, aku enggak mau tahu. Kamu harus ada di dekat aku, apapun itu. Dan uang yang kamu bawa milik ku, kamu cepat kasih ke aku. Begini cara kamu yang ingin kabur?"


"Mas, Mas Arga kamu salah paham. Aku enggak bermaksud kabur dari kamu, ta-tapi uangnya aku pakai untuk obat ibu di kampung. Masih ada sisanya kok mas, aku bukan kabur."


Arga pun merampas ponsel serta seluruh dompet beserta atm Anita, dimana Anita tidak bisa berkutik. "Ayo ikut aku, jangan coba main main denganku ya Nit. Aku sudah banyak berkorban untuk kamu, kamu jangan coba coba kabur dari aku. Sekarang ikut aku!"


"Kemana mas?"


"Ke kantor, akuisisi kantor. Kita harus punya muka, seenggaknya owner baru kita itu tetap harus memakai kita, kita harus bicara kalau kita itu di fitnah. Aku enggak mau hilang dari posisiku. Kamu harus bersaksi dukung aku!"


Mas .. Tapi .. ?!


"Ayolah Nit!"


Anita pun tidak berkutik, sebab pasword atm dan ponselnya masih sama. Apalagi saat ini di pegang Arga, harusnya ia segera tarik tunai uang sebanyak mungkin jika tahu Arga menemukan dirinya. Alhasil hanya pasrah, saat ini bagi Anita untuk mengikuti kemauan Arga.


'Gimana ini, mas Arga harusnya cari tempat lain, atau kerjaan baru. Aku mana punya muka jika harus ketemu pak Zack dan yang lain.' batin Anita.


***


Hingga sampailah beberapa puluh menit kemudian, Arga dan Anita sampai di kantor PT NUSA SAKTI. Tidak ada tampak rasa malu bagi Arga, ia Tetap pada pendiriannya yang tidak bersalah atas dana yang ia korupsi, tanpa sadar setelah sampai kantor mungkin ia akan tercengang.


"Jadi kau sudah datang, apakah ini tanda seorang CEO?" ujar Rain, yang kala itu menghampiri Arga.


"Kita lihat saja, apa kau masih bisa mengoceh setelah ini!"


Rain memberikan berkas, yang di perlihatkan Arga saat itu, dimana ia sedikit tercengang dan menoleh ke arah Anita yang nampak malu dan menunduk.


"Tunggu apa ini, kenapa semua berkumpul?" tanya Arga.


"Kau lihat saja, dan lihat beberapa orang yang memihak dan menerima suap olehmu, ikutan di pecat. Apa kau suka, melihat semua ini?" tanya Rain.


"Aku di fitnah, kau yang sebenarnya korupsi. Rain, begini kah caramu membuat posisi orang lain jatuh." sentak Arga, yang kala itu menunjuk bahu Rain.


Sementara Asna melihat dua pria sedang beradu, ada rasa tak percaya dengan ucapan ucapan kotor Arga yang tetap pada pendiriannya.


"Apa kamu adalah Arga, dan kemana Anita. Aku dengar kalian selalu bergandengan terus?" sambar Hasna yang melangkah ke depan Arga.


"Bu Hasna, apakah owner baru kita. Begini bu, berkas ini pasti buatan si Rain licik ini, saya di fitnah. Bisakah ibu kaji ulang, dan mengeluarkan Rain dan tetap mempertahankan saya serta Anita di kantor ini. Saya yakin ini ada banyak tangan kotor yang ingin menjatuhkan saya." jelas Arga.


Hah ..


Rain, melirik sinis dan tak percaya pada omongan Arga saat ini. Andai dia tahu, berkas yang ia lempar itu adalah nama nama yang bermasalah, setelah di audit oleh bu Hasna, sejak sangat lama.


"Oh .. Benarkah anda sejujur itu? Apa anda yakin, dengan semua ucapan anda pak Arga. Jika anda bersih, bukankah anda juga telah mengotori ruangan CEO di saat jam kerja, saya melihat bukti dari rekaman cctv yang saat itu anda tutupi dengan sebuah dasi, meski begitu tampilan anda .. Suara anda .." terdiam Asna melirik Arga, bagai jijik.


"Ah, itu pasti rekaya bu Hasna. Terlalu banyak yang ikut campur, yang ingin melihat saya jatuh bu." kembali Arga mengoceh, dimana Anita semakin terpojok dan malu.


"Tetap saja bukti bukti telah kuat, dan biar saya tegaskan pada anda saat ini. Saya Hasna Bahrain pemilik PT NUSA SAKTI, memecat anda tidak hormat bersama dengan wanita di belakang Anda. Silahkan ikuti proses prosedur yang harus anda lakukan agar nama anda benar benar bersih. Syukurlah pak Rain, tidak perlu mencari dua biang masalah di kantor ini, itu sebabnya mereka sendiri yang mengantarkan langsung. Security tolong jaga dua mahluk ini!" teriak Hasna menggema.


"Tunggu apa maksud anda bu Hasna?" tegas Arga, membuat mata Hasna mendekat sejajar ke arah Arga.


'Kamu kalah mas Arga!' bisik Hasna, dengan suara itu mengingatkan seseorang.


Dan tak lama, beberapa orang datang membuat tatapan Anita berteriak, dan Arga ikut menoleh.


TBC.