
Suara itu sangat mirip dengan seseorang, Arga nampak diam mematung yang membuat dirinya terlihat pucat tanpa ekspresi. Hal itu juga ia melihat berkas, dimana beberapa banyak karyawan, sebanyak 35 orang di pecat hari ini juga, termasuk dirinya dan Anita.
Rain, pun memanggil beberapa nama untuk segera angkat kaki, dan mengemas barang barang hari itu juga, untuk segera pergi dari kantor tanpa ampun, dan itungan kerja mereka tetap dibayar hingga hari ini. Hal itulah yang membuat Arga nampak kaku mematung, mulutnya kelu dan lemas. Terlihat juga Anita tidak percaya, meraih berkas putih nama nama pemecatan karyawan saat ini.
'Kenapa bisa begini mas Arga, kita jadi pengangguran dong?' lirihnya masih saja Arga tetap diam.
"Kalian ingat satu hal! Arga Kusuma tidak lagi jadi CEO Di PT Nusa Sakti. Anita tidak lagi sekretarisnya, dan CEO saat ini adalah Rain Irawan, saya akan segera meresmikan pengangkatan jabatan, setelah ini tolong bantu buka lowongan besar besaran, sesuai posisi yang saat ini saya keluarkan." ujar Hasna, pada beberapa karyawan sekitar 40 orang yang masih bertahan.
"Baik bu Hasna." serentak mereka bicara.
"Ingat, kejujuran adalah hal utama. Bagaimanapun kalian menyembunyikan bangkai, dan mencoba memanipulasi dana kantor, dan bersekongkol akan terdetek cepat. Jadi kembalilah bekerja, dan ikuti peraturan kantor NUSA SAKTI yang baru saat ini. Dan kenalkan Linda, dia adalah manager di NUSA SAKTI, yang mungkin akan melibatkan pak Rain dan membantu visi misi Nusa Sakti yang baru." lirih Hasna, membuat semua orang mengangguk.
Langkah kaki Hasna pun kembali pamit, Rain merasa tercengang akan kejujurannya kali ini membuahkan hasil, apalagi pak Zack menepuk bahunya seolah memberi selamat pada Rain, untuk tugas barunya yang berbeda.
"Bu Hasna, apa anda tidak ingin mengecek lagi, nama saya dan Anita pasti ada kesalahan." ucap Arga, membuat Hasna menghentikan langkahnya.
"Apa anda tidak sadar juga pak Arga Kusuma, apa anda ingat dengan nama saya saat ini mirip. Sebab nama mirip itu, adalah saya yang mungkin anda kenal saat itu terlihat aneh, dan pembawa sial. Tapi lihat lah, semua berkas yang saya lihat kan, anda benar benar bersalah. Apa anda ingin saya beri kejutan lagi?" bisik Hasna, membuat Anita saat itu tegang.
Tap ..
Tap ..
Langkah, beberapa orang saat ini membuat mata Arga dan yang lain menoleh ke belakang, dimana saat ini terlihat sekali Arga nampak tercengang dengan orang yang datang kali ini.
"Apa ini, anda pasti bercanda kan. Saya tidak bersalah!" teriak Arga, yang seolah kabur namun di hentikan.
"Maaf Apa ada nama Arga Kusuma, saya memberi surat perintah atas dugaan korupsi dana Nusa Sakti, yang dilaporkan oleh owner kantor ini."
"Dia Arga, silahkan bawa saja pak! Kebetulan tidak perlu repot mencari orangnya, dia sudah mau menyerahkan diri, itu sebabnya dia baru kembali ke kantor ini!"
"Tidak mungkin, pak polisi. Laporan ini tidak sah, dan tidak benar. Wanita itu sedang berbohong!" teriak Arga, yang mencoba melepas dari borgol seorang polisi.
"Satu lagi pak, bawa wanita bernama Anita. Mungkin dia juga terlibat, sebab mereka sama sama seperti perangko." senyum Hasna, yang menatap Anita kala itu.
"Bu, tapi saya tidak melakukan apapun. Saya tidak bersalah pak polisi, saat itu pa Arga yang meminta saya menukar berkas audit." cetusnya membuat Arga nampak gusar.
"Sudah mengaku, bawa saja pak!" pinta Hasna.
"Baiklah, ayo lekas jelaskan di kantor polisi saja! Mohon untuk bisa bekerja sama, agar proses tidak berbelit!" polisi pun membawa Anita dan Arga kala itu dengan beberapa bukti.
Hasna pun sebenarnya tidak ingin melihat pemandangan ini, namun meski Arga kelak mendekam di penjara. Mungkin hatinya tetap saja kasihan, akan tetapi hanya ini membalas dendam pada mereka yang berbuat salah, dan semena mena padanya dahulu.
'Maafkan aku mas Arga, semoga setelah kamu di penjara. Kamu sadar atas apa yang kamu lakukan, bahwa uang telah Membutakan semuanya, bukan karena aku merasa lebih baik membalas sikapmu padaku dulu, akan tetapi memberi hukuman atas tindakan dirimu pada Asna Wijaya. Kelak kamu keluar dari penjara, mungkin kamu akan tahu aku adalah Asna Wijaya. Sebab Hasna Bahrain yang kamu kenal saat ini, adalah mantan istrimu yang kamu sia siakan. Aku masih terlalu sakit dan terasa jika mengingat itu disini.' batin Asna bergumam, memegang hatinya.
Rain nampak diam dibelakang Hasna, sebab dari kata kata bu Hasna yakni owner barunya, ia merasa terkejut dan yakin jika di depannya ini adalah, dia partner terbaiknya dahulu yang menjadi owner Pt Nusa Sakti yang baru.
"Bu Hasna, sebaiknya kita kembali!" lirih Linda, menyadarkan lamunan Hasna.
Hasna pun menoleh, ia berjabat tangan pada tuan Zack dan pamit, serta mempercayakan pada Rain saat ini.
"Baiklah pak Zack, saya pamit."
"Sama sama bu Hasna, kelak jika ada waktu luang mampir lah ke tempat saya, kita ngeteh bersama Nyonya Zack."
"Terimakasih atas tawarannya, dan itu pasti. Kalau begitu saya pamit!" senyum Hasna.
"Oh .. Iya pak Rain, kelak kedepannya anda akan sibuk. Sebab beberapa karyawan terlibat banyak kursi kerja yang kosong, tapi Linda akan membantu anda segera mungkin. Selamat atas jabatan anda yang baru, kelak kita akan sama sama sibuk!"
"Terimakasih banyak, sudah mempercayakan pada saya Bu Hasna." lirih Rain, yang penuh syukur, setelah melihat Owner baru pergi tak terlihat.
Beberapa saat pun tiba, di dalam perjalanan Asna yang berada di dalam mobil, entah mengapa ia kepikiran dengan Irham. Hal ini membuat kecemasan tanpa sebab dan alasan, berkali kali melihat ponselnya tak satupun pesan, dan panggilan dari Irham.
'Apa dia belum sampai, sudah empat hari. Harusnya dia sudah bisa hubungi aku, setidaknya penjelasan nama Bahrain saat ini yang menjadi masalahnya bukan?' batin Asna, kali ini ia menoleh ke arah jendela.
Dan matanya tertuju pada sebuah tempat yang membuat Linda sebelahnya terdiam kaget.
"Turunkan saya disini!" titah Asna.
"Ya, bu Hasna ingin turun disini?" tanya baliknya.
"Linda kamu ke kantor duluan, saya ingin ke suatu tempat sebentar."
"Tapi bu .."
"Jangan adukan pada bos Irham, katakan padanya seperti biasa saja. Saya akan baik baik saja disini."
"Baik bu Hasna, jika butuh sesuatu kabarkan saya. Sebab tugas saya adalah tetap di samping anda bu Hasna, jika pak Irham tahu saya .."
"Saya tidak akan terjadi apa apa, kamu pulanglah lebih awal. Hari ini sudah begitu lelah, besok kamu akan lelah karena mengurus rekrut karyawan baru bukan? Pak supir juga pulanglah, bertugas lagi besok pagi seperti biasa."
"Baik bu Hasna, tapi jika bu Hasna berubah pikiran, tolong hubungi saya juga!" tambah supir, yang membuat Asna sedikit senyum.
"Baiklah."
Dan kali ini Asna duduk di suatu tempat, dimana pengikut setia Irham sudah tak terlihat, sebab yang ingin Asna rasakan adalah, menangis sekencang mungkin. Hingga tak satupun orang lain melihatnya.
Arg ..
Huhu ... ( tangisan Asna bergema )
Teriakan Asna, ia berteriak kencang, menangis sejadi jadinya. Hingga tak sadar langkah beberapa orang dari arah lain, seolah mendekat ke arah Asna.
TBC.