
"As .. Kamu mau apa?"
"Apa benar kamu masih mencintaiku sedalam itu, aku ingat kelakuan ku semalam. Jika bukan kamu, mungkin aku telah dirusak jika itu orang lain. Kenapa kamu sebaik ini, semakin sulit aku tidak mau jauh dari kamu Ir." jelas Asna, membuat Irham senyum.
"Kamu bicara apa, kenapa kamu bilang kamu enggak sanggup jauh dari aku, apa kamu mau pergi dariku?"
"Irham .. Sejak kecil tante Melisa meminta hatiku untuk tidak jatuh cinta padamu, karena mama kamu anggap aku putri dari sahabatnya sama seperti putrinya juga. Aku selalu menjaga dari janji itu, sehingga aku berpaling pada Arga. Tapi perasaan itu kembali, tapi aku harus memagar'kan nya untuk tidak hanyut lebih dalam."
"Itu bisa saja kata kata lama, apa ada mamaku melarang kamu untuk tidak membalas dan kembali membuka hati itu, hidup ini kebahagiaan ini kita yang tentukan As. Ikuti hati kamu, aku tidak pernah sedikit pun membuang perasaan ini meski kamu telah menikah, dan kini sendiri. Aku tetap akan menunggu kamu, jika kebahagiaan kamu bukan padaku, setidaknya aku harus lihat." jelas Irham, membuat Asna sedikit bersikap lancang.
Asna mengulurkan kedua tangannya di leher Irham, dimana ia senyum dan berbisik pada Irham saat ini.
"Kalau gitu aku mau beri jawabannya, apa kamu ingin saat ini?" bisik Asna.
"Asna, kamu lagi sadar kan? ini kamu kan?" Irham berdegub.
"Memangnya kamu pikir aku sedang mabuk, jadi kamu pikir saja jika aku beri jawaban ini." bisik Asna.
Sreth!
Asna memiringkan wajahnya, dimana ia mengecup ranum Irham lebih dulu, "Cup .."
Kilat sentuhan itu membuat Irham naik, ia senyum dan meraih pinggang Asna tanpa aba aba atau izin, bahkan kali ini Asna menempel pada pelukan Irham, Dimana Irham membalas sentuhan itu, dan meraup bibir indah merah jambu, bahkan jemari Irham yang berada di pinggang Asna, membuat piyama naik turun. Asna dan Irham saling membuka mata dan memejamkan bak mata sayu yang sedang bergelora saat itu juga.
Cup ..
Tanpa jeda, beberapa detik saja membuat mereka berhenti dan kembali melanjutkan, tanpa sadar Irham melupakan pintu yang tidak di kunci saat itu.
Asna mengedipkan mata dan senyum, mungkin dengan cara ini hidupnya akan terus terarah dan selalu bahagia, diratukan oleh Irham. Sebab setelah kejadian semalam, dan saat siang tadi ia sadar ia benar benar memikirkan dirinya kedepannya, mungkin membuka hati adalah jalan terbaik, dan menjadi nyonya Irham dirinya akan semakin punya kuasa, hingga melupakan kedepannya akan Asna hadapi jika di tentang tante Marisa.
Tok ..
Tok ..
Mata Irham dan Asna pun tersadar, mereka menghentikan aksi mereka itu yang kini tertuju pada suara di balik pintu.
"Pak Irham .. Makan malam sudah siap." teriak asisten itu dan suara itu menghilang.
"Irham .. Kita sudah sejauh ini, apa kamu sudah paham artinya?" lirih Asna yang masih merangkul pinggang Irham.
"Aku tahu, semua ini bukan mimpi. Terimakasih atas hati kamu yang mau menerimaku. Aku pastikan kita akan resmi menikah bukan?"
"Jangan cepat cepat, masih ada waktu. Aku saja harus berhadapan dengan mama kamu, apa mereka akan setuju ketika kamu menikahi aku yang pernah menikah?"
"Tidak ada yang menentang As, apa kamu percaya pada ucapanku, jika keluargaku tidak akan mempersulit kamu. Aku pastikan keluarga ku, akan melamar kamu lebih cepat."
"Baiklah, aku akan tunggu janji kamu." senyum Asna, kala Irham pun melepas jasnya kali ini.
"Sebaiknya kamu mandi, aku ke ruang makan lebih dulu ya."
"Engga usah, nanti aku suruh bibi makanannya di bawa ke atas, kita makan disini. Kamu lebih baik nonton televisi dulu, aku bersih bersih sebentar."
Irham pun merasa bagai mimpi, seolah semalam ia menahan adalah keberuntungan, dimana ia pastikan akan melamar Asna lebih cepat, bahkan sudah setahun lebih Asna sendiri dari status seorang janda, Irham ingin membahagiakan Asna begitu ada kesempatan, kejujuran Asna beberapa saat lalu, adalah hal terbahagia Irham selama ia mengenal Asna.
Asna yang sudah kembali membuat jus tomat, tak sangka saat ia ke kamar Irham ingin mengambil tasnya, sudah ada troli makanan di sana. Hal itu juga membuat Asna berfikir Irham masih di kamar mandi, namun begitu kaget saat Irham sudah menutup pintu dan menguncinya.
Krek .. Cetrek!
"Irham, bikin kaget aja. Kamu ngapain disitu?" tanya Asna.
"Aku mau melanjutkan kiss yang tertunda, apa aku boleh menyentuh ini lagi! Hanya ini saja!" jari Irham berada di bibir Asna.
"Irham, kamu enggak berniat ..?"
( Benarkah? Kalau begitu Tika dukung kakak melamar kak Asna, papa juga terlihat setuju. Tinggal kakak hubungi mama ya! ) pesan suara itu, diputar Irham dari ponselnya.
"Irham, kamu kabarin adik kamu dan papa kamu?"
"Hm .. Mereka setuju dan minta aku lamar kamu, tinggal mama. Dua kandidat terkuat udah setuju, jadi enggak mungkin mama aku melarang!"
Irham menarik pinggang Asna, hingga Asna jatuh duduk dipangkuan Irham kali ini, bahkan kali ini mata Asna sudah berkaca kaca, melihat Irham yang berpakaian piyama menyilang itu, begitu jelas membuat mata dan pikiran Asna bercabang.
Irham langsung mendekat, ketika tanpa penolakan Asna sudah menutup matanya, bukan tanpa alasan Irham segera meraup kesempatan, dimana mereka menyatukan kecupan syahdu yang membuat malam itu mereka mungkin akan bertingkah berlebihan.
Dalam beberapa saat berhenti, nafas mereka satu sama lain saling menatap, Irham membuka piyama itu dan membuat Asna hanya diam.
"Kita sudah dewasa As, aku pastikan minggu ini kita akad nikah! Resepsi kita di Amerika, papaku akan tiba tiga hari lagi, kita nikah secara sederhana dulu sebab berkas yang harus di urus. Tapi .."
"Apa kamu bisa menahan semua itu Ir?"
"Entahlah, aku sudah menggebu gebu As."
"Tapi Irham .. Kita .. ?!" Terdiam Asna, kala Irham sudah menggendongnya, dimana kali ini Irham melepas seluruh bajunya yang membuat Asna berdebar.
"Kamu mau apa Ir?"
"Aku hanya akan menyentuhmu dari luar saja, bantu aku! Aku sudah tidak tahan, andaikan berkas dan papaku tiba saat ini, aku ingin kita ijab hari ini juga."
Asna yang tahu Irham tidak pernah ingkar janji, maka ia melepas segala hasrat Irham dengan caranya juga, bahkan meski ini salah tapi Asna juga sama sama menginginkannya.
"Aku bersedia, berjanjilah setelah malam ini kita menikah secepat mungkin! Karena aku yakin aman, dan bahagia menjadi Nyonya Irham." balas Asna, membuat Irham senyum tanpa penolakan.
Irham dan Asna mereka saling beradu pemanasan, dimana sikap orang dewasa yang berdua saja, sudah tidak aman untuk mereka jaga. Mungkin pikiran Asna akan aman setelah ini, tanpa sadar yang mereka lakukan semakin dalam dan semakin liar adalah boomerang mereka yang tidak bisa menahan.
Ah ..
Uh ..
Mmm .. ( Asna menggigit bibir bawahnya, kala Irham sudah lebih jauh dari Irham yang pagi itu masih sangat waras )
TBC.