Skandal Cinta Ke Dua

Skandal Cinta Ke Dua
Pantai Sawarna


"Linda .. Bu Hasna, kenapa tidak ada di ruangannya?"


"Maaf pak Irham, tadi beliau bilang akan pergi keluar dan ponsel di matikan beberapa jam. Selebihnya saya tidak tahu."


"Tidak bilang mau pergi kemana?"


"Enggak pak."


Irham pun langsung pergi ke kantor pusat, dimana Perusahaan Bahrain berada di semanggi, ia pikir Asna akan berada disana, namun yang ia hubungi asistennya di kantor pusat pun tak ada, Irham merasa gundah apakah karena semalam, Asna marah padanya dan berniat menghindar darinya saat ini.


"Dimana sih kamu As, bikin aku khawatir aja." gerutunya.


Dan kali ini Irham benar benar pergi menyetir sendiri, tanpa sang supir. Ia juga merasa bersalah atas kejadian semalam yang terbawa suasana dan merasa hilangnya Asna ingin pergi lagi darinya.


'Apa kamu akan pergi lagi, sama seperti dulu As. Setidaknya nyalakan ponsel kamu, agar aku tahu kamu benar baik baik saja.' batin Irham, yang tidak karuan.


"Aku tahu kemana aku harus cari kamu." saat tangannya menyetir dan menempel bibir yang tergigit, ia memutar mobil ke arah suatu tempat yang mungkin Asna akan mampir ke tempat itu, dan harapan Irham Asna benar benar ada.


Sementara Asna kini ia berada di pantai Sawarna, ia duduk seorang diri. Meski perjalanan memakan dua jam lebih, kini Asna benar benar refresh ketika ia berjalan jalan di tepi pantai. Sebelumnya ia mampir ke musholla, lalu membersihkan diri dan hal ini membuat Asna benar benar nyaman, ketika duduk di ujung pantai dengan mengayunkan kakinya.


Asna ingat tempat ini adalah kenangan dirinya bersama ibunya, sebelum ia bertemu Irham dan Tante Marisa acara sekolah.


"Ibu, andai ibu ada. Kenapa ibu pergi secepat itu? Tahukan ibu, jika Irham putra satu satunya tante Marisa melamar Asna, bahkan Asna pernah menikah. Apakah ini adil untuk Irham, Asna merasa takut lagi ketika akan menjalani rumah tangga." lirihnya entah bicara pada siapa.


Sudah amat lama Asna duduk disana, perutnya benar benar sedikit keroncongan. Dimana ia yang akan berdiri, terkesiap ketika melihat seseorang yang berlarian dari jarak sedikit jauh, yang membuat mata Asna mengerenyitkan dengan tatapan tak biasa.


Irham yang telah memutar matanya, ia mengingat tempat favorite dirinya bertemu Asna kecil pertama kali, yang membuat ia langsung segera berlarian dan menuju wanita berpakaian kantoran, rambut curly namun di ikat satu, hal ini yang membuat mata Irham tahu, ia tidak salah ke tempat ini.


Asna aaaa ... ( Teriak Irham ) membuat Asna di ujung menoleh.


"Irham .. Lagi lagi ka-mu ..?" terdiam Asna, ketika Irham langsung saja memeluknya.


Bruk.


"Sejauh kamu pergi, aku yakin kamu aku temukan. Karena aku bisa tahu isi hatimu yang gelisah, kamu jangan lagi takut dengan kemungkinan yang membuat kamu stress Asna! Aku ingin menikahi mu apa adanya, apapun yang terjadi aku percaya takdirku hanya ingin bahagia dengan kamu, bukan wanita lain! Tolong jangan tinggalkan aku lagi!!" lirih Irham, dengan mode memeluk refleks.


"Irham kamu bicara apa sih?"


"Aku tahu kamu sedang bimbang, aku tahu kamu rindu dengan mama, tapi tolong jangan buat aku khawatir. Kamu pergi dengan ponsel di matikan, apa itu lucu?" tegas Irham, yang kini melepas pelukan, dan menatap wajah Asna.


"Aku semalam, aku minta maaf. Harusnya itu tidak terjadi, aku merasa rendah ketika a-ku."


"Lusa kita menikah, aku tidak perduli dengan masa lalu kamu. Dan masa yang kita akan lewati aku akan selalu bersama mu. Tolong jangan bimbang lagi!"


Asna mengalir deru air mata, andai saja pernikahan pertamanya adalah Irham, dan Asna tidak pernah jatuh cinta pada pria yang salah, hanya karena mereka berdua terpisah saat itu.


"Harusnya cinta pertama dan pernikahan pertamaku adalah kamu Irham, Kenapa Tuhan menakdirkan diriku bertemu Arga." lirih Asna yang menangis.


"Tapi kamu jahat, beberapa bulan tak merespon suratku, sehingga aku bertemu Arga. Dan saat itu juga, laptop dijual mama karena ia sakit. Jadi kita tidak bisa mengirim pesan lagi." jelas Asna, mode anak anak yang menangis di bidak Irham.


"Ssst .. Udah besar, kita makan yuks. Kemeja aku basah, kena air liur kamu." goda Irham.


"Hish .. Air mata, enak aja air liur."


"Bercanda As, sekarang sudahi ya nangisnya. Besok pagi aku akan pergi urus berkas berkas untuk Lusa kita panggil penghulu. Papaku nanti malam tiba sama adikku."


"Mama kamu gimana?" tanya Asna.


"Mama menyusul, lagi pula aku udah hubungi Ow Wira, paman kamu. Biar jadi saksi kita menikah."


"Acaranya apa enggak kita ijab di KUA aja, kalau perlu besok."


"As .. Apa kamu ingin cepat cepat?" goda lagi Irham.


Aw .. Aw .. ( Asna mencubit pinggang Irham )


"Kamu nyebelin deh, pake tanya lagi." gerutu Asna berharap Irham peka.


"Oke aku hubungi Asep, biar sore ini berkas selesai. Besok kita ke KUA, tapi resepsi aku ingin besar, sebab meski aku bukan yang pertama bagi pernikahan kamu As. Aku tetap ingin momen kita ini di ingat dan jadi pasangan bahagia." jelas Irham, membuat Asna benar benar seolah beruntung.


Irham pun merangkul pinggang Asna, lalu menyentuh bibir Asna dengan jari jari putih kokohnya, membuat Asna menatap sendu.


"Aku akan menahannya, meski aku merasa ada kesempatan, tapi kenapa ya kamu bikin aku rindu As. Aku jadi deg deg kan, karena aku bisa jadi imam kamu. Status kita berubah, jalan berdua gini bikin aku enggak ta-han." bisik Irham membuat Asna menggeleng kepala.


Kali ini Irham menggandeng tangan Asna, yang hendak makan di tepi pantai. Daerah banten, membuat Asna tenang di mana pemandangan laut biru, dimulai Irham memesan makan mie ayam dan air kelapa langsung dari buahnya, tak segan segan mereka makan di pinggiran pantai, sebab dengan gaya dan postur mereka yang rapih dan glowing pasangan itu, membuat tatapan pengunjung lain berbicara bisik bisik serasi.


'Nih pesanannya atuh, duh cocok sekali yang satu cantik, yang satu ganteng. Keren deui, pasti ti kota nya?' ujar penjual makanan itu dengan bahasa yang ramah.


"Iya pak, kami hanya sedang singgah saja. Makasih atas pujiannya." balas Irham, meraih mangkok mie ayam itu dan air kelapa hijau.


Asna dan Irham, duduk saling berhadapan, bahkan mereka tak malu untuk saling suap suapan bergantian. Hal ini membuat gemas penjual yang menanyakan dengan celetukan spontan.


"Pengantin ya mas, manis banget." ujar penjual kelapa hijau memberikan pada Irham.


"Iya besok kita pengantin, doain ya." senyum Irham lalu menoleh ke arah Asna.


"Oalah, iya deh semoga lancar. Harusnya mah jangan kemana mana, di pingit. Kalau gitu dari sini langsung pulang, kalau kata orang dulu mah PAMALI, habis dari sini langsung pulang ya!" ujar Penjual kelapa membuat Asna dan Irham senyum sempit.


"Makasih banyak pak, iya kami langsung pulang." balas Irham masih mode sopan.


TBC.