
Negosiasi antara Hasna dan Zack, yang dibantu Irham Bahrain berjalan dengan baik, dimana Zack tahu sisi Irham, maka hanya dengan perjanjian kontrak mereka sepakat.
"Baiklah, besok sekertaris saya bernama Laras, akan mengirim kembali berkas lainnya. Terimakasih karena pak Zack, mau bekerja sama dengan baik."
"Saya yang berterimakasih pada bu Hasna, sebab dengan kesepakatan ini meski saya tidak lagi ikut campur, saya masih bisa terselamatkan meski kerugian itu sangat fantastis, tapi dengan kesepakatan saya yang mendapat royalti, saya rasa anda bijak. Saya akan mengirimkan orang kepercayaan saya, Rian. Sebab saya yakin dia orang yang jujur, saya hanya merekomendasikan karyawan setia sejak perusahaan Nusa Sakti ini berdiri."
"Anda rupanya peduli sekali pak Zack, apakah Rian benar benar baik, jujur? Jika cerita nya seperti itu, saya akan lakukan untuk tidak memecat seluruhnya. Saya akan memecat yang bermasalah saja. Kalau begitu saya pamit!"
"Baik, sama sama bu Hasna. Pak Irham, senang bekerja sama dengan anda, semoga ke depannya semakin sukses."
"Sama sama Zack, saya pamit."
( Saling Berjabat Tangan )
Irham pun mengikuti langkah Asna, sebab hubungan antara keberadaannya amat berpengaruh, sebab itu ia datang sekaligus ingin mengetahui Asna yang memegang perusahaan di indonesia.
"Sepertinya kamu akrab ya dengan Zack?"
"Dia itu sebaya denganku, hanya saja dia terlalu pemikir, lihat saja kan. Dia terlihat usia 50 tahun, itu sebabnya aku ikut senang karena kamu memegang kendali di Nusa Sakti. Dengan begitu, Zack bisa hidup lebih tenang, dia kakak kelasku dahulu tapi kita seumuran."
"Tapi kau merasa di untungkan bukan? Sudahlah, aku tahu sikap peduli mu itu, ada maksud terselebung bukan?" tawa Asna pecah, dimana Irham ikut tertawa kali ini.
Dan kali ini Asna dan Irham kembali masuk ke dalam mobil, esok ia akan melihat wajah Arga dan Anita yang sudah digantikan posisinya, apalagi mungkin kelak Asna akan melihatkan dirinya di depan Arga, dia adalah Asna Wijaya yang selama ini dikenal penyakit aneh dan tua, tapi dihadapannya adalah wanita cantik dan seorang owner satu satunya milik PT NUSA SAKTI.
"Aku tidak tahu sikap ku dulu benar benar bodoh, membuat Arga masuk dan menjadi posisi Ceo di perusahaan pertama ku ini yang dulu kantor ini masih terlihat kecil, aku selisih setahun dari pak Rian. Tapi aku juga tidak tahu, bagaimana besok aku akan membuat Arga pada tempatnya lagi, aku yang membuat ia masuk ke PT ini, dan aku juga yang menyeret dirinya keluar dari perusahaan ini." lirih Asna, membuat Irham menoleh.
"Kamu masih cinta padanya ya? Masih terus saja di ingat ingat sih. Hehehe .." ledek goda Irham.
"Jika kamu serahkan kepada Rian bagaimana, setelah semua ini selesai. Bukankah dia jujur?" tanya Irham.
"Kalau aku serahkan sama Rian, aku ngapain disini? Kan aku Owner kedua loh disini, meski ini milik kamu sih." kecut Asna sedikit menunduk, dan di tertawai oleh Irham.
"Buka lagi usaha baru lah." ledek Irham, membuat Asna memutar mata.
"Kamu ini, selalu saja memperluas usaha udah kaya beli cemilan aja, kaya bisa dipegang aja semua perusahaan, kamu nya aja sibuk. Kalau kecolongan sama karyawan korupsi gimana?"
"Jalur hukum kan udah ada, bos kok turun tangan. Bos itu mengawasi." jelas Irham, membuat Asna senyum malas berdebat.
Perbincangan di dalam mobil itu pun, membuat Asna menoleh ke arah jendela, sebab itu Irham tahu, jika Asna masih sedikit canggung padanya, padahal sampai kapanpun ia ingin menunggu Asna, karena cintanya sejak kecil tidak pernah berubah meski Asna selalu anggap dirinya SAHABAT.
Irham ingin jujur setelah proyek ini selesai, namun entah mengapa dia merasa waktunya kurang pas, jika ia mengatakan menyukai Asna, bahkan ingin menikahinya dan tetap di Amerika bersamanya saja, namun ia urungkan untuk lain waktu saja bicara serius ini, sebab Irham merasa perlu melembutkan hati Asna, benar benar nama si brengsek Arga sudah tidak ada lagi di hati Asna.
"Irham .. Kamu lihat deh disana, sebrang toko Roti Unyil. Itu apa ya ..?" tanya Asna sedikit ingin tahu.
"Yang mana .. Oh .. Yang itu ya? Putaran warna warni lampu kedip kedip?" tanya balik Irham.
"Iya, yang itu. Rame banget loh."
"Pasar malam, sebelahnya PRJ. Kamu mau kita kesana, sekalian cari makan malam?" tawar Irham, membuat mata Asna sedikit menoleh.
TBC.